Mencari Belahan Jiwa
Dalam Dialog, Symposium, Plato, Aristophanes mengajukan sebuah
pernyataan tentang belahan jiwa. Aristophanes menyatakan
bahwa manusia awalnya adalah satu. Ia memiliki empat
lengan, empat kaki, dan satu kepala yang terbuat dari dua wajah, dengan dua kelamin berjenis pria dan wanita. Ke mana-mana mereka selalu bersama dan
mempertontonkan ‘kemesraan’ mereka dengan cara yang amat sombong dan demostratif. Kelakuan itu membuat para dewa
merasa cemburu. Bukan hanya sekedar cemburu, para dewa merasa, bahwa mereka akan menjadi makhluk
tandingan yang sangat kuat dan akan
mengancam kekuasaan mereka. Akhirnya, Dewa Zeus menghukum manusia, dan membelahnya menjadi dua, menjadi pria dan wanita. Raga mereka dijauhkan. Ketika mereka
berjauhan, kerinduan akan belahan jiwanya terus memanggil. Di kemudian hari, mereka akan saling mencari belahan jiwanya yang hilang agar mereka kembali bersama. Belahan jiwa itu yang disebut sebagai kekasih
sejati, atau jodoh.
Boleh jadi karena terilhami oleh Plato, Paulo Coelho menulis novel berjudul, Brida. Novel ini menceritakan tentang seorang perempuan yang sedang mencari jati diri dan tertarik pada dunia magis. Ketertarikan itu membawanya kepada seorang lelaki yang hampir setengah usianya. Ketika mereka bertemu, lelaki itu melihat ada tanda-tanda bahwa Brida adalah perempuan yang selama ini ia nantikan. Alam semesta memberi isyarat, bahwa Brida adalah belahan jiwanya. Tetapi, lelaki ini kemudian menyadari, tak mungkin baginya memaksakan diri untuk menikah dengan belahan jiwanya, karena Brida terikat tunangan dengan lelaki yang lembut, intelek dan baik hati. Sekalipun Brida sesaat bimbang, lelaki itu mendorong Brida untuk tetap berkomitmen dengan kekasihnya. Cukuplah bagi lelaki itu diperlihatkan, di dunia ini ia telah dipertemukan oleh semesta raya dengan belahan jiwanya. Pertemuan sesaat itu telah membuat lelaki itu amat bahagia.
Benarkah belahan jiwa itu ada?
Menelusuri Jejak
Perasaan
Seraya tetap penuh hormat yang sangat dalam kepada Plato, sang filsuf
Yunani. Pernyataan tentang adanya satu
jiwa di dalam dua tubuh dengan dikaitkan atas nama belahan jiwa, sebuah cinta
sejati, sugguh telah mendorong
orang menyusuri drama cinta
sepanjang hidupnya. Ada yang meyakini, bahwa cinta pertama adalah cinta yang
paling murni, karena di dalamnya
seringkali tak ada kalkulasi dan motif tersembunyi, kecuali mengikuti rasa
cinta itu sendiri. Itulah cinta sejati.
Karenanya, bagi banyak orang, cinta pertama, sekaligus sebuah cinta
monyet, adalah peristiwa yang paling berkesan selama hidupnya. Sampai di
kalimat ini, sekarang pejamkan matamu... lalu,
bayangkan sosok itu. Engkau sekarang sedang tersenyum bukan? Rona wajahmu menjadi berseri-seri mengingat
bagaimana pertama kalinya di dalam hidup, engkau jatuh cinta.
Setelah itu, ternyata cinta pertama tak berlangsung lama, ada cinta ke-
dua, ke-tiga, ke-empat, dan seterusnya.
Ketika jatuh cinta, orang seringkali merasa, dia-lah sosok yang
sempurna, dia lah yang selama ini ia cari, sebagai belahan jiwa. Untuk urusan
belahan jiwa ini, secara vulgar dan ekspresif, para artis di acara infotainment
mempertontonkan kemesraannya, dan memuji-muji kekasihnya, seakan tak ada sosok
lain yang lebih hebat, kecuali si dia. Seperti juga perbincangan kaum
perempuan, jika berbicara tentang 'cowok'
dan perlakuan hangatnya kepada mereka menjadi topik yang yang bisa
dibahas tanpa bosan selama berjam-jam.
Sedangkan para lelaki sebagai makhluk visual, mereka umumnya akan lebih asyik
jika membincangkan perempuan secara fisik.
Tetapi, pujian-pujian itu umumnya nyaris tak berlangsung lama. Jatuh cinta
itu tak lebih dari sekedar euforia perasaan.
Setelah dijalani, baru mengerti, betapa
banyak cacat dan kekurangan kekasihnya, atau pasangan hidupnya. Puisi-puisi untuk memuja cinta dari para
pujangga, menjadi tak berlaku ketika sudah berhadapan dengan sang waktu.
Lagu-lagu cinta yang membuai untuk mendramatisasi perasaan, pada akhirnya akan
diuji dengan realitas. Bahwa cinta tak semerdu nada-nada lembut dan melankolis.
Pada sebuah titik, ketika pandangan dan
karakter sulit dipertemukan, akhirnya mereka menyerah kalah. Betapa sulitnya
rasa asmara untuk dijadikan topangan. Cinta dan benci itu
sekatnya amat tipis. Setelah itu, mereka
berkata, bahwa kami tak ada kecocokan. Mungkin dia bukan belahan jiwaku.
Belahan jiwaku dan cinta sejatiku, ada berada
di luar sana. Entah siapa? Kemana
lagi akan melayangkan pikiran? Ketika
mencari lagi di luar sana, barangkali saja sang belahan jiwa masih berkeliaran.
Belahan jiwa dalam khayalan adalah orang yang cocok dan memiliki
kepribadian dan pandangan-pandangan hidup serupa dengannya. Kembali, ketika manusia mencari, akan terhenti pada sebuah titik di mana semua orang tak akan pernah ada yang serupa, yang ada hanyalah
kemiripan-kemiripan karakter, type hati yang mirip. Mirip bukan berarti sama. Manusia itu memiliki pribadi yang sangat unik.
Suami dan istri yang telah terikat
janji suci pernikahan, itu adalah takdir yang telah diambil. Ketika banyak
peristiwa yang tidak menyamankan hati karena beberapa tingkah lakunya yang
sulit disetujui, ia akan mengajarkan
kepada kita untuk berlatih kesabaran, kebaikan dan toleransi. Socrates, guru
dari Plato berkata, "Jika istrimu (pasanganmu) berperangai buruk, kau akan
jadi filosof." - Boleh jadi ini
berdasarkan pengalaman pribadi Socrates karena istrinya teramat rese'.- Apalagi yang akan diperjuangkan
di dalam rumah tangga, ketika layar sudah terkembang di samudera, selain
menjaga komitmen dan tanggung jawab.
Belahan Jiwa Sejati
Hidup ini, bukanlah dongeng Putri Tidur yang menunggu ciuman sang
Pangeran. Akhir hidup yang indah, bukan
pula seperti dongeng Cinderella yang
kelak hidup berbahagia untuk selama-lamanya dengan putra mahkota raja. Jika kesempurnaan hidup ini dimaknai hanya
semata-mata adanya pertemuan dengan pasangan hidup dari bagian tubuh yang hilang, entah dari tulang rusuk atau dua
makhluk dalam satu tubuh, bagi sebagian orang terasa sebagai penyempitan makna. Dengan asumsi, jika belahan jiwa itu adalah hanya satu di
dunia ini, mengapa hati terhubung dengan
banyak orang, entah pria dan wanita, lalu merasa ia telah menjadi bagian yang begitu dalam hidup dan perasaan? Mereka itu adalah keluarga, sahabat atau
mungkin teman satu kelompok tertentu. Lainnya lagi, mengapa
pula para pria banyak yang
poligami?
Bagi Ibnu Sina, ilmu pengetahuan dan melakukan penelitian-penelitian ilmiah
adalah belahan jiwanya. Produktifnya menulis dan dedikasinya untuk ilmu
pengetahuan membuat ia tak terobsesi
dengan "belahan jiwa", agar meninggalkan jejak untuk semesta dan estafet
peradaban. Ibnu Sina mewariskan 450 buah buku yang sangat penting sebagai
cikal bakal pengetahuan modern. Untuk
Bunda Teresa, orang-orang sakit dan lemah adalah belahan jiwanya. Para
pelayan kemanusiaan melihat,
cinta ekslusif dan menjadikan seorang saja dalam hidup sebagai belahan
jiwa membuat hidupnya terasa tak berarti Bagi jiwa yang penuh kasih sayang, semua
manusia dan makhluk di semesta raya ini adalah belahan jiwanya, tanpa kecuali. Keutuhan
jiwa tidak hanya dimaknai dalam arti yang sangat sempit, sebatas pria dan
wanita. Itulah yang membuat mereka merasa jiwanya utuh dan bermakna.
Mengakhiri tulisan ini, sesungguhnya saya ingin menulis kalimat penutup
yang manis. Sayangnya, terlanjur 'terganggu' oleh syair Jalaluddin Rumi
yang melintas di perasaan yang jauh
lebih indah. Tidak tahu, apakah nyambung atau tidak dengan paparan di atas. Tetapi, nikmati
saja, ya... :
Jika kita
mencintai, cinta kita bukanlah dari kita, atau bukan untuk kita.
Jika kita
bergembira, kegembiraan kita tidak ada dalam diri kita, tetapi dalam
Kehidupan itu sendiri.
Jika kita berduka, sakit kita tidak berada dalam
luka kita, tetapi di dalam jantung Alam.
Aku tidak akan mengeluh; Aku percaya pada arti sebuah kepahitan yang ada dalam setiap obat yang aku minum dari cangkir Kehidupan.Aku percaya pada keindahan dukacita yang menembus hatiku. Aku percaya pada kasih sayang abadi dari jari-jari kuat yang mencengkram jiwaku.
_____
Catatan : Tulisan ini telah dimuat dalam buku saya : "Obrolan di Kedai Plato" (2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar