Kamis, 09 Januari 2014

Seperti Pertemuan yang Terakhir



Lelaki setengah baya itu meraung-raung menangis ketika istrinya tengah sekarat. Tak ada yang dilakukannya, kecuali menangis lebih keras lagi. Ini pertama kalinya saya melihat seorang lelaki demikian ekspresif ketika dilanda kesedihan yang teramat dalam. Ia merasa menyesal tidak memberi yang terbaik kepada istrinya selagi mereka bersama.  Satu per satu para tetangga berdatangan, berdzikir dan membaca Qur’an di rumah itu. Perempuan yang tengah menanti ajalnya  terbaring lemah dengan tubuh selayak tulang dibungkus kulit. Ia menderita kanker semenjak setahun lalu.  Penyebaran kanker itu demikian cepat menggerogoti tubuhnya. Para perempuan yang kadang menggunjingkan keburukannya, tiba-tiba bercerita tentang yang baik-baik saja tentangnya. Orang yang sempat memusuhinya menjadi sangat lembut. Beberapa di antaranya meraih tangannya dan meminta maaf.  Saya tahu, mereka orang termasuk yang  getol membincang kekurangannya.  Saya terpana melihat ke sekeliling. Tak percaya. Ternyata semua orang sesungguhnya berhati bening, hanya ego saja yang seringkali membuat mereka demikian angkuh. Sang nafsu yang membuat mereka menjadi tinggi hati, dan merasa benar sendiri.



Ketika manusia  sehat dan kuat, memiliki kedudukan dan harta yang banyak, seringkali terjebak seolah dunia ada di dalam genggamannya. Kesewenang-wenangan  seorang atasan bukan karena jiwa murninya berkehendak melakukan tindakan tersebut. Ia hanya sedang khilaf, bahwa jabatan itu hanya sesuatu yang melekat.  Ia masih saru membedakan dirinya dengan jabatan.  Seorang yang marah karena orang lain melakukan kesalahan yang tidak membuatnya berkenan, sesungguhnya ia sedang marah pada dirinya sendiri. Ada sisi lemah di dalam dirinya yang tersulut untuk menjadi marah.  Energi baik  di dalam dirinya, yakni   memaklumi dan keinginan membimbing  dengan sabar,  dilampaui oleh energi  kemarahan yang lebih cepat datangnya.



Waktu Begitu Cepat Berlalu

Betapa banyak  perempuan-perempuan yang begitu ketakutan menjadi tua, karena akan kehilangan daya tarik. Klinik-klinik kecantikan dipenuhi oleh ibu-ibu yang menjelang paruh baya. Pabrik kosmetik, salon dan klinik-klinik kecantikan tahu bagaimana caranya mempermainkan pikiran perempuan-perempuan yang panik.  Para lelaki  paruh baya mulai ketakutan pada masa depannya, ketika mereka menyadari diri usia pensiun tak lama lagi, ia mulai gelisah,  tentang penghormatan orang ke depan  dan ia tidak siap ketika menjadi bukan siapa-siapa, juga, bagaimana cara menghidupi keluarga.  Di masa-masa ini, waktu seakan kalender yang terlipat, yang tak sempat memertanyakan apa yang telah diperbuat, dan jejak apa yang telah ditinggalkan. Waktu hidup seakan menguap. Begitu cepat berlalu dan begitu lekas  kehadiran masa tua itu.


Seringkali kita berada di tempat yang sama, dan menyambangi beberapa tempat di masa lalu, misalnya kampus. Gedungnya masih berdiri di situ, tetapi sudah tak ada yang mengenali kita.  Kita menjadi orang yang begitu tua di antara anak-anak muda.  Seganteng apa pun di masa lalu, di mana daya pikat kita begitu kuat. Sekarang, mahasiswi-mahasiswi yang kurang menarik  di sana  jangankan untuk dinikahi, sekedar digoda pun  mereka akan mecibir untuk mengatakan, lelaki tua yang tidak tahu diri.  Ketika berkumpul reuni, semua wajah telah berubah keriput, kepala menjadi botak, perut gendut.  Bahkan  ketika kita bertanya tentang seseorang, ternyata dia sudah almarhum.  Tiga puluh, empat puluh tahun  yang lalu itu ternyata demikian singkat. Hidup itu ternyata hanya sesaat.


Seandainya dunia ini di ibaratkan panggung. Semua manusia memiliki naskahnya sendiri-sendiri. Pertunjukkan ini silih berganti, dari sejak nabi Adam hingga saat ini. Masing-masing masa memiliki lawan mainnya sendiri-sendiri dengan latar warna peradaban yang berganti-ganti. Namun panggungnya tetap dunia.  Dari atas sana, Tuhan menyaksikan dengan jeli setiap permainan ini, dan memberi applaus  untuk setiap  peran yang paling yang paling mewakili diri-Nya sebagai bayang-bayang di muka bumi.  Barangkali kurang bijaksana bila kita mengatur dan menghina orang-orang  atas alur naskah drama yang diperankannya. Bukankah kita sama-sama aktor di dunia, dan ingin menjadi artis pujaan-Nya?  Bukankah semua orang, sekalipun hidupnya hancur-hancuran, dengan tingkah laku yang paling menyebalka,  selalu ingin dipandang baik?  Mengapa manusia tidak saling menyemangati saja untuk  berbuat baik.?   Di panggung ini, boleh jadi  layar kita akan segera ditutup.


Ketika anak-anak masih bayi, waktu bergerak terasa begitu lambat. Namun ketika anak-anak sudah mulai sekolah, waktu menjadi begitu cepat. Ketika anak-anak  satu persatu meninggalkan rumah, betapa banyak yang disesali, tak sempat mendidik dan memberi perhatian yang lebih daripada ini.  Mengapa kita tak bisa mengendalikan diri dari membentak mereka,  ketika mereka melakukan kesalahan yang tak mereka mengerti?  Mengapa kita tidak lebih  bersabar lagi  kala  mendidik mereka?  Mengapa tidak  memberikan waktu yang lebih banyak lagi kepada mereka, lebih banyak  mencium, memeluknya, dan mengajak mereka bermain lebih panjang, menikmati saat-saat bahagia kala bersama?  Demikian pula kepada pasangan hidup kita, ketika kehilangan rasa tertarik, dan rasa cinta sudah tiada, mengapa tidak  mengikatkan diri dengan saling menjaga kepercayaan dan komitmen?  Mengapa tidak saling bersabar, saling melayani dan ingin memberi yang terbaik?  Alangkah cepatnya waktu berlalu. Alangkah cepatnya pudar pesona.  Alangkah sulitnya kebaikan itu bertahan.


Ketika kita  bersahabat, mengapa kita tidak  belajar memaksimalkan memberi kebaikan ? Lalu kita tepiskan semua prasangka dan kesalahpahaman.  Lebih banyak mengingat kebaikan dan perhatiannya, sekecil apa pun. Mungkin ketika bayangan sahabat-sahabat kita menyelinap di pikiran, mereka akan  mengalirkan aliran gurat kebahagiaan di wajah kita.  Kesalahannya untuk dimaafkan. Kekurangannya menjadi seni hidup, dan kebaikannya menjadi hadiah kehidupan.


Ketika kita bersama, bagaimana jika kita nikmati yang bening-bening dan yang indahnya saja di antara kita? Dan kita belajar  menahan diri agar tidak saling menyakiti, saling menghakimi serta mau menang sendiri.  Perlakukan semua orang, bagai pertemuan yang terakhir, agar  mengurangi hal-hal yang akan disesali nanti.


Mari kita  belajar  tersenyum lebih  lembut lagi pada sesama dan juga pada kehidupan.

_______
Catatan : 
credit image : http://10.dtiblog.com/c/callio/file/goodbye.jpg




Tidak ada komentar:

Posting Komentar