Kamis, 24 Juli 2014

Mozaik



4

Estetika Tailor


Ketika sang Raja mengetahui, bahwa putrinya telah dikutuk  oleh peri hutan yang jahat bahwa putrinya akan tidur selamanya   – maka ia meminta seluruh mesin-mesin pemintal dimusnahkan di seluruh negeri. Tepat di usia ke-16 nanti, seandainya sang putri terluka
oleh jarum mesin pemintal, ia akan tidur. Hanya ciuman sang pangeran – cinta sejati – yang akan mampu membangunkannya.

***

            Pada usia  remaja, aku  bukan dijauhkan dari jarum seperti Putri Tidur –  jarum pentul, jarum jahit, jarum mesin semua ada di sekelilingku. Jarum memiliki nomornya sendiri - semua ukuran jarum memiliki fungsinya masing-masing.   Nomor jarum dimulai dari nomor  8 sampai 19.  Nomor-nomor ini menunjukkan tingkat kecocokan untuk kain yang akan dijahit.  Semakin tebal kain, maka nomor jarum pun semakin besar, sebaliknya – kian tipis kain, nomornya kian kecil. Seperti untuk kain chiffon, kau harus menggunakan jarum nomor 8 atau 9. Sementara untuk kain yang  super tebal semacam  denim atau gordyn, kau sebaiknya menggunakan jarum nomor 18 atau 19.

           Setiap kali merapikan ruang jahit, kami harus memastikan agar jangan sampai jarum-jarum jatuh ke lantai.  Jarum-jarum yang tajam itu berkilat-kilat di bawah cahaya matahari yang menelusup melalui kaca jendela. Jarum-jarum tajam yang sanggup melukai jemari  Ibu, sekaligus menjadi jalannya pintu rezeki bagi kami.  Setiap hari aku melihat Ibu kakinya bergerak, berayun-ayun – seperti mengayuh sepeda, tetapi jalan di tempat, tak kemana-mana.  Andaikan pedal mesin jahit itu seumpama pedal  sepeda yang bisa menggerakan roda menggelinding ke mana saja, mungkin jarak yang ditempuh oleh Ibu setiap harinya sekitar enam puluh kilometer. Ibu memakai mesin jahit klasik. Ini sangat kuno, karena harus menggunakan tenaga kaki.  Jika setahun Ibu melakukan perjalanan mengayuh pedal mesin jahitnya, maka itu telah menempuh  dua ribu dua ratus sembilan puluh kilometer. Setara dengan perjalanan bolak balik Pulau Jawa. Ibu pun bukan seorang putri, ia hanya seorang janda yang  dicium  pahit dan getir kehidupan. Dia harus selalu terjaga – menjaga seluruh kesadarannya. Bahwa ia harus bertahan dalam kesendirian yang panjang, tanpa berharap lagi pada ciuman sang pangeran.

            Sebelum  menjahit, Ibu mengukur terlebih dahulu ukuran tubuh pelanggannya. Lingkar pinggang, Lingkar dada, lingkar lengan, panjang lengan dan lainnya. Setelah itu,   membuat pola di atas kertas, sesuai dengan model baju yang akan dijahit.  Pola dipakai agar tidak terjadi kesalahan pada saat menggunting bahan kain.  Pola itu kemudian Ibu tempelkan ke kain, lalu membuat garis dengan bantuan rader, karbon jahit dan kapur jahit. Kapur jahit dipakai untuk memberi tanda pada  bagian-bagian yang tak bisa menggunakan rader.

 Yang paling rumit tatkala membuat pola adalah saat membuat pecah model dari pola dasar. Namun kesulitan-kesulitan membuat pola baju untuk para penjahit yang ingin maju seperti Ibu dapat terpecahkan dengan berlangganan  Majalah Burda Moden. Majalah impor dari Jerman itu tersimpan rapi di rak pojok ruang kerja Ibu berikut majalah So-En terbitan Jepang. Beberapa majalah wanita dan remaja putri juga ada di sana.  Kelengkapan Ibu menyiapkan majalah-majalah mode disukai para pelanggan. Mereka tidak sulit mencari ide potongan baju. Hanya, terkadang pelanggan ingin model baju seperti artis di televisi – membuat Ibu harus menggambar sesuai dengan imajinasi pelanggan.

            Menjahit adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, ketelitian dan konsistensi  yang luar biasa. Jika kau adalah seorang pembosan dan grasa-grusu, jangan harap akan mampu menyelesaikan baju, sekalipun hanya satu potong. Boleh jadi, kau hanya akan semangat pada awalnya, tetapi di ujung pada saat kain untuk lengan mesti disambungkan, kau menundanya – terus menunda, sampai engkau lupa bahwa engkau harus menuntaskan pekerjaan  di mana kau telah bertransaksi dengan  niat dan waktu.

            Semula, yang menjahit kepada Ibu hanya satu dua orang, itu pun dari tetangga-tetangga kami yang sudah mengenal – semasa Ibu gadis memang sudah menjahit. Jahitan Ibu terkenal rapi.  Iklan dari mulut ke mulut akhirnya beredar juga.  Beberapa bulan kemudian, jahitan Ibu mulai banyak.  

             Ibu selalu memberi pelayanan jahitan yang rapi dan tepat janji. Konon, ada beberapa janji yang tak perlu  diseriusi : Yang pertama, janji politik. Kedua, janji sehidup semati orang yang tengah dimabuk cinta. Ketiga, janji tukang jahit. Karena tukang-tukang jahit umumnya adalah kumpulan orang yang suka mengingkari janji.

            Ibu tak ingin ingkar janji. Karena itu, aku membantu Ibu menuliskan nama konsumen,   jadwal kain datang dan kapan jahitan selesai dalam papan tulis yang digantungkan di ruang Ibu menjahit. Demikian, semua jahitan akan dijahit sesuai dengan jadwal antrian. Jika ada yang ingin cepat-cepat diselesaikan, walaupun dengan bayaran yang lebih mahal, Ibu akan menolaknya. Ibu bilang, nama baik  lebih mahal dari pada uang. Apa jadinya jika nanti Ibu dikenal sebagai seorang yang suka mengingkari janji. 

 Aku  ditugasi Ibu mengurusi administrasi keuangan jahitan.  Demikian, aku mulai belajar akuntansi sederhana, dan mengelola keuangan usaha kecil-kecilan Ibu.  Aku  belajar tentang aliran uang keluar dan pemasukkan. Ibu mengatakan, aliran uang masuk dan keluar itu dalam bahasa ekonominya adalah cash flow. Untuk setiap pengeluaran aku mencatatnya dengan seksama dari bon  pembelian, juga berapa pemasukan Ibu.  Sebagian pendapatan Ibu dipakai   untuk keperluan kami sehari-hari dan sebagian  ditabung.  Aku  pergi ke bank untuk menabung  seminggu sekali -  saat istirahat  sekolah.

            Penghasilan penjahit, apalagi tinggal di kota kecil seperti Cianjur tidaklah besar. Aku tahu benar, berapa penghasilan Ibu setiap harinya, apalagi menjahit dengan cara yang sangat manual. Tetapi, kami berhemat. Agar jangan sampai ada pemborosan.      

“Menjadi penjahit membuat kita akan terikat dan tak bisa pergi ke mana-mana. Tetapi, ini pekerjaan yang paling aman untuk Ibu untuk saat ini.”
            “Bu, apakah Ibu tidak pikirkan mencari yang membantu Ibu menjahit, bagaimana jika Ibu sakit?” tanyaku.
Ibu sesaat  terdiam. Sepertinya, ia tidak menyangka penyataannya malah ditanggapi dengan pertanyaanku.
            “Untuk sementara, Ibu masih bisa menanggulanginya sendiri.”
            “Tapi usaha Ibu tak akan besar jika terus menerus mengandalkan tenaga Ibu sendirian,” tukasku.
            “Ibu tak menyangka kau sudah bisa berpikir dewasa,” puji Ibu sambil memeluk bahuku.  Aku tertawa,
            “Anak Ibu…!”
            “Ada benarnya, Ibu memang harus mencari orang untuk membantu,” katanya dengan wajah cerah.


            ***


Orang yang membantu Ibu adalah seorang perempuan muda bernama Entin.  Umurnya baru delapan belas tahun, tetapi ia sudah menjanda – janda tanpa anak, tanpa surat cerai. Suaminya orang seberang, yang meninggalkan Entin begitu saja ketika sang lelaki itu pulang ke kampung halamannya di Sumatera. Entin tidak tahu kemana harus menyusul suaminya, karena ia tak pernah tahu persis asal usul suaminya – kecuali ia  pernah menjadi seorang pedagang kaki lima di salah satu sudut kota Cianjur.

            Entin bertubuh gempal dan berambut keriting sebahu. Bibirnya penuh dan matanya seperti hendak meloncat keluar. Sulit membedakan bagaimana matanya seperti hendak keluar – ia sedang marah ataukah  sedang bersedih ?  Karena seperti itu  dari sono-nya. Suaranya bergema selayak raksasa eh raksisi.  Kendati nasib malang menyambanginya, ia nampaknya tidak terlalu banyak ambil pusing, sangat easy going.  Ia adalah perempuan periang.

            “Aku tak sedih, setidaknya aku pernah laku pada seorang lelaki..” katanya sambil ngikik. Bayangkan…untuk sebuah pernikahan,  Entin menyamakan dirinya dengan barang atau sepotong ikan asin dengan kata ‘laku’. 
            “Kamu mau begitu saja dinikahi tanpa surat resmi?” tanya Ibu terheran-heran.
Entin hanya tertawa, dan berkata  ringan dengan jawaban yang tidak terlalu  nyambung dengan pertanyaan dalam susunan bahasa yang teramat kacau,
            “Aku terlalu gembira, ternyata di dunia ini ada yang suka padaku. Ini pertama kalinya dalam hidup ada yang mengatakan, aku cinta padamu. Lalu, aku minta dinikahi saat itu juga. Ia setuju, karena kebetulan kontrakan rumahnya habis, dia tak punya uang. Demikian, lalu ia menumpang di rumah orang tuaku sampai ia punya uang untuk pulang ke Sumatera..”
            Ibuku tertawa kecil  sambil geleng-geleng kepala,
            “Itu namanya dia mau cari tempat menumpang gratis bukan bersungguh-sungguh menikahimu,” jelas Ibu meluruskan logika Entin yang konyol itu. Perempuan lulusan sekolah dasar itu hanya melongo. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


***


Sebenarnya, karakter Entin agak diragukan untuk dijadikan asisten Ibu, di samping berpendidikan rendah ia terlalu dangkal dan begitu lugu. Tetapi Ibu memiliki keyakinan lain,  bahwa kepribadian manusia itu adalah  sebuah proses yang akan tumbuh dan berkembang. Ibu melihat ada  nilai lebih lain dari Entin, rajin dan jujur. Itu sudah cukup menjadi modal dalam hidup.  Ibu mengambil resiko dengan mengajari Entin menjahit mulai dari nol. Bonus  Kami berdua adalah rasa  senang dengan kehadirannya yang jenaka,
            “Entin..” panggil Ibu.
            “Kulan ..”
            “Nama lengkapmu itu Entin Sumartini, ya..?”
            “Itu nama dulu, Bu. Mulai hari ini saya mau ganti nama..”
            “Mengapa..?”
            “Nama asli Titik Puspa kan Sudarwati, karena ganti nama dia hoki..”
            “Lantas..?”
            “Saya mau ganti nama di sini menjadi Tineke Putri..” katanya dengan muka serius.

Aku meledak dalam tawa. Tak nahan rasanya, antara muka  dan nama tidak nyambung sama sekali. Ingin rasanya berkata, “Ceu Entin, apa kamu enggak  ngaca?” Tapi aku tak mengatakan apa pun, khawatir menyakitinya karena memasuki penghinaan fisik.
            “Kalau Rin Tin Tin bagaimana..?” godaku sambil mengulum senyum teringat sebuah judul buku yang diangkat dalam  serial film klasik  The Adventures of Rin Tin Tin.
            “Hai..aku bukan anjing..!” katanya sambil memonyongkan bibirnya yang sudah monyong dan memelototkan matanya yang sudah melotot.
Aku semakin ngakak melihat polahnya. Aku tahu, ia tak serius – walaupun memperlihatkan muka seseram apa pun.
            Ibu mengajari Tineke Putri mulai dari hal yang paling mendasar, merapikan alat-alat menjahit untuk disimpan kembali pada tempatnya,
            “Ini disiplin yang sangat sederhana,” ucap Ibu.
            “Apa jadinya jika seorang penjahit menyimpan jarum dan benang disembarang tempat,” lanjutnya.
            Ruang kerja yang kacau itu sungguh membuat pikiran ikut kusut. Demikian pula ruangan di rumah yang berantakan, kamar yang berantakan mengirimkan energi negatif. Aku selalu teringat kata-kata dari Ibu,
            “Mira, jika kau ingin tahu   gaya hidup seorang perempuan, liat lemari pakaiannya,  cukuplah itu jadi kesimpulan siapa dia. Dalam lemari seorang perempuan terekam di dalamnya mode, pilihan warna, kerapian, ketertiban susunan baju, estetika. Lemari pakaian yang kacau itu sebagai tanda ia bukan perempuan yang apik.”

            Tineke yang ikut menguping mendengarkan dengan seksama.
            “Di rumahku, aku tidak punya lemari pakaian, Bu. Baju-bajuku, kusimpan di dalam dus. Ini bagaimana..?” komentarnya sambil ngikik.
            “Wah..! sengaja ya, disimpan di dus, biar Ceu Tineke gampang kalau mau minggat,” kataku sambil tertawa. Agak canggung memanggil nama baru Tineke dan Ceu  sebagai panggilan kepada perempuan yang lebih tua di tanah  Sunda ini.  Lebih mudah bagiku  memanggil nama Ceu Mimin atau Ceu Onah.
 Tineke tertawa tergelak.

           



1 komentar:

  1. Pertamax....... demen aku cara berceritanya mbak.... nunggu lanjutannya

    BalasHapus