4
Estetika Tailor
Ketika sang Raja mengetahui, bahwa putrinya telah dikutuk oleh peri hutan yang jahat bahwa putrinya akan
tidur selamanya – maka ia meminta seluruh
mesin-mesin pemintal dimusnahkan di seluruh negeri. Tepat di usia ke-16 nanti,
seandainya sang putri terluka
oleh jarum mesin pemintal, ia akan tidur. Hanya ciuman sang pangeran –
cinta sejati – yang akan mampu membangunkannya.
***
Pada
usia remaja, aku bukan dijauhkan dari jarum seperti Putri Tidur
– jarum pentul, jarum jahit, jarum mesin
semua ada di sekelilingku. Jarum memiliki nomornya sendiri - semua ukuran jarum
memiliki fungsinya masing-masing. Nomor jarum dimulai dari nomor 8 sampai 19. Nomor-nomor ini menunjukkan tingkat kecocokan
untuk kain yang akan dijahit. Semakin
tebal kain, maka nomor jarum pun semakin besar, sebaliknya – kian tipis kain,
nomornya kian kecil. Seperti untuk kain chiffon, kau harus menggunakan jarum
nomor 8 atau 9. Sementara untuk kain yang super tebal semacam denim atau gordyn, kau sebaiknya menggunakan
jarum nomor 18 atau 19.
Setiap
kali merapikan ruang jahit, kami harus memastikan agar jangan sampai
jarum-jarum jatuh ke lantai. Jarum-jarum
yang tajam itu berkilat-kilat di bawah cahaya matahari yang menelusup melalui
kaca jendela. Jarum-jarum tajam yang sanggup melukai jemari Ibu, sekaligus menjadi jalannya pintu rezeki
bagi kami. Setiap hari aku melihat Ibu
kakinya bergerak, berayun-ayun – seperti mengayuh sepeda, tetapi jalan di
tempat, tak kemana-mana. Andaikan pedal
mesin jahit itu seumpama pedal sepeda
yang bisa menggerakan roda menggelinding ke mana saja, mungkin jarak yang
ditempuh oleh Ibu setiap harinya sekitar enam puluh kilometer. Ibu memakai
mesin jahit klasik. Ini sangat kuno, karena harus menggunakan tenaga kaki. Jika setahun Ibu melakukan perjalanan mengayuh
pedal mesin jahitnya, maka itu telah menempuh
dua ribu dua ratus sembilan puluh kilometer. Setara dengan perjalanan
bolak balik Pulau Jawa. Ibu pun bukan seorang putri, ia hanya seorang janda
yang dicium pahit dan getir kehidupan. Dia harus selalu
terjaga – menjaga seluruh kesadarannya. Bahwa ia harus bertahan dalam
kesendirian yang panjang, tanpa berharap lagi pada ciuman sang pangeran.
Sebelum menjahit, Ibu mengukur terlebih dahulu ukuran
tubuh pelanggannya. Lingkar pinggang, Lingkar dada, lingkar lengan, panjang
lengan dan lainnya. Setelah itu,
membuat pola di atas kertas, sesuai dengan model baju yang akan dijahit. Pola dipakai agar tidak terjadi kesalahan
pada saat menggunting bahan kain. Pola
itu kemudian Ibu tempelkan ke kain, lalu membuat garis dengan bantuan rader,
karbon jahit dan kapur jahit. Kapur jahit dipakai untuk memberi tanda pada bagian-bagian yang tak bisa menggunakan
rader.
Yang paling rumit tatkala membuat pola adalah
saat membuat pecah model dari pola dasar. Namun kesulitan-kesulitan membuat
pola baju untuk para penjahit yang ingin maju seperti Ibu dapat terpecahkan
dengan berlangganan Majalah Burda Moden. Majalah impor dari Jerman
itu tersimpan rapi di rak pojok ruang kerja Ibu berikut majalah So-En terbitan
Jepang. Beberapa majalah wanita dan remaja putri juga ada di sana. Kelengkapan Ibu menyiapkan majalah-majalah
mode disukai para pelanggan. Mereka tidak sulit mencari ide potongan baju.
Hanya, terkadang pelanggan ingin model baju seperti artis di televisi – membuat
Ibu harus menggambar sesuai dengan imajinasi pelanggan.
Menjahit
adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, ketelitian dan konsistensi yang luar biasa. Jika kau adalah seorang
pembosan dan grasa-grusu, jangan
harap akan mampu menyelesaikan baju, sekalipun hanya satu potong. Boleh jadi,
kau hanya akan semangat pada awalnya, tetapi di ujung pada saat kain untuk
lengan mesti disambungkan, kau menundanya – terus menunda, sampai engkau lupa
bahwa engkau harus menuntaskan pekerjaan
di mana kau telah bertransaksi dengan niat dan waktu.
Semula,
yang menjahit kepada Ibu hanya satu dua orang, itu pun dari tetangga-tetangga
kami yang sudah mengenal – semasa Ibu gadis memang sudah menjahit. Jahitan Ibu terkenal
rapi. Iklan dari mulut ke mulut akhirnya
beredar juga. Beberapa bulan kemudian,
jahitan Ibu mulai banyak.
Ibu selalu memberi pelayanan jahitan yang rapi
dan tepat janji. Konon, ada beberapa janji yang tak perlu diseriusi : Yang pertama, janji politik.
Kedua, janji sehidup semati orang yang tengah dimabuk cinta. Ketiga, janji
tukang jahit. Karena tukang-tukang jahit umumnya adalah kumpulan orang yang
suka mengingkari janji.
Ibu
tak ingin ingkar janji. Karena itu, aku membantu Ibu menuliskan nama
konsumen, jadwal kain datang dan kapan
jahitan selesai dalam papan tulis yang digantungkan di ruang Ibu menjahit.
Demikian, semua jahitan akan dijahit sesuai dengan jadwal antrian. Jika ada
yang ingin cepat-cepat diselesaikan, walaupun dengan bayaran yang lebih mahal,
Ibu akan menolaknya. Ibu bilang, nama baik lebih mahal dari pada uang. Apa jadinya jika
nanti Ibu dikenal sebagai seorang yang suka mengingkari janji.
Aku
ditugasi Ibu mengurusi administrasi keuangan jahitan. Demikian, aku mulai belajar akuntansi
sederhana, dan mengelola keuangan usaha kecil-kecilan Ibu. Aku belajar tentang aliran uang keluar dan
pemasukkan. Ibu mengatakan, aliran uang masuk dan keluar itu dalam bahasa
ekonominya adalah cash flow. Untuk setiap
pengeluaran aku mencatatnya dengan seksama dari bon pembelian, juga berapa pemasukan Ibu. Sebagian pendapatan Ibu dipakai untuk keperluan kami sehari-hari dan
sebagian ditabung. Aku
pergi ke bank untuk menabung
seminggu sekali - saat
istirahat sekolah.
Penghasilan
penjahit, apalagi tinggal di kota kecil seperti Cianjur tidaklah besar. Aku
tahu benar, berapa penghasilan Ibu setiap harinya, apalagi menjahit dengan cara
yang sangat manual. Tetapi, kami berhemat. Agar jangan sampai ada pemborosan.
“Menjadi
penjahit membuat kita akan terikat dan tak bisa pergi ke mana-mana. Tetapi, ini
pekerjaan yang paling aman untuk Ibu untuk saat ini.”
“Bu,
apakah Ibu tidak pikirkan mencari yang membantu Ibu menjahit, bagaimana jika
Ibu sakit?” tanyaku.
Ibu sesaat terdiam. Sepertinya, ia tidak menyangka
penyataannya malah ditanggapi dengan pertanyaanku.
“Untuk
sementara, Ibu masih bisa menanggulanginya sendiri.”
“Tapi
usaha Ibu tak akan besar jika terus menerus mengandalkan tenaga Ibu sendirian,”
tukasku.
“Ibu
tak menyangka kau sudah bisa berpikir dewasa,” puji Ibu sambil memeluk
bahuku. Aku tertawa,
“Anak
Ibu…!”
“Ada
benarnya, Ibu memang harus mencari orang untuk membantu,” katanya dengan wajah
cerah.
***
Orang yang membantu Ibu adalah
seorang perempuan muda bernama Entin. Umurnya
baru delapan belas tahun, tetapi ia sudah menjanda – janda tanpa anak, tanpa
surat cerai. Suaminya orang seberang, yang meninggalkan Entin begitu saja
ketika sang lelaki itu pulang ke kampung halamannya di Sumatera. Entin tidak
tahu kemana harus menyusul suaminya, karena ia tak pernah tahu persis asal usul
suaminya – kecuali ia pernah menjadi seorang
pedagang kaki lima di salah satu sudut kota Cianjur.
Entin
bertubuh gempal dan berambut keriting sebahu. Bibirnya penuh dan matanya
seperti hendak meloncat keluar. Sulit membedakan bagaimana matanya seperti
hendak keluar – ia sedang marah ataukah
sedang bersedih ? Karena seperti
itu dari sono-nya. Suaranya bergema selayak raksasa eh raksisi. Kendati nasib
malang menyambanginya, ia nampaknya tidak terlalu banyak ambil pusing, sangat easy going. Ia adalah perempuan periang.
“Aku
tak sedih, setidaknya aku pernah laku pada seorang lelaki..” katanya sambil
ngikik. Bayangkan…untuk sebuah pernikahan, Entin menyamakan dirinya dengan barang atau
sepotong ikan asin dengan kata ‘laku’.
“Kamu
mau begitu saja dinikahi tanpa surat resmi?” tanya Ibu terheran-heran.
Entin hanya tertawa, dan berkata ringan dengan jawaban yang tidak terlalu nyambung dengan pertanyaan dalam susunan
bahasa yang teramat kacau,
“Aku
terlalu gembira, ternyata di dunia ini ada yang suka padaku. Ini pertama
kalinya dalam hidup ada yang mengatakan, aku cinta padamu. Lalu, aku minta
dinikahi saat itu juga. Ia setuju, karena kebetulan kontrakan rumahnya habis,
dia tak punya uang. Demikian, lalu ia menumpang di rumah orang tuaku sampai ia
punya uang untuk pulang ke Sumatera..”
Ibuku
tertawa kecil sambil geleng-geleng
kepala,
“Itu
namanya dia mau cari tempat menumpang gratis bukan bersungguh-sungguh
menikahimu,” jelas Ibu meluruskan logika Entin yang konyol itu. Perempuan lulusan
sekolah dasar itu hanya melongo. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
***
Sebenarnya, karakter Entin agak diragukan
untuk dijadikan asisten Ibu, di samping berpendidikan rendah ia terlalu dangkal
dan begitu lugu. Tetapi Ibu memiliki keyakinan lain, bahwa kepribadian manusia itu adalah sebuah proses yang akan tumbuh dan
berkembang. Ibu melihat ada nilai lebih
lain dari Entin, rajin dan jujur. Itu sudah cukup menjadi modal dalam hidup. Ibu mengambil resiko dengan mengajari Entin
menjahit mulai dari nol. Bonus Kami
berdua adalah rasa senang dengan kehadirannya
yang jenaka,
“Entin..”
panggil Ibu.
“Kulan ..”
“Nama
lengkapmu itu Entin Sumartini, ya..?”
“Itu
nama dulu, Bu. Mulai hari ini saya mau ganti nama..”
“Mengapa..?”
“Nama
asli Titik Puspa kan Sudarwati, karena ganti nama dia hoki..”
“Lantas..?”
“Saya
mau ganti nama di sini menjadi Tineke Putri..” katanya dengan muka serius.
Aku meledak dalam tawa. Tak nahan
rasanya, antara muka dan nama tidak
nyambung sama sekali. Ingin rasanya berkata, “Ceu Entin, apa kamu enggak ngaca?” Tapi aku tak mengatakan apa pun,
khawatir menyakitinya karena memasuki penghinaan fisik.
“Kalau
Rin Tin Tin bagaimana..?” godaku sambil mengulum senyum teringat sebuah judul
buku yang diangkat dalam serial film
klasik The Adventures of Rin Tin Tin.
“Hai..aku
bukan anjing..!” katanya sambil memonyongkan bibirnya yang sudah monyong dan
memelototkan matanya yang sudah melotot.
Aku semakin ngakak melihat polahnya.
Aku tahu, ia tak serius – walaupun memperlihatkan muka seseram apa pun.
Ibu
mengajari Tineke Putri mulai dari hal yang paling mendasar, merapikan alat-alat
menjahit untuk disimpan kembali pada tempatnya,
“Ini
disiplin yang sangat sederhana,” ucap Ibu.
“Apa
jadinya jika seorang penjahit menyimpan jarum dan benang disembarang tempat,”
lanjutnya.
Ruang
kerja yang kacau itu sungguh membuat pikiran ikut kusut. Demikian pula ruangan
di rumah yang berantakan, kamar yang berantakan mengirimkan energi negatif. Aku
selalu teringat kata-kata dari Ibu,
“Mira,
jika kau ingin tahu gaya hidup seorang
perempuan, liat lemari pakaiannya,
cukuplah itu jadi kesimpulan siapa dia. Dalam lemari seorang perempuan
terekam di dalamnya mode, pilihan warna, kerapian, ketertiban susunan baju,
estetika. Lemari pakaian yang kacau itu sebagai tanda ia bukan perempuan yang
apik.”
Tineke
yang ikut menguping mendengarkan dengan seksama.
“Di
rumahku, aku tidak punya lemari pakaian, Bu. Baju-bajuku, kusimpan di dalam
dus. Ini bagaimana..?” komentarnya sambil ngikik.
“Wah..!
sengaja ya, disimpan di dus, biar Ceu Tineke
gampang kalau mau minggat,” kataku sambil tertawa. Agak canggung memanggil nama
baru Tineke dan Ceu sebagai panggilan kepada perempuan yang lebih
tua di tanah Sunda ini. Lebih mudah bagiku memanggil nama Ceu Mimin atau Ceu Onah.
Tineke tertawa tergelak.
Pertamax....... demen aku cara berceritanya mbak.... nunggu lanjutannya
BalasHapus