Lelaki
setengah baya itu meraung-raung menangis ketika istrinya tengah sekarat. Tak
ada yang dilakukannya, kecuali menangis lebih keras lagi. Ini pertama kalinya
saya melihat seorang lelaki demikian ekspresif ketika dilanda kesedihan yang
teramat dalam. Ia merasa menyesal tidak memberi yang terbaik kepada istrinya
selagi mereka bersama. Satu per satu
para tetangga berdatangan, berdzikir dan membaca Qur’an di rumah itu. Perempuan
yang tengah menanti ajalnya terbaring
lemah dengan tubuh selayak tulang dibungkus kulit. Ia menderita kanker semenjak
setahun lalu. Penyebaran kanker itu
demikian cepat menggerogoti tubuhnya. Para perempuan yang kadang menggunjingkan
keburukannya, tiba-tiba bercerita tentang yang baik-baik saja tentangnya. Orang
yang sempat memusuhinya menjadi sangat lembut. Beberapa di antaranya meraih
tangannya dan meminta maaf. Saya tahu,
mereka orang termasuk yang getol
membincang kekurangannya. Saya terpana
melihat ke sekeliling. Tak percaya. Ternyata semua orang sesungguhnya berhati
bening, hanya ego saja yang seringkali membuat mereka demikian angkuh. Sang
nafsu yang membuat mereka menjadi tinggi hati, dan merasa benar sendiri.
Ketika
manusia sehat dan kuat, memiliki
kedudukan dan harta yang banyak, seringkali terjebak seolah dunia ada di dalam
genggamannya. Kesewenang-wenangan
seorang atasan bukan karena jiwa murninya berkehendak melakukan tindakan
tersebut. Ia hanya sedang khilaf, bahwa jabatan itu hanya sesuatu yang
melekat. Ia masih saru membedakan
dirinya dengan jabatan. Seorang yang
marah karena orang lain melakukan kesalahan yang tidak membuatnya berkenan,
sesungguhnya ia sedang marah pada dirinya sendiri. Ada sisi lemah di dalam
dirinya yang tersulut untuk menjadi marah. Energi baik
di dalam dirinya, yakni
memaklumi dan keinginan membimbing
dengan sabar, dilampaui oleh
energi kemarahan yang lebih cepat
datangnya.
Waktu Begitu Cepat Berlalu
Betapa
banyak perempuan-perempuan yang begitu
ketakutan menjadi tua, karena akan kehilangan daya tarik. Klinik-klinik
kecantikan dipenuhi oleh ibu-ibu yang menjelang paruh baya. Pabrik kosmetik,
salon dan klinik-klinik kecantikan tahu bagaimana caranya mempermainkan pikiran
perempuan-perempuan yang panik. Para
lelaki paruh baya mulai ketakutan pada
masa depannya, ketika mereka menyadari diri usia pensiun tak lama lagi, ia
mulai gelisah, tentang penghormatan
orang ke depan dan ia tidak siap ketika
menjadi bukan siapa-siapa, juga, bagaimana cara menghidupi keluarga. Di masa-masa ini, waktu seakan kalender yang
terlipat, yang tak sempat memertanyakan apa yang telah diperbuat, dan jejak apa
yang telah ditinggalkan. Waktu hidup seakan menguap. Begitu cepat berlalu dan
begitu lekas kehadiran masa tua itu.
Seringkali
kita berada di tempat yang sama, dan menyambangi beberapa tempat di masa lalu,
misalnya kampus. Gedungnya masih berdiri di situ, tetapi sudah tak ada yang
mengenali kita. Kita menjadi orang yang
begitu tua di antara anak-anak muda.
Seganteng apa pun di masa lalu, di mana daya pikat kita begitu kuat. Sekarang, mahasiswi-mahasiswi yang kurang
menarik di sana jangankan untuk dinikahi, sekedar digoda
pun mereka akan mecibir untuk
mengatakan, lelaki tua yang tidak tahu diri. Ketika berkumpul reuni, semua wajah telah
berubah keriput, kepala menjadi botak, perut gendut. Bahkan
ketika kita bertanya tentang seseorang, ternyata dia sudah
almarhum. Tiga puluh, empat puluh
tahun yang lalu itu ternyata demikian
singkat. Hidup itu ternyata hanya sesaat.
Seandainya
dunia ini di ibaratkan panggung. Semua manusia memiliki naskahnya
sendiri-sendiri. Pertunjukkan ini silih berganti, dari sejak nabi Adam hingga
saat ini. Masing-masing masa memiliki lawan mainnya sendiri-sendiri dengan
latar warna peradaban yang berganti-ganti. Namun panggungnya tetap dunia. Dari atas sana, Tuhan menyaksikan dengan jeli
setiap permainan ini, dan memberi applaus
untuk setiap peran yang paling yang paling mewakili
diri-Nya sebagai bayang-bayang di muka bumi.
Barangkali kurang bijaksana bila kita mengatur dan menghina
orang-orang atas alur naskah drama yang
diperankannya. Bukankah kita sama-sama aktor di dunia, dan ingin menjadi artis
pujaan-Nya? Bukankah semua orang,
sekalipun hidupnya hancur-hancuran, dengan tingkah laku yang paling menyebalka,
selalu ingin dipandang baik? Mengapa manusia tidak saling menyemangati
saja untuk berbuat baik.? Di panggung ini, boleh jadi layar kita akan segera ditutup.
Ketika
anak-anak masih bayi, waktu bergerak terasa begitu lambat. Namun ketika
anak-anak sudah mulai sekolah, waktu menjadi begitu cepat. Ketika
anak-anak satu persatu meninggalkan
rumah, betapa banyak yang disesali, tak sempat mendidik dan memberi perhatian
yang lebih daripada ini. Mengapa kita
tak bisa mengendalikan diri dari membentak mereka, ketika mereka melakukan kesalahan yang tak
mereka mengerti? Mengapa kita tidak lebih bersabar lagi
kala mendidik mereka? Mengapa tidak
memberikan waktu yang lebih banyak lagi kepada mereka, lebih banyak mencium, memeluknya, dan mengajak mereka
bermain lebih panjang, menikmati saat-saat bahagia kala bersama? Demikian pula kepada pasangan hidup kita,
ketika kehilangan rasa tertarik, dan rasa cinta sudah tiada, mengapa tidak mengikatkan diri dengan saling menjaga
kepercayaan dan komitmen? Mengapa tidak
saling bersabar, saling melayani dan ingin memberi yang terbaik? Alangkah cepatnya waktu berlalu. Alangkah
cepatnya pudar pesona. Alangkah sulitnya
kebaikan itu bertahan.
Ketika
kita bersahabat, mengapa kita tidak belajar memaksimalkan memberi kebaikan ? Lalu
kita tepiskan semua prasangka dan kesalahpahaman. Lebih banyak mengingat kebaikan dan
perhatiannya, sekecil apa pun. Mungkin ketika bayangan sahabat-sahabat kita
menyelinap di pikiran, mereka akan mengalirkan aliran gurat kebahagiaan di wajah
kita. Kesalahannya untuk dimaafkan. Kekurangannya
menjadi seni hidup, dan kebaikannya menjadi hadiah kehidupan.
Ketika
kita bersama, bagaimana jika kita nikmati yang bening-bening dan yang indahnya
saja di antara kita? Dan kita belajar menahan diri agar tidak saling menyakiti,
saling menghakimi serta mau menang sendiri.
Perlakukan semua orang, bagai pertemuan yang terakhir, agar mengurangi hal-hal yang akan disesali nanti.
Mari kita belajar tersenyum lebih lembut lagi pada sesama dan juga pada
kehidupan.
_______
Catatan :
credit image : http://10.dtiblog.com/c/callio/file/goodbye.jpg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar