Kopi
memang nikmat. Sekalipun saya bukan pecandunya. Saya mulai sedikit tergoda
meminumnya ketika mulai sering menyetir mobil sendiri ke luar kota, untuk menghilangkan kantuk. Ternyata, sopir dan kopi memang pasangan
serasi. Pantas saja jika sopir truk suka sekali duduk-duduk di warung kopi
dalam jeda perjalanan ke tempat yang ingin mereka tuju. Sayangnya, saya sulit
menikmati duduk-duduk di warung kopi, tentu karena saya seorang perempuan. Ini
akan menjadi pemandangan yang terlihat aneh.
Dengan tidak bermaksud menaikan citra diri dan status sosial, demi
keamanan dan etika ‘keperempuanan’ untuk menjaga diri, diperjalanan, saya akan memilih minum kopi di tempat yang lebih
nyaman dan aman.
![]() |
| credit image : http://www.fanpop.com |
Saya
pernah minum kopi Vietnam, yang dibawa oleh suami sebagai oleh-oleh dari
Vietnam. Kopi Vietnam sangat enak. Sayangnya, lambung saya tidak kuat
meminumnya. Beberapa teman yang pernah datang menyambangi rumah dan diajak
minum kopi Vietnam, mereka mengatakan, kopi Vietnam adalah salah satu enak yang
pernah mereka minum. Tentu karena mereka adalah pecandu-pecandu kopi.
Salah
satu teman saya, Dimas Nur, pemilik sekolah film Bandung dan menggeluti bidang
perfilm-an sekaligus pecandu kopi level
tinggi, mengatakan, “Mbak Erna, kalau menyeduh kopi agar cita rasanya keluar,
pertama-tama seduh kopinya dulu, dengan air yang mendidih. Setelah itu, baru
dikasih gula. Tetapi, kopi mutu kopi
yang bagus, tak lagi memerlukan gula
lagi, karena sudah enak. Contohnya, kopi Vietnam ini..” katanya sambil
menyeruput kopi Vietnam. Saya mangut-mangut.
![]() |
| Warung kopi di Banda Aceh. credit image dari Google, lupa link-nya.. |
Setelah
itu, saya mengenal kopi yang diproduksi pabrik kopi tertua di Bandung, kopi ‘Aroma’.
Saya mulai mengenal jenis-jenis kopi. Wah..! ternyata ada kopi yang tahan
melek. Ini akan jadi jenis kopi yang saya
hindari. Saya akan ‘mengimani’ syair lagu Bang
Haji, ‘Begadang jangan begadang..”
Saya mengenal kopi Flores, ketika saya berbelanja di Kupang, Nusa Tenggara
Timur. Dan, kemudian, saya mengenal kopi-kopi
lainnya, termasuk di dalamnya adalah kopi dari Aceh, waktu ke Banda Aceh, bulan
Oktober 2013 yang lalu. Ternyata, di
Banda Aceh ada kopi dengan ramuan ganja.
Wah, pasti ini akan jadi sensasi tersendiri. Saya sempat minum kopi di warung kopi di Banda Aceh, hanya sekedar icip-icip saja.
Takut tidak bisa tidur.
| Pabrik Kopi Banaran yang asri |
Dan
yang terakhir kali saya nikmati adalah Kopi Banaran. Beberapa kali lewat pabrik
yang berada di antara kota Semarang dan kota Yogyakarta. Baru kali ini
berkesempatan menikmati kopi di depan
pabrik kopi. Saya tertawa membaca tentang, Siapakah
Anda? Jika anda minum kopi hitam, anda
sedikit nakal.. hahahaha..!
| Taman di belakang cafe Banaran |
Ada
suasana lain ketika minum kopi di Café Banaran. Di samping suasananya enak dan
nyaman, karena ditelikung oleh taman-taman yang asri dan café yang rapi dan bersih. Bagi saya, ada sensasi lainnya,
minum kopi dengan wewangian kopi yang di
bawa oleh angin semilir yang menyeruak
ke seluruh ruangan. Ini menjadi
bagian dari minum kopi yang paling mengesankan.
Tetapi,
apa pun kisah di balik kopi, di sana ada aroma kehidupan yang jalin menjalin
hingga kopi itu diseduh dan ada dihadapan kita. Mungkin tangan-tangan lincah
pemetik kopi,mungkin dengan raut bahagia atau juga derita. Mungkin di sana ada
irama jiwa buruh-buruh pabrik kopi yang kelelahan, yang tak lagi sanggup
berdemo untuk menyuarakan hatinya. Mereka memilih, mengikuti saja hari-hari
yang digulirkan, entah di mana tepinya.
Ah,
mungkin saya terlalu mendalam hanya untuk meminum secangkir kopi di Café Banaran,
dan sepiring gado-gado dengan gepuk sapi
yang sangat nikmat. Saya segera menghentikan
berpikir filosofis soal secangkir
kopi. Saya ingin menikmati tetes demi
tetes, sambil memagut kebersamaan mengelilingi
meja, bersama suami dan anakku. Terkadang, kami saling berpandangan dan
melempar senyum. Kali ini, saya akan
membiarkan kopi menerjemahkan perasaan kami…..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar