“Kesalahanku adalah
bertemu denganmu..” tulis salah satu
status seorang perempuan di jejaring
sosial. Terdengar labil dan galau. Mungkin karena pertemuan itu berkembang
di luar harapannya. Ia merasa ada ketimpangan antara yang dipikirkan dan dibayangkan tentang orang yang dimaksud dengan realitas
yang sesungguhnya. Ia kecewa. Atau, mungkin pula ia patah hati.
Dalam siklus komunikasi, ada tahapan perkenalan, penjajakan,
mengembangkan hubungan, lalu setelah itu ada perusakan hubungan. Pada saat pertama melihat seseorang dan merasa tertarik, manusia umumnya melakukan
pejajakan. Pertama-tama orang
tertarik pada seseorang biasanya cenderung melihat penampilan fisik dan yang menyertainya. Setelah itu, orang kebanyakan berguguran
pada saat tahap penjajakan. Terutama, ketika sosok yang membuat kita tertarik mulai
berbicara dan memperlihatkan bahasa
tubuhnya. Banyak orang-orang yang tampil
modis dan memikat, namun ketika berbicara nampak kurang smart, wawasannya terbatas dan membosankan, bahasa tubuhnya tidak
nyaman. Setelah itu, orang cenderung mundur perlahan.
Apabila dalam penjajakan
merasa ‘klik’, biasanya orang mengembangkan hubungan
lebih dalam. Di antara keduanya saling membuka diri, dan membuat
ikatan-ikatan persahabatan atau pertemanan.
Mereka bisa bercerita apa saja, dan berbincang apa pun dengan nyaman. Tetapi, apabila ada kesalahfahaman, pengembangan hubungan ini
seringkali layu di tengah jalan. Boleh
jadi bahkan akan muncul perusakan hubungan, lalu mereka akan saling melukai
perasaan. Atau, boleh jadi menjauh atau mundur perlahan-lahan, sekalipun tanpa dikatakan.
Hanya membutuhkan kepekaan perasaan saja untuk mengetahuinya.
Sulitnya Memelihara Hubungan
Hal yang paling sulit dalam fragmen persahabatan adalah
memelihara hubungan. Untuk memelihara hubungan ini dibutuhkan saling
pengertian, dan kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan orang. Pada
keterbatasan itu terangkum di dalamnya adalah kekuatan karakter, waktu yang
bisa diluangkan, kesibukan-kesibukan, kondisi kesehatan, jarak, usia, jenis kelamin, minat, pengalaman masa lalu
dan sebagainya. Tidak semua perenggangan
hubungan itu ditafsirkan dengan negatif, salah satunya, kesibukan-kesibukan seseorang dapat memengaruhinya. Dan laki-laki tidak membutuhkan intensitas
komunikasi lebih kerap dibanding dengan perempuan. Sebaliknya,
umumnya perempuan memiliki
kebutuhan komunikasi lebih tinggi, untuk meyakinkan perasaannya, bahwa semuanya
masih baik-baik saja.
Umumnya, orang yang bersahabat memiliki
karakter-karakter dan minat yang mirip
satu sama lain. Karena itu, jika ingin melihat
seseorang sebagai premis awal, lihat teman-temannya yang menelikunginya,
karena orang tersebut minat atau karakter pribadinya tak jauh dari itu.
Persahabatan maya berbeda dengan persahabatan di dunia nyata. Persahabatan maya
jauh lebih rumit, karena dunia maya
hanya bertumpu hanya pada kata-kata.
Dunia maya bukan ‘dunia yang wajar’
bahkan terlalu sensitif. Kata-kata itu
multitafsir. Dunia maya itu tidak utuh memotret kehidupan dan pribadi
seseorang. Karena itu, jarang terjadi persahabatan maya yang dapat bertahan
dalam rentang waktu yang panjang. Apalagi apabila terjadi kesalahan penafsiran,
tidak mudah untuk dilerai, karena
masing-masing akan berbincang dengan pikirannya sendiri-sendiri. Persahabatan
maya lebih mudah menyulut dan memelihara
prasangka. Sedangkan persahabatan
di dunia nyata apabila ada kesalahpahaman mudah diselesaikan. Pertemuan face to
face, berbincang dari hati ke hati dapat segera meredakan ketegangan.
Satu hal yang pasti dibutuhkan dalam persahabatan, baik
persahabatan maya atau pun persahabatan di dunia nyata, adalah menjaga kepercayaan dan permakluman. Dan tentu
saja, sebaiknya tidak membiasakan membuat ekspetasi berlebihan pada seorang manusia, pun itu pada seorang sahabat. Banyak berharap
pada kebaikan hati manusia seringkali hanya menuai kekecewaan.
Tak Ada Kesalahan
Dalam Pertemuan.
Pertemuan dan perpisahan adalah sebuah hukum alam. Sepanjang
kehidupan ini, tak ada yang konstan. Sahabat, dan teman, atau bahkan suami dan
istri, mereka itu seperti lilin yang menyala, hanya menunggu akhir padamnya
saja. Sikap orang berubah, itu juga hal
yang alamiah, karena manusia itu makhluk
dinamis, bukan makhluk statis. Pikiran manusia berkembang, menemukan hal-hal
yang baru, memperoleh sudut pandang baru dalam sebuah relasi hubungan, lalu
mereka mengevaluasi kebersamaan. Di dalam dada manusia bersemayan perasaan yang
sama, benci, rindu, cinta dan seluruh
tumpah ruah rasa. Perbedaannya hanya
dalam cara menyikapi, yang bergantung pada kelapangan jiwa dan kekayaan sudut
pandang seseorang. Karena itu, tak ada
kesalahan dalam pertemuan dengan siapa pun.
Bertemu dengan seekor semut
sekalipun, sampai berjumpa dengan seseorang yang dianggap bajingan.
Seluruh manusia yang hadir di dalam hidup ini dialirkan oleh semesta. Bertemu dengan siapa pun tak ada terjadi begitu saja dengan kebetulan.
Teman-teman, sahabat-sahabat, tetangga-tetangga dan juga tentunya keluarga
adalah orang-orang yang berharga di dalam hidup kita apa pun rasanya. Entah ia
pernah menyakiti atau pun mencintai. Mereka
digilirkan hadir di dalam hidup
sebagai hantaran pendewasaan jiwa dan refleksi diri. Pada dasarnya,
semuanya menguji kita, entah dengan benci dan cintanya, juga perasaan-perasaan
lain yang menyertainya. Tak ada alasan untuk
mendikte pikiran dan perasaan seorang manusia, apa pun yang mereka rasakan. Kita hanya bisa memberikan kesan, setelah itu
manusia di sekeliling kita akan mempersepsi
sebatas relativitas kekuatan
pikiran, perasaan, dan latar belakang dan pengalaman hidupnya.
Daun yang berguguran, tak pernah menyalahkan angin, kayu
bakar tak akan menyalahkan api. Demikian
pula pepohonan yang meranggas tak pernah menyalahkan musim. Ada baiknya kita
tidak membiasakan membuat kambing hitam dalam persoalan dengan manusia. Waktu kita nanti
habis untuk menyalahkan orang-orang tanpa sempat merenungi dan mengambil
pelajaran dari semua sisinya. Baik atau
pun buruk perlakuan orang, adalah pelajaran kehidupan yang berharga, yang
memerlukan kesediaan menerima dengan lapang dada. Kita tak bisa menuntut perlakuan manis dan kebaikan orang. Lagi pula,
pertunjukkan hidup kita bukan untuk dinilai oleh kamera relativitas pikiran dan
perasaan manusia, kita sedang ‘akting’ di dunia, dan juri kita adalah Tuhan.
Dalam Qur’an Tuhan berfirman, ‘Tolaklah keburukan dengan kebaikan’. Dan Allah hanya meminta manusia berbuat baik
kepada semua orang, dan menanam kebaikan sebatas kekuatan manusiawi. Jika
mereka salah mempersepsi kita, jangan menghentikan kebaikan kepada mereka. Jika mereka berubah, tak apa. Perasaan manusia itu naik dan turun. Ada
masa di mana seseorang itu tidak lagi
menyukai kita atau bosan. Kita pun bukan orang yang terus menerus dapat bertahan
menyenangkan hati orang, dan sarat dengan kekurangan. Inilah seninya hidup
berada di tengah-tengah manusia. Berhubungan dengan siapa pun tak akan mencapai
kesempurnaan, bahkan sepasang suami istri sekalipun. Mungkin itu sebabnya Allah
meminta manusia saling berendah hati dan saling memaafkan kekurangan.
Terus berusaha saja memperbaiki kualitas kemanusiaan diri. Memberi kesempatan kepada hati, pikiran dan perasaan untuk tulus ketika berteman, bersahabat, entah apa pun
namanya, dengan siapa pun, tanpa trik
yang manipulatif. Belajar mereaksi
segala sesuatu dengan cara yang baik. Orang yang memiliki lokus kontrol yang baik,
jarang terpengaruh oleh sikap buruk orang lain kepadanya. Dan,
berlepaslah dari apa yang mungkin akan kita terima dari balasan sikap, penilaian dan persepsi mereka. Selebihnya, biar diurus Allah
saja.
Caesars Palace (MGM) Casino | Near Yosemite National Park
BalasHapusWelcome to 제주 출장마사지 Casino at Caesars Palace! Located 2.1 miles from Yosemite 속초 출장안마 National 안양 출장마사지 Park, this luxury 4-star hotel is close to 서귀포 출장안마 the 진주 출장안마 Sierra Nevada