Sabtu, 21 November 2015

Kesalahanku Adalah Bertemu Denganmu



“Kesalahanku adalah bertemu denganmu..”  tulis salah satu status  seorang perempuan di jejaring sosial.  Terdengar labil dan  galau. Mungkin karena pertemuan itu berkembang di luar harapannya.  Ia merasa ada  ketimpangan antara yang dipikirkan dan dibayangkan  tentang orang yang dimaksud dengan realitas yang sesungguhnya.  Ia kecewa.  Atau, mungkin pula ia patah hati.

Dalam siklus komunikasi, ada tahapan perkenalan, penjajakan, mengembangkan hubungan, lalu setelah itu ada perusakan hubungan.  Pada saat pertama melihat seseorang dan  merasa tertarik,  manusia umumnya   melakukan  pejajakan.  Pertama-tama orang tertarik pada seseorang biasanya  cenderung melihat  penampilan fisik dan yang menyertainya.   Setelah itu, orang kebanyakan  berguguran  pada saat tahap  penjajakan.  Terutama, ketika  sosok yang membuat kita tertarik mulai berbicara  dan memperlihatkan bahasa tubuhnya.  Banyak orang-orang yang tampil modis dan memikat, namun ketika berbicara nampak kurang smart, wawasannya terbatas dan membosankan, bahasa tubuhnya tidak nyaman.   Setelah itu, orang cenderung  mundur perlahan.


Apabila dalam penjajakan  merasa ‘klik’, biasanya  orang mengembangkan  hubungan  lebih  dalam.  Di antara keduanya  saling membuka diri, dan membuat ikatan-ikatan persahabatan atau pertemanan.  Mereka bisa bercerita apa saja, dan berbincang apa pun dengan nyaman.  Tetapi, apabila  ada  kesalahfahaman, pengembangan hubungan ini seringkali  layu di tengah jalan. Boleh jadi bahkan akan muncul perusakan hubungan, lalu mereka akan saling melukai perasaan. Atau, boleh jadi menjauh atau  mundur perlahan-lahan,  sekalipun tanpa  dikatakan.  Hanya membutuhkan kepekaan perasaan saja untuk mengetahuinya.



Sulitnya Memelihara Hubungan

Hal yang paling sulit dalam fragmen persahabatan adalah memelihara hubungan. Untuk memelihara hubungan ini dibutuhkan saling pengertian, dan kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan orang. Pada keterbatasan itu terangkum di dalamnya adalah kekuatan karakter, waktu yang bisa diluangkan, kesibukan-kesibukan, kondisi kesehatan, jarak, usia,  jenis kelamin, minat, pengalaman masa lalu dan sebagainya.  Tidak semua perenggangan hubungan itu ditafsirkan dengan negatif, salah satunya,  kesibukan-kesibukan seseorang  dapat memengaruhinya.  Dan laki-laki tidak membutuhkan intensitas komunikasi lebih kerap dibanding dengan perempuan.  Sebaliknya,  umumnya perempuan  memiliki kebutuhan komunikasi lebih tinggi, untuk meyakinkan perasaannya, bahwa semuanya masih baik-baik saja.


Umumnya, orang yang bersahabat memiliki karakter-karakter  dan minat yang mirip satu sama lain. Karena itu, jika ingin melihat  seseorang sebagai premis awal, lihat teman-temannya yang menelikunginya, karena orang tersebut minat atau karakter pribadinya tak jauh dari itu. Persahabatan maya berbeda dengan persahabatan di dunia nyata. Persahabatan maya jauh lebih rumit, karena  dunia maya hanya  bertumpu hanya pada kata-kata. Dunia maya  bukan ‘dunia yang wajar’ bahkan terlalu sensitif.  Kata-kata itu multitafsir. Dunia maya itu tidak utuh memotret kehidupan dan pribadi seseorang. Karena itu, jarang terjadi persahabatan maya yang dapat bertahan dalam rentang waktu yang panjang. Apalagi apabila terjadi kesalahan penafsiran, tidak mudah untuk  dilerai, karena masing-masing akan berbincang dengan pikirannya sendiri-sendiri. Persahabatan maya lebih mudah menyulut dan memelihara  prasangka.  Sedangkan persahabatan di dunia nyata apabila ada kesalahpahaman mudah diselesaikan. Pertemuan  face to face, berbincang dari hati ke hati dapat segera meredakan ketegangan. 


Satu hal yang pasti dibutuhkan dalam persahabatan, baik persahabatan maya atau pun persahabatan di dunia nyata,  adalah menjaga kepercayaan  dan permakluman.  Dan tentu
saja, sebaiknya tidak membiasakan membuat ekspetasi  berlebihan pada seorang manusia,  pun itu pada seorang sahabat. Banyak berharap pada kebaikan hati manusia seringkali hanya menuai kekecewaan.





Tak  Ada Kesalahan Dalam Pertemuan.

Pertemuan dan perpisahan adalah sebuah hukum alam. Sepanjang kehidupan ini, tak ada yang konstan. Sahabat, dan teman, atau bahkan suami dan istri, mereka itu seperti lilin yang menyala, hanya menunggu akhir padamnya saja.   Sikap orang berubah, itu juga hal yang alamiah,  karena manusia itu makhluk dinamis, bukan makhluk statis. Pikiran manusia berkembang, menemukan hal-hal yang baru, memperoleh sudut pandang baru dalam sebuah relasi hubungan, lalu mereka mengevaluasi kebersamaan. Di dalam dada manusia bersemayan perasaan yang sama,  benci, rindu, cinta dan seluruh tumpah ruah rasa.  Perbedaannya hanya dalam cara menyikapi, yang bergantung pada kelapangan jiwa dan kekayaan sudut pandang seseorang.  Karena itu, tak ada kesalahan dalam pertemuan dengan siapa pun.  Bertemu  dengan seekor semut sekalipun, sampai berjumpa dengan seseorang yang  dianggap bajingan.

Seluruh manusia yang hadir di dalam hidup ini  dialirkan oleh  semesta. Bertemu dengan siapa pun tak ada  terjadi begitu saja dengan kebetulan. Teman-teman, sahabat-sahabat, tetangga-tetangga dan juga tentunya keluarga adalah orang-orang yang berharga di dalam hidup kita apa pun rasanya. Entah ia pernah menyakiti atau pun mencintai. Mereka  digilirkan hadir di dalam hidup  sebagai hantaran pendewasaan jiwa dan refleksi diri. Pada dasarnya, semuanya menguji kita, entah dengan benci dan cintanya, juga perasaan-perasaan lain yang menyertainya. Tak ada alasan untuk  mendikte pikiran dan perasaan seorang manusia, apa pun yang  mereka rasakan.  Kita hanya bisa memberikan kesan, setelah itu manusia di sekeliling kita akan mempersepsi  sebatas relativitas  kekuatan pikiran, perasaan, dan latar belakang dan pengalaman hidupnya.

Daun yang berguguran, tak pernah menyalahkan angin, kayu bakar tak akan menyalahkan api.  Demikian pula pepohonan yang meranggas tak pernah menyalahkan musim. Ada baiknya kita tidak membiasakan membuat kambing hitam  dalam  persoalan dengan manusia. Waktu kita nanti habis untuk menyalahkan orang-orang tanpa sempat merenungi dan mengambil pelajaran dari semua sisinya.  Baik atau pun buruk perlakuan orang, adalah pelajaran kehidupan yang berharga, yang memerlukan kesediaan menerima dengan lapang dada.  Kita tak bisa menuntut  perlakuan manis dan kebaikan orang. Lagi pula, pertunjukkan hidup kita bukan untuk dinilai oleh kamera relativitas pikiran dan perasaan manusia, kita sedang ‘akting’ di dunia, dan juri kita adalah Tuhan.
Dalam Qur’an Tuhan berfirman, ‘Tolaklah keburukan dengan kebaikan’.  Dan Allah hanya meminta manusia berbuat baik kepada semua orang, dan menanam kebaikan sebatas kekuatan manusiawi. Jika mereka salah mempersepsi kita, jangan menghentikan kebaikan kepada mereka.   Jika mereka berubah, tak  apa. Perasaan manusia itu naik dan turun. Ada masa di mana seseorang itu  tidak lagi menyukai kita  atau bosan.  Kita pun bukan orang yang terus menerus dapat bertahan menyenangkan hati orang, dan sarat dengan kekurangan. Inilah seninya hidup berada di tengah-tengah manusia. Berhubungan dengan siapa pun tak akan mencapai kesempurnaan, bahkan sepasang suami istri sekalipun. Mungkin itu sebabnya Allah meminta manusia saling berendah hati dan saling memaafkan kekurangan. 


Terus  berusaha saja  memperbaiki kualitas kemanusiaan diri.  Memberi kesempatan kepada  hati, pikiran dan perasaan untuk    tulus  ketika berteman, bersahabat, entah apa pun namanya,  dengan siapa pun, tanpa trik yang manipulatif.  Belajar mereaksi segala sesuatu dengan cara yang baik.  Orang yang memiliki lokus kontrol yang baik, jarang terpengaruh oleh sikap buruk orang lain kepadanya.    Dan, berlepaslah dari apa yang mungkin akan kita terima dari balasan  sikap, penilaian dan persepsi  mereka. Selebihnya, biar diurus   Allah  saja.



1 komentar:

  1. Caesars Palace (MGM) Casino | Near Yosemite National Park
    Welcome to 제주 출장마사지 Casino at Caesars Palace! Located 2.1 miles from Yosemite 속초 출장안마 National 안양 출장마사지 Park, this luxury 4-star hotel is close to 서귀포 출장안마 the 진주 출장안마 Sierra Nevada

    BalasHapus