Selasa, 21 Januari 2014

Kisah Tentang Kopi



Kopi memang nikmat. Sekalipun saya bukan pecandunya. Saya mulai sedikit tergoda meminumnya ketika mulai sering menyetir mobil sendiri  ke luar kota, untuk menghilangkan kantuk.  Ternyata, sopir dan kopi memang pasangan serasi. Pantas saja jika sopir truk suka sekali duduk-duduk di warung kopi dalam jeda perjalanan ke tempat yang ingin mereka tuju. Sayangnya, saya sulit menikmati duduk-duduk di warung kopi, tentu karena saya seorang perempuan. Ini akan menjadi pemandangan yang terlihat aneh.  Dengan tidak bermaksud menaikan citra diri dan status sosial, demi keamanan dan etika ‘keperempuanan’ untuk menjaga diri, diperjalanan, saya  akan memilih minum kopi di tempat yang lebih nyaman dan aman.


credit image : http://www.fanpop.com


Saya pernah minum kopi Vietnam, yang dibawa oleh suami sebagai oleh-oleh dari Vietnam. Kopi Vietnam sangat enak. Sayangnya, lambung saya tidak kuat meminumnya. Beberapa teman yang pernah datang menyambangi rumah dan diajak minum kopi Vietnam, mereka mengatakan, kopi Vietnam adalah salah satu enak yang pernah mereka minum. Tentu karena mereka adalah pecandu-pecandu kopi.



Salah satu teman saya, Dimas Nur, pemilik sekolah film Bandung dan menggeluti bidang perfilm-an  sekaligus pecandu kopi level tinggi, mengatakan, “Mbak Erna, kalau menyeduh kopi agar cita rasanya keluar, pertama-tama seduh kopinya dulu, dengan air yang mendidih. Setelah itu, baru dikasih gula.  Tetapi, kopi mutu kopi yang bagus, tak lagi memerlukan gula  lagi, karena sudah enak. Contohnya, kopi Vietnam ini..” katanya sambil menyeruput kopi Vietnam. Saya mangut-mangut.

Warung kopi di Banda Aceh. credit image dari Google, lupa link-nya..



Setelah itu, saya mengenal kopi yang diproduksi pabrik kopi tertua di Bandung, kopi ‘Aroma’. Saya mulai mengenal jenis-jenis kopi. Wah..! ternyata ada kopi yang tahan melek.  Ini akan jadi jenis kopi yang saya hindari. Saya  akan ‘mengimani’  syair lagu Bang Haji, ‘Begadang jangan begadang..” Saya mengenal kopi Flores, ketika saya berbelanja di Kupang, Nusa Tenggara Timur.  Dan, kemudian, saya mengenal kopi-kopi lainnya, termasuk di dalamnya adalah kopi dari Aceh, waktu ke Banda Aceh, bulan Oktober 2013 yang lalu.  Ternyata, di Banda Aceh ada kopi dengan ramuan ganja.  Wah, pasti ini akan jadi sensasi tersendiri.  Saya sempat minum kopi di warung kopi di  Banda Aceh, hanya sekedar icip-icip saja. Takut tidak bisa tidur.



Pabrik Kopi Banaran yang asri

Dan yang terakhir kali saya nikmati adalah Kopi Banaran. Beberapa kali lewat pabrik yang berada  di antara kota  Semarang dan kota Yogyakarta. Baru kali ini berkesempatan menikmati kopi  di depan pabrik kopi.  Saya tertawa membaca  tentang, Siapakah Anda? Jika  anda minum kopi hitam, anda sedikit nakal.. hahahaha..!


Taman di belakang cafe Banaran


Ada suasana lain ketika minum kopi di Café Banaran. Di samping suasananya enak dan nyaman, karena ditelikung oleh taman-taman yang asri dan café yang rapi  dan bersih. Bagi saya, ada sensasi lainnya, minum kopi dengan wewangian  kopi yang di bawa oleh angin semilir yang menyeruak  ke seluruh ruangan.  Ini menjadi bagian dari minum kopi yang paling mengesankan.



Tetapi, apa pun kisah di balik kopi, di sana ada aroma kehidupan yang jalin menjalin hingga kopi itu diseduh dan ada dihadapan kita. Mungkin tangan-tangan lincah pemetik kopi,mungkin dengan raut bahagia atau juga derita.  Mungkin  di sana ada  irama jiwa buruh-buruh pabrik kopi yang kelelahan, yang tak lagi sanggup berdemo untuk menyuarakan hatinya. Mereka memilih, mengikuti saja hari-hari yang digulirkan, entah di mana tepinya.




Ah, mungkin saya terlalu mendalam hanya untuk meminum secangkir kopi di Café Banaran, dan sepiring gado-gado  dengan gepuk sapi yang sangat nikmat.  Saya segera menghentikan  berpikir filosofis soal secangkir kopi.  Saya ingin menikmati tetes demi tetes, sambil  memagut kebersamaan mengelilingi meja, bersama suami dan anakku.  Terkadang, kami saling berpandangan dan melempar senyum.  Kali ini, saya akan membiarkan kopi menerjemahkan perasaan kami…..






Tidak ada komentar:

Posting Komentar