Selasa, 21 Januari 2014

Hujan dan Batas Kesenyapan





Beberapa waktu terakhir ini, aku  menempuh banyak perjalanan. Perjalanan di musim hujan. Mungkin ini bukan waktunya menikmati alam dengan nyaman. Tetapi, aku  dapat menikmati semuanya, kabutnya, dinginnya, hujannya.  Bukankah kita dapat menikmati dan melihat sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda?




Menyusuri hujan bagiku tak ubahnya bagai menyusuri siklus kehidupan. Aku merasakan derap tetes-tetes air yang menciprat membasah, membilas bumi seperti menelusuri basah itu sendiri. Apakah memang basah harus selalu diseka? Ketika hujan menyusup ke pori-pori bumi, timpas sudah gersang menjadi nyanyian kehidupan. Seolah hidup baru saja dimulai.


Mungkin, hujan terlalu dingin untuk dinikmati. Tetapi, aku menyukainya. Aku menyukai segala sesuatu yang terjadi di semesta. Pada hujan, aku dapat memandang dunia dengan kacamata yang jauh lebih sederhana. Orang-orang menjadi lebih suka berdiam tanpa banyak berkata-kata. Orang menjadi lebih menyukai menelusuri batas-batas kesenyapan, berdiang di bawah nyala api, atau cahaya lampu. Entahlah, terserah mereka akan melenguh untuk mengutuki cuaca, ataukah akan menyusun rencana-rencana ketika hujan telah reda.  Tetapi, hey...! bukankah hujan telah meredakan banyak rencana?  Baguslah, ada hujan. Bagiku, aku begitu repot dengan penyusunan rencana. Aku ingin menjalani hidup, selayak  siklus cuaca.




Tahukah engkau? Aku tidak begitu menyukai banyak rencana. Bagiku, kehidupan ini sederhana saja adanya. Aku ingin menjalaninya, seperti halnya saat aku menembus kabut, ketika hujan, aku menikmati misterinya. Bagiku, gelap dan terang menjadi sesuatu yang niscaya.  Bagaimana mungkin, aku, hamba Tuhan yang lemah dapat mengendalikan jejaring semesta, termasuk cuaca, seperti yang aku inginkan. Biarkan saja, demikian adanya. Aku merasa, Tuhan tidak mengajariku banyak mengendalikan keadaan, tetapi, menyusuri setiap siklus kehidupan yang ada, bergerak dan terus bergerak menjelajahinya sekuat kedigjayaan kekuatan manusiawi. Setelah itu, aku diminta merunduk dan bersujud dalam kerendahatian.



Pada hujan, aku menelusuri batas kesenyapan dan menikmati misteri dalam kabut tanpa banyak ingin memikirkannya.  




Aku hanya ingin memandang segala sesuatu yang terjadi, tanpa banyak kata-kata. Seperti pada hujan, aku nikmati  dan resapi dinginnya, derasnya, tetes-tetesnya, anginnya, kabutnya. Segala siklus cuaca yang terjadi, bagaimana jika kita nikmati saja. Karena aku tahu,  melawan musim, juga cuaca adalah sia-sia.  Tetapi, aku memiliki hati yang dapat mengubah segala suasana menjadi gembira.



Selamat datang musim hujan..aku menikmatinya..


___
Bandung, 21 Januari 2014
Catatan : Seluruh foto yang diunggah di atas adalah dokumen pribadi. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar