Sabtu, 21 November 2015

Mencari Belahan Jiwa

Mencari  Belahan Jiwa





Dalam Dialog, Symposium, Plato,  Aristophanes mengajukan sebuah  pernyataan   tentang belahan jiwa. Aristophanes menyatakan bahwa manusia awalnya adalah satu. Ia memiliki empat lengan, empat kaki, dan satu kepala yang terbuat dari dua wajah, dengan dua kelamin berjenis pria dan wanita.   Ke mana-mana mereka selalu bersama dan mempertontonkan ‘kemesraan’ mereka dengan cara yang  amat sombong dan  demostratif. Kelakuan itu membuat para dewa merasa cemburu. Bukan hanya sekedar cemburu, para dewa  merasa, bahwa mereka akan menjadi makhluk tandingan yang sangat kuat dan akan  mengancam kekuasaan mereka. Akhirnya, Dewa Zeus menghukum manusia, dan membelahnya  menjadi dua, menjadi pria dan wanita.  Raga mereka dijauhkan. Ketika mereka berjauhan, kerinduan akan belahan jiwanya terus memanggil.  Di kemudian hari, mereka akan saling  mencari belahan jiwanya yang hilang  agar mereka kembali bersama.  Belahan jiwa itu yang disebut sebagai kekasih sejati, atau jodoh.



Boleh jadi karena terilhami oleh Plato, Paulo Coelho menulis  novel berjudul, Brida. Novel ini menceritakan  tentang seorang perempuan yang sedang mencari jati diri dan tertarik pada dunia magis. Ketertarikan itu membawanya kepada seorang lelaki yang hampir setengah usianya. Ketika mereka bertemu, lelaki itu melihat ada tanda-tanda bahwa Brida adalah perempuan yang selama ini ia nantikan. Alam semesta memberi isyarat, bahwa Brida adalah belahan jiwanya. Tetapi, lelaki ini kemudian menyadari, tak mungkin baginya memaksakan diri untuk menikah dengan belahan jiwanya, karena Brida terikat tunangan dengan lelaki yang lembut, intelek dan baik hati. Sekalipun Brida sesaat bimbang, lelaki itu mendorong Brida untuk tetap berkomitmen dengan kekasihnya. Cukuplah bagi lelaki itu diperlihatkan, di dunia ini ia telah dipertemukan oleh semesta raya dengan belahan jiwanya. Pertemuan sesaat itu telah membuat lelaki itu amat bahagia.


Benarkah belahan jiwa itu ada?



Menelusuri  Jejak Perasaan

Seraya tetap penuh hormat yang sangat dalam kepada Plato, sang filsuf Yunani. Pernyataan tentang  adanya satu jiwa di dalam dua tubuh dengan dikaitkan atas nama belahan jiwa, sebuah cinta sejati, sugguh telah mendorong  orang  menyusuri drama cinta sepanjang hidupnya. Ada yang meyakini, bahwa cinta pertama adalah cinta yang paling murni, karena  di dalamnya seringkali tak ada kalkulasi dan motif tersembunyi, kecuali mengikuti rasa cinta itu sendiri. Itulah cinta sejati.  Karenanya, bagi banyak orang, cinta pertama, sekaligus sebuah cinta monyet, adalah peristiwa yang paling berkesan selama hidupnya. Sampai di kalimat ini, sekarang pejamkan matamu... lalu,  bayangkan sosok itu. Engkau sekarang sedang tersenyum bukan?  Rona wajahmu menjadi berseri-seri mengingat bagaimana pertama kalinya di dalam hidup, engkau jatuh cinta.


Setelah itu, ternyata cinta pertama tak berlangsung lama, ada cinta ke- dua, ke-tiga, ke-empat, dan seterusnya.  Ketika jatuh cinta, orang seringkali merasa, dia-lah sosok yang sempurna, dia lah yang selama ini ia cari, sebagai belahan jiwa. Untuk urusan belahan jiwa ini, secara vulgar dan ekspresif, para artis di acara infotainment mempertontonkan kemesraannya, dan memuji-muji kekasihnya, seakan tak ada sosok lain yang lebih hebat, kecuali si dia. Seperti juga perbincangan kaum perempuan, jika berbicara tentang 'cowok' dan perlakuan hangatnya kepada mereka menjadi topik yang yang bisa dibahas  tanpa bosan selama berjam-jam. Sedangkan para lelaki  sebagai makhluk visual, mereka umumnya akan lebih asyik jika membincangkan perempuan secara fisik.


Tetapi, pujian-pujian itu umumnya nyaris tak berlangsung lama. Jatuh cinta itu tak lebih dari sekedar euforia perasaan. Setelah dijalani, baru mengerti,  betapa banyak cacat dan kekurangan kekasihnya, atau pasangan hidupnya.  Puisi-puisi untuk memuja cinta dari para pujangga, menjadi tak berlaku ketika sudah berhadapan dengan sang waktu. Lagu-lagu cinta yang membuai untuk mendramatisasi perasaan, pada akhirnya akan diuji dengan realitas. Bahwa cinta tak semerdu nada-nada lembut dan melankolis.  Pada sebuah titik, ketika pandangan dan karakter sulit dipertemukan, akhirnya mereka menyerah kalah. Betapa sulitnya rasa  asmara  untuk dijadikan topangan. Cinta dan benci itu sekatnya amat tipis.  Setelah itu, mereka berkata, bahwa kami tak ada kecocokan. Mungkin dia bukan belahan jiwaku. Belahan jiwaku dan cinta sejatiku, ada berada  di luar sana. Entah siapa?  Kemana lagi  akan melayangkan pikiran? Ketika mencari lagi di luar sana, barangkali saja sang belahan jiwa   masih berkeliaran.


Belahan jiwa dalam khayalan adalah orang yang cocok dan memiliki kepribadian dan pandangan-pandangan hidup serupa dengannya.  Kembali, ketika manusia mencari,  akan terhenti pada sebuah titik di mana  semua orang tak akan pernah ada  yang serupa, yang ada hanyalah kemiripan-kemiripan karakter, type hati yang mirip. Mirip bukan berarti sama.  Manusia itu memiliki pribadi yang sangat unik.


Suami dan istri  yang telah terikat janji suci pernikahan, itu adalah takdir yang telah diambil. Ketika banyak peristiwa yang tidak menyamankan hati karena beberapa tingkah lakunya yang sulit disetujui, ia  akan mengajarkan kepada kita untuk berlatih kesabaran, kebaikan dan toleransi. Socrates, guru dari Plato berkata, "Jika istrimu (pasanganmu) berperangai buruk, kau akan jadi filosof." - Boleh jadi ini  berdasarkan pengalaman pribadi Socrates karena istrinya teramat rese'.- Apalagi yang akan diperjuangkan di dalam rumah tangga, ketika layar sudah terkembang di samudera, selain menjaga  komitmen dan tanggung jawab.   





Belahan Jiwa Sejati

Hidup ini, bukanlah dongeng Putri Tidur yang menunggu ciuman sang Pangeran.  Akhir hidup yang indah, bukan pula seperti dongeng  Cinderella yang kelak hidup berbahagia untuk selama-lamanya dengan putra mahkota raja.  Jika kesempurnaan hidup ini dimaknai hanya semata-mata adanya pertemuan dengan  pasangan hidup dari bagian tubuh  yang hilang, entah dari tulang rusuk atau dua makhluk dalam satu tubuh, bagi sebagian orang terasa sebagai  penyempitan makna. Dengan asumsi,  jika belahan jiwa itu adalah hanya satu di dunia ini, mengapa hati  terhubung dengan banyak orang, entah pria dan wanita, lalu  merasa ia telah menjadi bagian yang begitu  dalam hidup dan perasaan?  Mereka itu adalah keluarga, sahabat atau mungkin teman satu kelompok tertentu. Lainnya lagi,   mengapa  pula para  pria banyak yang poligami?


Bagi Ibnu Sina, ilmu pengetahuan dan melakukan penelitian-penelitian ilmiah adalah belahan jiwanya. Produktifnya menulis dan dedikasinya untuk ilmu pengetahuan  membuat ia tak terobsesi dengan "belahan jiwa", agar  meninggalkan jejak untuk semesta dan estafet peradaban.  Ibnu Sina mewariskan  450 buah buku yang sangat penting sebagai cikal bakal pengetahuan modern. Untuk  Bunda Teresa, orang-orang sakit dan lemah adalah belahan jiwanya.  Para  pelayan kemanusiaan melihat,  cinta ekslusif dan menjadikan seorang saja dalam hidup sebagai belahan jiwa membuat hidupnya terasa tak berarti  Bagi jiwa yang penuh kasih sayang, semua manusia dan makhluk di semesta raya ini adalah belahan jiwanya, tanpa kecuali. Keutuhan jiwa tidak hanya dimaknai dalam arti yang sangat sempit, sebatas pria dan wanita. Itulah yang membuat mereka merasa jiwanya utuh  dan bermakna.



Mengakhiri tulisan ini, sesungguhnya saya ingin menulis kalimat penutup yang manis. Sayangnya, terlanjur 'terganggu' oleh syair Jalaluddin Rumi yang  melintas di perasaan yang jauh lebih indah. Tidak tahu, apakah  nyambung  atau tidak dengan paparan di atas. Tetapi, nikmati saja, ya... :


Jika kita mencintai, cinta kita bukanlah dari kita, atau bukan untuk kita.
Jika kita bergembira, kegembiraan kita tidak ada dalam diri kita, tetapi dalam Kehidupan itu sendiri.
Jika kita berduka, sakit kita tidak berada dalam luka kita, tetapi di dalam jantung Alam.

Aku tidak akan mengeluh; Aku percaya pada arti sebuah kepahitan yang ada dalam setiap obat yang aku minum dari cangkir Kehidupan.Aku percaya pada keindahan  dukacita yang menembus hatiku.
Aku percaya pada kasih sayang abadi dari jari-jari kuat yang mencengkram jiwaku.


 _____
Catatan : Tulisan ini telah dimuat dalam  buku saya : "Obrolan di Kedai Plato" (2014)










Tidak ada komentar:

Posting Komentar