Salah
satu yang saya syukuri di dalam hidup ini
adalah bertemu seorang makhluk Tuhan, yang bernama Tuty
Yosenda. Kami bersahabat dekat bertahun-tahun lamanya. Tuty hanyalah salah satu diantara deretan sahabat-sahabat saya yang banyak, di mana saya
sangat menghormati dan menghargai mereka semua - saya sulit menyebut satu persatu di dalam ruang
ini. Perbedaannya mungkin karena saya dan Tuty- pernah tidur sekasur, ngobrol di atas tempat tidur
berdua sambil memeluk bantal, juga tidur
satu tenda di puncak gunung - sering
menempuh perjalanan panjang berdua dan berbincang tentang warna langit,
pepohonan sampai belalang, dan saling menelefon diwaktu (yang sangat kurang
ajar) – tengah malam. Atau, berkirim
pesan di dini hari, hanya untuk mengatakan ‘Ayo..nulis..nulis..!’
atau pesan singkat di waktu pagi, ‘Hai..! aku sedang mengintip burung untuk dipotret.
Sepertinya ia sejenis burung Kolibri..!” Tra lala Tri lili..
***
![]() |
| Buku 'Demi Waktu' (foto : Tuty Yosenda) |
Buku ‘Demi Waktu’ yang ia tulis adalah jiwa Tuty yang selama
ini saya kenali. Juga, tingkah laku keseharian Tuty yang berpikir merdeka namun
santun, serta bonus yang lainnya adalah ‘lucu
dan menggoda’. Tuty selalu berbincang soal-soal seperti ini dengan saya - yang ia
kuliti dari hal sederhana yang tak terpikirkan oleh kebanyakan
orang. Perbedaannya, perspektif berpikir Tuty demikian mendalam, ilmiah, argumentatif dan
imajinatif serta racikan berpikir dan tulisannya amat ‘gaya’.
Ciri khas lain dari pemikiran Tuty
adalah, selalu menyikapi banyak hal yang ‘buruk’ dalam perspektif dengan citra positif dan dewasa.
Sungguh pun buku ini adalah bunga rampai yang disusun sebagai
dokumentasi pikiran-pikiran Tuty, namun ciri khas berpikir Tuty sangatlah kuat
di pemikiran-pemikiran humanis dalam bingkai Islam yang kental serta filosofis.
Bagi Tuty, seluruh alam raya ini adalah
guru terbaiknya – melebihi kata-kata ribuan jilid buku. Selayak Sun Go Kong
yang mencari kitab suci sang Buddha dengan menjelajah dunia. Ternyata kitab
suci sejati bukan kitab yang penuh dengan aksara,
melainkan kitab yang tanpa aksara. (Hahaha..baru kali ini punya ide jahil, menyamakan
Tuty dengan si Kera Sakti..!)
Beberapa diantara pemikiran-pemikirannya; Tuty mendeskripsikan tentang personifikasi di
dalam Aqur’an tentang jaring laba-laba yang lemah, dengan sifatnya yang
berwujud material dan visual sebagai refleksi makhluk soliter dan individualis.
Laba-laba adalah metafora dari ideologi tentang kehidupan di mana ukuran sukses
berhubungan dengan material yang memiliki keterukuran inderawi. Sementara, semut
dan lebah lebih kepada penghayatan non
material, melainkan kedisiplinan, kerja keras dan kerja sama.
Dalam ‘Demi Waktu’ –
Tuty melukiskan waktu seakan ‘voucher’ yang diberikan oleh Tuhan –
Tuty melukiskan, kehidupan ini hakikatnya bukan kompetisi dengan orang,
melainkan kompetisi dengan waktu. Jangan
sampai waktu dihamburkan untuk pembelajaran yang sia-sia dan langkah-langkah
hampa. Selayaknya, waktu dibelanjakan
untuk menemukan orbit baru, melanjutkan perjalanannya sendiri, atau menembus
ruang waktu yang lebih jauh. Waktu diproyeksikan untuk karya-karya yang membuat
kita memiliki masa edar yang melampaui jatah usia kita sendiri.
Sebagai seorang yang hobi fotografi, dengan santai ia bicara
soal ‘agama Nikon’ – Nikonisme akhirnya dipandang Tuty bukanlah sesuatu yang
penting. Jika merek kamera itu dianalogikan sebagai ‘the song’ maka fotografer adalah ‘the singer’. Jika agama itu ‘the song’ maka manusia itu adalah ‘the singer’ – karya masterpiece Tuhan. Untuk mengeja tulisan
ini memang harus hati-hati, jika kau seorang fanatik membabi-buta soal agama
mungkin persepsinya akan kemana-mana. Namun senyatanya, Islam yang indah akan
tampak brutal dan mengerikan di tangan penganutnya yang berhati bar-bar.
Tuty juga dengan manis berkata tentang – semua yang ada di
dunia ini hanyalah ‘alat peraga’ Tuhan – layaknya memasuki panggung
dongeng. Banyak manusia mengira, segala
hal di dunia ini bukan dirinya – padahal, semakin lama kita akan melihat kita
lah yang hidup dalam dongeng tersebut. Tuty mengajak
pembacanya melakukan review dan
koreksi terhadap satu-satunya hidup yang dimiliki.
Tulisan-tulisan Tuty mengingatkan saya pada sebuah kalimat
indah dari seorang sufi, Al Bashri, “Sesungguhnya,
hakikat dirimu adalah waktu. Tatkala waktu hilang, maka lenyaplah pula dirimu.”
Tulisan Tuty juga mengingatkan saya pada tulisan Agustinus Wibowo dalam kisah perjalanannya di
buku ‘Titik Nol’ – Bahwa waktu adalah
makhluk yang tak terjamah yang memiliki kuasa untuk menampilkan segala
kontradiksi. Waktu selalu misterius. Semua berubah bersama waktu.
Ada
Waktu untuk dilahirkan, ada Waktu untuk mati.
Ada
Waktu untuk menanam, ada Waktu untuk mencabut.
Ada
Waktu untuk membunuh, ada Waktu untuk menyembuhkan.
Ada
Waktu untuk menangis, ada Waktu untuk tertawa.
Ada
Waktu untuk mencari, ada Waktu untuk melepaskan…..
Kita hanya bisa pasrah mengikuti
permainan-Nya.
***
![]() |
| Tuty Yosenda (Dokumen Pribadi) |
Tuty, ‘Demi Waktu’ semoga kau terus berkarya untuk
menghasilkan sesuatu yang melampaui masa edarmu di dunia. Dan ‘Demi Waktu’ –
semoga kau tetap menggenapi waktu hidupku – menjadi sahabatku dan sahabat semua
orang - untuk saling berbagi rasa hormat dan kekaguman. Mungkin kita masih akan
tetap telefonan di tengah malam, tanpa
takut kehilangan sepatu kaca – lalu kereta
kuda berubah menjadi tikus dan semangka. Biarkan saja waktu mengalirkan kita
untuk kian tertunduk dan merasa, bahwa kita bukan siapa-siapa di dunia ini.
Menjadi Upik Abu jauh lebih berharga karena tangan dan hatinya bekerja,
daripada menjadi Cinderella yang hidup di alam simbol, di mana hidup tak pernah
mempertanyakan kemana tujuannya. Hari-hari
bergulir tak bertujuan – sungguh ini siksaan
berat untuk kita.
Kita bukan perempuan bersepatu kaca – cukuplah sepatu yang
bisa dipakai untuk menjelajah semesta untuk melihat dunia luas sambil menenteng
kamera – entah Fuji, Nikon, Canon atau merek Mak Inem – tak penting lagi. Lalu, mata kita terpukau melihat keragaman di
alam raya dan uniknya setiap sudut pandang manusia – memuliakan semua jiwa dengan rasa hormat yang dalam. Semua manusia
dalam alam raya ini memang alat peraga untuk menemukan Tuhan di dalam diri. Untuk
semua ini saya masih belajar – berproses dan mencoba memaknai.
Pada suatu hari kita akan berkata – simbol dan tubuh adalah hal usang untuk dibanggakan
dan juga sebagai pusat cerita. Demi
Waktu, selamat tinggal langkah-langkah hampa. Kita akan mengukir jejak
selanjutnya menyisipkan pesan untuk generasi sesudah kita. Semoga kelak kita
meninggal dunia dengan hati terbuka dan perasaan bahagia.
Let’s go….!
Kita berangkat.
_____________
Bandung,
22 Juli 2014
*) Catatan : tulisan ini bukan resensi,
tetapi hanya sambutan hangat kelahiran
buku, ‘Demi Waktu’ dari seorang sahabat yang sangat mengasihimu...:)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar