Senin, 23 November 2015

La Vita Nuova



Benarkah  sekat antara dunia imajinasi dan kegilaan itu  tipis sekali?  Dalam banyak kasus, ketika manusia tidak berpijak pada realitas, dan iman yang membingkai,  mungkin ia akan menemukan puncak-puncak  output kreativitasnya, berupa karya yang memiliki daya ledak. Namun, apakah daya ledak puncak-puncak kreativitas itu akan membimbing ummat manusia pada pencerahan, ataukah sebaliknya? Apakah kreativitas itu akan membawanya pada penerangan budi pada dirinya sendiri, ataukah tidak?


Novel Inferno karya  Dan Brown banyak terilhami  oleh buku  The Divine Comedy karya Dante Alighieri.  Di samping  menulis The Divine Comedy,  Dante  menulis sebuah kumpulan puisi, La Vita Nuova.  Puisi  itu di latar belakangi oleh penggalan hidup Dante yang tak bisa  menggenapi hidup atas  cintanya  pada Beatrice Portinari.  Dante menikah dengan Gemma Di Manetto Donati. Namun, sekalipun mereka memiliki  putra, pasangan itu tidak menyiratkan  bahwa mereka saling mengasihi. Sebagian  hidup Dante berada di  dunia khayalan.   Beatrice Portinari  menjadi ilham dalam imajinasinya yang menjadi karya-karya besarnya.


Dalam kisah dunia patah hati lainnya yang terkenal, seperti Sayap-Sayap Patah, karya Khalil Gibran, Romeo and Juliet, karya Shakespeare,  sampai  Laila Majnun,  memberikan inspirasi besar, bagaimana menikmati patah hati yang menyayat hati  dengan cara yang  amat  melankolis dan dramatis. Perih yang masuk dalam labirin perasaan tanpa menemukan jalan pembebasan.  Dan tak berusaha menebas.  Menyikapi  kesedihan dengan cara yang amat menyedihkan.


Credit Image : The Divine Comedy by Lewis Caroll - www. comediva.com


Kegelisahan  Sebagai Alat

Proses kreativitas  seringkali  muncul dari  alam kegelisahan, bukan ketenangan. Di tangan seorang sastrawan, kesedihan yang mendalam  membuat dadanya penuh.  Untuk melepaskannya ia harus menulis. Dari penghayatannya atas duka,   seorang sastrawan yang baik dapat  melukiskan perasaan dengan cara yang  amat liris, dramatis dan  menyentuh.  Dalam karya sastra, sang tokoh  belum tentu  dirinya sendiri, kebanyakan justru membincangkan dan menghayati orang lain sebagai tokoh dalam cerita. Seorang sastrawan yang baik, mampu menggambarkan perasaan  cinta.  Cinta yang  memberikannya euforia perasaan yang meledak-ledak, bersatu dengan kegelisahan, rasa sakit, kegalauan, romantisme, kerinduan dan cekaman-cekaman perasaan lainnya. Aneka rupa perasaan itu memberinya kekayaan  kosa kata yang tak terhingga untuk melukiskan  sejuta rasa.  Imajinasinya   menciprat-ciprat di dalam benak,


Dunia dalam karya sastra kebanyakan bukan dunia realitas, melainkan dunia imajinasi, dunia khayal. Realitas itu fakta sebagaimana adanya, sastra memberikan sentuhan dengan memberinya cita rasa.  Seakan semuanya ada, padahal tiada.   Dunia realitas ini menyakitkan.  Tetapi,  bagi sebagian orang yang bermain di alam imaji,   dapat  menemukan kehangatan yang menyamankan jiwanya sebagai pelepasan.  Sekalipun  beberapa di antaranya terlihat sebagai  pelepasan semu.


Sebenarnya, tulisan-tulisan para sastrawan tentang cinta, dapat membantu orang memetakan perasaannya, tentang masa lalu, masa kini dan memetakan sebagian kehidupannya. Imajinasi mereka membantu kita  melihat bahan dasar  aneka perasaan kita yang sesungguhnya.   Tulisan-tulisan mereka banyak yang mewakili  kehidupan kita, sekalipun penuh dengan dramatisasi yang tak masuk akal.  Sesuatu yang tidak masuk akal  dan mengada-ada justru  menarik adrenalin  manusia untuk mengetahuinya.


Itulah mungkin yang membuat imajinasi dan khayalan-khayalan mereka dapat menjadi penghiburan bagi manusia yang mengganggap dirinya normal, untuk  melepaskan kebosanan melihat  fakta-fakta dengan alur yang partitur.  Mereka ingin melongok dunia lain. Jadi,  imajinasi dan kegilaan-kegilaan  mereka seakan hiburan yang  dinanti-nantikan.  Selain menjadi hiburan, tulisan-tulisan dari alam imaji dan juga kisah sesuatu, dapat menjadi pembanding dan rujukan serta alat internalisasi diri.

Credit Image : rivyakinvadymm.blogspot.com



Hidup Dalam Bayang-Bayang

Kembali kepada buku La Vita Nuova -  buku  persembahan cinta  Dante pada Beatrice. La Vita Nuova,  mengingatkan saya pada kisah cinta seorang pujangga,  Amir Hamzah,  kepada gadis dari Pulau Jawa yang bernama Sundari.  Para kekasih bayangan  ini  menjadi ilham besar dalam puisi.  Dante dan Amir Hamzah   memiliki karya yang monumental,  karena salah  satu kakinya berpijak  dalam dunia bayang-bayang.  Mereka   ‘terperangkap’  dalam dunia imajinasi dan penyangkalan atas realitas,  serta hanyut dalam perasaan yang diciptakannya.   Mereka tak sanggup menghentikan dan mendobrak labirin perasaan yang memenjarakannya atas perihnya  melihat kenyataan. Realitas itu menyakitkan, dan mereka melarikan diri ke alam impian. Ataukah karena sebagian  sastrawan seperti  ini, hidup dalam dunia perasaan yang membuat dirinya sukar berpikir logis? Ataukah seluruh perasaan itu sengaja dipelihara agar tetap dalam  selalu bertahan di puncak-puncak kreativitas? Hanya  penulis sendiri yang tahu.


Idealnya, alam imajinasi dan pengetahuan, dengan banyaknya membaca dan menulis,     membuat orang tercerahkan dan menemukan jalan, serta cara membebaskan diri dari himpitan perasaan.  Tetapi, dunia ini memang jalan ceritanya seperti itu, selalu memiliki tamsilnya sendiri-sendiri yang diwakili berbagai karakter dan permasalahan-permasalahan manusia. Tinggal pembacanya yang sebaiknya hati-hati memaknai, agar bacaan-bacaan  dari dunia patah hati  tidak menjadi  bahan rujukan utama dalam mengambil langkah, karena akan menyulitkan move on. Ketika diinternalisasikan, akan membuat seseorang yang memiliki kesamaan pengalaman  semakin galau. Tetapi, buku-buku yang memuja cinta secara membabi-buta, banyak gunanya untuk  dijadikan salah satu kekayaan membuat sudut pandang dan  perasaan  senasib.


Ketika menemukan banyak buku-buku patah hati di toko buku,  saya selalu teringat pada Leo Tolstoy, Anthony de Mello dan Jalaluddin Rumi. Mereka mengajarkan,  hanya cinta kepada Tuhan yang merangkum segala, di mana manusia akan menemukan kemerdekaan dan pembebasan dari kemelekatan. Sekalipun pasti sulit melerai perasaan, namun manusia perlu belajar untuk mendewasakan sudut pandang tentang cinta itu sendiri. Cinta dipandang  Rumi dan de Mello tidak dengan cara menggenggam erat-erat, namun ikhlas melepaskan. Mereka melihatnya dengan sangat sederhana, apa yang dapat digenggam jika semuanya akan berpulang pada Tuhan,  dan waktu hidup yang telah ditakar jadwal seberapa lama boleh bernafas?   Rumi dan de Mello menganggap, dramatisasi cinta dengan memuja  seorang manusia itu terlalu berlebihan.  Cinta Tuhan dan mencintai Tuhan adalah puncak-puncak  yang paling megah di antara seluruh perasaan. Sedangkan, cinta manusia kepada manusia adalah bangunan perasaan yang sangat  rapuh, bila tanpa melibat luruh dalam Tuhan.


Tapi,  tiap orang memiliki selera dan pilihannya sendiri. Seperti halnya  karya sastra memang untuk sastra.  Karya sastra itu memotret, tak harus selalu membuat solusi yang bijak menyikapi. Karya sastra  membuat tokoh ‘telanjang’ dan apa adanya, tak memanipulasi karakter.  Ini   membuat sang tokoh  dalam alur cerita dan karakter penulis, entah di tokoh mana yang ia munculkan, menjadi dirinya sendiri.  Mungkin di sisi itu yang akan membuatnya  menarik. Ketika buku-buku  sampai di tangan pembaca, kekuasaan dan kekuatan pikiran  pembaca yang  membingkai serta  memaknainya.








1 komentar:

  1. Artikel yang menarik..karya epik Dante tentang cinta, yang mulanya tampak seperti 'cinta monyet'.... ... Saya ingin berbagi wawancara dengan Dante Alighieri (imajiner) di http://stenote-berkata.blogspot.hk/2017/12/wwancara-dengan-dante.html

    BalasHapus