Selasa, 22 Juli 2014

'Demi Waktu'



Salah satu yang  saya syukuri di dalam hidup ini adalah   bertemu seorang makhluk Tuhan, yang bernama Tuty Yosenda. Kami bersahabat dekat bertahun-tahun lamanya. Tuty hanyalah  salah satu diantara deretan  sahabat-sahabat saya yang banyak, di mana  saya  sangat  menghormati dan menghargai  mereka semua -   saya  sulit menyebut satu persatu di dalam ruang ini.   Perbedaannya mungkin karena saya dan Tuty-  pernah   tidur sekasur, ngobrol di atas tempat tidur berdua sambil memeluk bantal,  juga tidur satu tenda di puncak gunung -  sering menempuh perjalanan panjang berdua dan berbincang tentang warna langit, pepohonan sampai belalang, dan saling menelefon diwaktu (yang sangat kurang ajar) – tengah malam. Atau,  berkirim pesan di dini hari, hanya untuk mengatakan ‘Ayo..nulis..nulis..!’  atau pesan singkat di waktu pagi, ‘Hai..! aku sedang mengintip burung untuk dipotret. Sepertinya ia sejenis burung Kolibri..!” Tra lala Tri lili..

***

Buku 'Demi Waktu'  (foto : Tuty Yosenda)

Buku ‘Demi Waktu’ yang ia tulis adalah jiwa Tuty yang selama ini saya kenali. Juga, tingkah laku keseharian Tuty yang berpikir merdeka namun santun,  serta bonus yang lainnya adalah ‘lucu dan menggoda’.  Tuty selalu berbincang  soal-soal seperti ini dengan saya -  yang  ia kuliti  dari hal  sederhana yang tak terpikirkan oleh kebanyakan orang.  Perbedaannya,  perspektif berpikir Tuty  demikian mendalam, ilmiah, argumentatif dan imajinatif serta racikan berpikir dan tulisannya  amat  ‘gaya’.  Ciri khas lain dari pemikiran Tuty adalah, selalu menyikapi banyak hal yang ‘buruk’ dalam  perspektif dengan citra  positif dan dewasa.


Sungguh pun buku ini adalah bunga rampai yang disusun sebagai dokumentasi pikiran-pikiran Tuty, namun ciri khas berpikir Tuty sangatlah kuat di pemikiran-pemikiran humanis dalam bingkai Islam yang kental serta filosofis.  Bagi Tuty, seluruh alam raya ini adalah guru terbaiknya – melebihi kata-kata ribuan jilid buku. Selayak Sun Go Kong yang mencari kitab suci sang Buddha dengan menjelajah dunia. Ternyata kitab suci  sejati    bukan kitab yang penuh dengan aksara, melainkan kitab yang tanpa aksara. (Hahaha..baru kali ini punya ide jahil, menyamakan Tuty dengan  si Kera Sakti..!)


Beberapa diantara pemikiran-pemikirannya;  Tuty mendeskripsikan tentang personifikasi di dalam Aqur’an tentang jaring laba-laba yang lemah, dengan sifatnya yang berwujud material dan visual sebagai refleksi makhluk soliter dan individualis. Laba-laba adalah metafora dari ideologi tentang kehidupan di mana ukuran sukses berhubungan dengan material yang memiliki keterukuran inderawi. Sementara, semut dan lebah  lebih kepada penghayatan non material, melainkan kedisiplinan, kerja keras dan kerja sama.


Dalam  ‘Demi Waktu’ – Tuty  melukiskan waktu seakan ‘voucher’ yang diberikan oleh Tuhan – Tuty melukiskan, kehidupan ini hakikatnya bukan kompetisi dengan orang, melainkan kompetisi dengan waktu.  Jangan sampai waktu dihamburkan untuk pembelajaran yang sia-sia dan langkah-langkah hampa. Selayaknya, waktu  dibelanjakan untuk menemukan orbit baru, melanjutkan perjalanannya sendiri, atau menembus ruang waktu yang lebih jauh. Waktu diproyeksikan untuk karya-karya yang membuat kita memiliki masa edar yang melampaui jatah usia kita sendiri.


Sebagai seorang yang hobi fotografi, dengan santai ia bicara soal ‘agama Nikon’ – Nikonisme akhirnya dipandang Tuty bukanlah sesuatu yang penting. Jika merek kamera itu dianalogikan sebagai ‘the song’ maka fotografer adalah ‘the singer’. Jika agama itu ‘the song’ maka manusia itu adalah ‘the singer’ – karya masterpiece Tuhan. Untuk mengeja tulisan ini memang harus hati-hati, jika kau seorang fanatik membabi-buta soal agama mungkin persepsinya akan kemana-mana. Namun senyatanya, Islam yang indah akan tampak brutal dan mengerikan di tangan penganutnya yang berhati bar-bar.


Tuty juga dengan manis berkata tentang – semua yang ada di dunia ini hanyalah ‘alat peraga’ Tuhan – layaknya memasuki panggung dongeng.  Banyak manusia mengira, segala hal di dunia ini bukan dirinya – padahal, semakin lama kita akan melihat kita lah yang  hidup  dalam dongeng tersebut. Tuty mengajak pembacanya melakukan review dan koreksi terhadap satu-satunya hidup yang dimiliki.


Tulisan-tulisan Tuty mengingatkan saya pada sebuah kalimat indah dari seorang sufi, Al Bashri, “Sesungguhnya, hakikat dirimu adalah waktu. Tatkala waktu hilang, maka lenyaplah pula dirimu.” Tulisan Tuty juga mengingatkan saya pada tulisan  Agustinus Wibowo dalam kisah perjalanannya di buku  ‘Titik Nol’ – Bahwa waktu adalah makhluk yang tak terjamah yang memiliki kuasa untuk menampilkan segala kontradiksi. Waktu selalu misterius. Semua berubah bersama waktu.


Ada Waktu untuk dilahirkan, ada Waktu untuk mati.
Ada Waktu untuk menanam, ada Waktu untuk mencabut.
Ada Waktu untuk membunuh, ada Waktu untuk menyembuhkan.
Ada Waktu untuk menangis, ada Waktu untuk tertawa.
Ada Waktu untuk mencari, ada Waktu untuk melepaskan…..


Kita hanya bisa pasrah mengikuti permainan-Nya.

***


Tuty Yosenda  (Dokumen Pribadi)


Tuty, ‘Demi Waktu’ semoga kau terus berkarya untuk menghasilkan sesuatu yang melampaui masa edarmu di dunia. Dan ‘Demi Waktu’ – semoga kau tetap menggenapi waktu hidupku – menjadi sahabatku dan sahabat semua orang - untuk saling berbagi rasa hormat dan kekaguman. Mungkin kita masih akan  tetap telefonan di tengah malam, tanpa takut kehilangan sepatu kaca – lalu  kereta kuda berubah menjadi tikus dan semangka. Biarkan saja waktu mengalirkan kita untuk kian tertunduk dan merasa, bahwa kita bukan siapa-siapa di dunia ini. Menjadi Upik Abu jauh lebih berharga karena tangan dan hatinya bekerja, daripada menjadi Cinderella yang hidup di alam simbol, di mana hidup tak pernah mempertanyakan kemana tujuannya.  Hari-hari bergulir tak bertujuan – sungguh  ini siksaan  berat untuk kita.


Kita bukan perempuan bersepatu kaca – cukuplah sepatu yang bisa dipakai untuk menjelajah semesta untuk melihat dunia luas sambil menenteng kamera – entah Fuji, Nikon, Canon atau merek Mak Inem – tak penting lagi.  Lalu, mata kita terpukau melihat keragaman di alam raya dan uniknya setiap sudut pandang manusia – memuliakan semua jiwa  dengan rasa hormat yang dalam. Semua manusia dalam alam raya ini memang alat peraga untuk menemukan Tuhan di dalam diri. Untuk semua ini saya masih belajar – berproses dan mencoba memaknai.


Pada suatu hari kita akan berkata – simbol  dan tubuh adalah hal usang untuk dibanggakan dan juga  sebagai pusat cerita. Demi Waktu, selamat tinggal langkah-langkah hampa. Kita akan mengukir jejak selanjutnya menyisipkan pesan untuk generasi sesudah kita. Semoga kelak kita meninggal dunia dengan hati terbuka  dan  perasaan bahagia.

Let’s go….!
Kita berangkat.

_____________                                                                                          
Bandung, 22 Juli 2014

*) Catatan : tulisan ini bukan resensi, tetapi hanya sambutan hangat  kelahiran buku, ‘Demi Waktu’ dari  seorang  sahabat yang sangat  mengasihimu...:)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar