Rabu, 22 Januari 2014

Berpetualang di Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur


Reranting menatap matahari tenggelam di Pulau Semau

Biasanya, saya melihat Pulau  Semau, salah satu pulau di Kepulauan Nusa Tenggara Timur ini dari jendela pesawat menuju Jakarta.   Pulau Semau juga,  selalu saya  tatap dari halaman kediaman kami bila saya sedang berada di Kupang.   Matahari  terbenam  tepat di balik pulau Semau setiap hari.  Tentu, ini menjadi pemandangan alam yang menakjubkan pada senja hari. Semburat cahaya dengan pendar-pendar warna di sini  menjadi penghiburan liris menjelang malam tiba.  Pemandangan suasana khas Nusa Tenggara adalah pemandangan langka  bagi saya yang sehari-hari berada di Bandung.


Matahari tenggelam di balik Pulau Semau. Memotret di halaman rumah.

Sebenarnya, beberapa kali saya mengajukan permohonan kepada suami  untuk mengizinkan saya mengunjungi pulau ini. Rupanya, ia masih berat hati. Alasannya sangat kuat, karena tak ada tranportasi di Pulau Semau, infrastrukturnya masih buruk.  Tempat   yang dihuni suku Helong ini masih terbelakang,  Untuk mencapai pulau ini,  dalam musim tertentu ombaknya cukup besar, dan arusnya kuat. Beberapa perahu bahkan pernah tenggelam di perairan Semau. 


Akhirnya, hati suami saya luluh juga, ketika saya mengajukan kembali keinginan untuk menjelajah tempat ini.  Saya  sangat maklum, suami saya bukan type  penikmat alam. Namun kali ini ia  berbeda. Ia mau mengikuti keinginan istrinya, sekaligus menemani.   


Sejak malam hari, saya sudah menyiapkan makanan, karena suami saya mendapat informasi bahwa di sana tak ada warung untuk kami makan. Saya tidak ingin merepotkan siapa pun di sana nanti.   Saya siapkan empat bungkus nasi, kue dan air minum. Kami akan pergi berempat, bersama  salah seorang  pegawai kantor suami berasal dari sana, Pak Paulus Pong dan keponakannya. Pak Pong adalah seorang tuan tanah di Pulau Semau. Sementara posisi di kantor suami  sebagai pelayan. Namun di kampungnya, ia orang yang sangat kaya raya untuk ukuran suku Helong. Hebat bukan? Dari beliaulah seluruh informasi tentang pulau ini di dapatkan.


Pagi hari, kami sudah berada di Pelabuhan Tenau.  Beberapa perahu motor berjajar menunggu penumpang  menuju Pulau Semau.  Kami Tidak segera  naik ke perahu, karena harus menunggu penumpang lain. Perahu motor menuju Pulau Semau selayak angkutan pedesaan, yang menunggu penuh dulu sebelum berangkat. Lebih dari tiga puluh menit kami menunggu, setelah itu kami naik dengan membawa serta   dua sepeda motor. Satu sepeda motor dikenakan biaya Rp. 40.000,00.  Sedangkan ongkos per orang, Rp. 20.000,00.   Lucunya, bila bawa satu sepeda motor dengan dua orang penumpang dikenakan ongkos Rp. 40.000,00. Jadi sepeda motor jadinya gratis.


Perahu yang saya tumpangi lumayan bersih, biasanya di dalamnya turut serta binatang-binatang ternak, dan lainnya. Saya satu perahu dengan Pendeta  Martha yang akan memimpin kebaktian di Gereja Imanuel, dan beberapa penumpang lain. Lautan begitu tenang. Burung-burung camar nampak melayang-layang di udara. Yang terasa mengganggu hanyalah deru suara perahu motor yang memekakan telinga.

Dermaga kecil di Pulau Semau. Perahu yang kutumpangi merapat di sini

Akhirnya, sekitar 50 menit kemudian,  kami sampai di dermaga Pulau Semau. Dermaga yang sangat sederhana. Motor-motor digotong satu persatu ke atas.  Sungguh mengenaskan melihat awak kapal begitu susah payah mengangkatnya. Ini bukan pekerjaan yang ringan.  Saya pun turun dari perahu, dan memandang sekeliling, yang ada hanya hutan ilalang yang gersang.  Jalanan kecil terbuat dari tanah berbatu. Kami  menyusurinya.  Saya merasa terlempar pada beberapa abad ke belakang.


Sebuah rumah suku Helong di atas bukit yang gersang

Rumah-rumah sederhana suku Helong dilalu.  Saya menatapnya dengan  takjub. Bagaimana bisa mereka bertahan di Pulau yang seakan jauh dari peradaban ini?  Semakin masuk ke pedalaman, yang ada hanyalah gersang.

Hampir semua jalanan seperti ini

Jalanan berdebu dan panas memanggang, padahal ini masih jam 08-an pagi.  Suami saya tak bisa melajukan motor cepat-cepat. Semakin cepat laju motor, hanya membuat debu-debu jalanan tumpah ruah ke udara.  Sempat berpikir, bagaimana suku Helong ini mencari rezeki. Ini pulau yang teramat tandus.  Apa yang mereka makan?


Pantai Otan. Bersih dan sepi...

Oh, ternyata, di ujung pantai Otan, Pulau Semau, ada budi daya mutiara milik sebuah perusahaan swasta, di sana sebagian penduduk bekerja. Sebagian lainnya, mereka bekerja sebagai petani rumput laut. Yang lainnya, entah apa. Tetapi saya melihat ada pohon asem tumbuh dengan baik, juga pohon mangga.


Pantai Otan. Pantai yang sangat menawan. Lautnya biru bening.  Pasirnya putih bersih, dan tiupan anginnya bagai nyanyian.  Area pantainya  juga lumayan luas. Bisa bermain dan berenang di sini dalam jarak tertentu. Sepi, lagi..


Danau Otan yang mungil

Tak jauh dari pantai Otan, ada danau kecil yang dihuni oleh empat ekor penyu dan ikan-ikan semacam nila yang dikeramatkan.  Ini danau air asin yang terletak di dalam hutan. Jangan berpikir tentang hutan belantara di Pulau Semau. Hutan di sini hanyalah ilalang dan pepohonan yang kebanyakan telah lelah dibakar terik mentari kemarau yang panjang. Namun,  ketika berada di danau Otan,  suasana berubah menjadi sejuk.


Salah satu dari empat ekor penyu di Danau Otan

Kami diajak Pak  Pong mengunjungi keluarganya. Keluarganya amat ramah. Karena waktu itu sedang musim mangga, kami disuguhi mangga yang sangat enak dan manis. Namanya mangga udang. Mungkin karena daging mangganya berwarna kemerahan. Mangga udang menjadi salah satu ciri khas tanaman di Pulau Semau. Saya tak pernah menemukan mangga seperti ini di Pulau Jawa.

"Pucuk jambu mete ini bisa dimakan." kataku ke dua perempuan Helong

Saya  tidak kesulitan berkomunikasi dengan suku Helong, karena banyak yang sudah bicara dalam bahasa Indonesia. Gereja-gereja juga mudah di temui, karena hampir seluruh penduduk di sini menganut ajaran Kristiani.  Hanya saja, adat jauh lebih dijunjung tinggi. Suku Helong terkenal karena kepercayaan pada mistiknya yang amat kental. Mereka masih mempercayai  dan menghormati arwah-arwah yang mungkin bagi orang seperti saya terasa janggal  dan tak masuk akal.

Ini bangunan yang terbagus di Pulau Semau, gereja...

Tak heran, sekalipun ajaran Kristiani memasuki kehidupan mereka, namun bukan berarti serta merta meninggalkan keyakinan lama. Misalnya dalam pernikahan ;  tak menikah di gereja juga sudah sah. Pernikahan itu sangat simpel sekali, kedua orang tua bertemu dan diketahui oleh kepala suku, selesai. Ada mahar yang dinamakan belis, semampu pihak lelaki. Jika mereka berpisah, ya, tak apa-apa, katanya. Itu sudah menjadi resiko kehidupan. Santai sekali.  Karena itu, menikah resmi bisa kapan-kapan saja, bahkan setelah memiliki beberapa anak.


Sisi lain Pulau Semau

Tidak banyak yang bisa saya telusuri dengan kunjungan waktu yang sangat pendek. Karena siang hari ombak di lautan sangat besar, membuat Pak Pong tidak tenang. Ia khawatir akan keselamatan kami semua. Kami harus segera pulang kembali ke Kupang. Sebenarnya, saya masih asyik di sini. Apalagi, keluarga Pak Pong mengajari saya bahasa Helong,  Mereka bilang, ‘Ibu, seandainya sebulan saja bersama kami, Ibu akan bisa berbicara bahasa kami.’ 

Dari jauh terlihat Pulau Timor...

Semoga  suatu hari saya akan kembali, ke  pulau kecil ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar