Sabtu, 19 Juli 2014

Mozaik

                                    2

                     Menyusun Puzzle

 Bis   yang membawa kami melaju meninggalkan batas kota.    Jalan yang berkelok-kelok, menikung, menanjak dan menurun menyambut perjalanan ini. Bis jurusan Ciamis – Jakarta ini sarat muatan. Penumpang dengan hampir seluruh usia ada di sini -  mulai anak kecil  hingga kakek-nenek, tak terkecuali.  Kami duduk di bangku dekat pintu.   Rambutku yang panjang dan lurus dikepang dua. Aku memakai baju berwarna merah muda, bertali pinggang  dengan sepatu berwarna hitam.  Ibu memakai baju dengan motif bunga-bunga, rambutnya yang panjang disanggulkan.  Begitu anggun. Ia duduk  di sampingku, terkadang ia mengelus-elus kepalaku penuh kasih  ketika kusandarkan tubuhku padanya sambil memerhatikan lalu lalang penumpang dihadapan, dan membaca suasana dengan pikirannya.

“Kita akan melihat dan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya, Mira,” katanya sambil tersenyum lembut tetapi  tersirat   kesedihan dari raut mukanya.  Namun kalimatnya yang tercekat dan bergetar membuatku tahu, sesungguhnya Ibu masih  menyimpan kepedihan di ruang jiwanya yang maha dalam.   Ucapan yang terlontar untukku  hanya kalimat peneguhan, juga menguatkan hatinya sendiri. Aku sudah sangat mengenal Ibu.

Baris bangku dekat pintu  tengah bukan tempat yang strategis, karena pintu sering terbuka untuk naik dan turun penumpang dan angin  telalu besar di sini. Tetapi kami tak banyak pilihan, karena kami bukan penumpang yang pertama kali naik saat kursi kosong masih begitu banyak tersedia. Ada beberapa bangku di belakang, tetapi Ibu sudah memperhitungkan, pasti duduk di bangku baris belakang guncangan bis akan terasa lebih kuat dan akan terasa lebih melelahkan untuk perjalanan yang relatif cukup panjang.

 Bis yang kutumpangi berwarna putih biru, dengan tirai dari kain berwarna merah  cabe mengkilat  yang dapat ditutup dan dibuka kapan saja - ketika penumpang mulai terganggu oleh sengatan cahaya matahari.  Sebenarnya, tirai  warna merah cabe  mengkilat  tak cocok  sebagai tirai dengan paparan cahaya matahari yang kuat nanti di siang hari. Warna merah cabe mengkilat  di terik matahari yang menembus kaca akan menambah  ketajaman cahaya. Aura warna ini akan semakin meletihkan perjalanan. Mungkin pemilik bis ini tidak sempat menimbang psikologi warna, dan  pengaruhnya untuk penumpang.

Aku membuka tirai itu sepanjang perjalanan. Aku tak suka  tirai tertutup, kecuali malam hari. Aku senang melihat aneka pemandangan dari balik jendela, karena  aku senang melihat kehidupan.  Di sepanjang perjalanan, pohon-pohon di kiri dan kanan seakan berlarian. Seakan berkejaran. Sementara matahari pagi  tak henti  terus mengikuti dari balik kaca jendela, cahayanya berkelebat membentuk bentuk-bentuk siluet abstrak yang berubah-rubah, tergantung kepada benda yang menghalangi di sepanjang perjalanan diantara aku dan matahari.

Kondektur  yang berbadan ceking, berambut lurus dan berumur sekitar tiga puluhan,  berdiri di pintu dan mengacung-acungkan tangannya di jalanan ketika  bis sedang melaju. Kadang ia turun di pertigaan atau perempatan jalan untuk menyelidik situasi, barangkali ada calon penumpang yang akan pergi.

“Jakarta…Jakarta…Bandung…Cianjur…Bogor…”
Ya, bis ini memang menuju Jakarta via Puncak.
Terkadang kondektur  berlari-lari kecil  ketika sopir bis menekan gas mobil pelan-pelan,
“Hayuuu..tariik Piir…!”  sambil meloncat. Maksudnya, jalan  lagi Sopir..

 Wajah kondektur itu  menyemu menghitam karena terlalu sering ditabrak angin kencang jalanan dari laju bis yang menyeruak menghantam udara,  dan panas matahari karena acapkali berdiri di pintu bis.   Bayangkan, dari Ciamis sampai Jakarta pulang-pergi. Hampir begitu setiap hari.  Seandainya wajah itu dioles susu pembersih wajah dan diusap kapas putih, mungkin akan terlihat dikapas  wajahnya ternyata penuh dengan debu-debu hitam selayak jelaga. Entah seberapa banyak dan  seberapa dalam komedo yang membenam di wajahnya.  Untunglah, ia bukan lelaki metroseksual. Lelaki-lelaki metroseksual tak akan ada yang sanggup melakukan pekerjaan semacam kondektur atau sopir bis.  Penghasilan sopir bis dan kondektur dan jenis pekerjaan ini tak akan cukup untuk membiayai gaya hidup lelaki tukang gaya.

Perjalanan terasa begitu lambat karena bis sering berhenti menaik dan menurunkan penumpang. Terkadang sesekali sopir yang tak begitu kuperhatikan dengan cermat raut wajahnya menghentikan laju mobil, menyuruh kondektur membelikan rokok ke warung pinggir jalan.

Beberapa penumpang mulai menggerutu dan mengutuki   kerakusan kondektur bis  memasukkan muatan. Sebagian pasrah saja, dan membiarkannya seolah semua hal yang wajar adanya. Di sisi lain, bolehkah aku memuji?  Ia sungguh   kondektur yang gigih. Sejatinya seperti itulah seorang lelaki sejati -  pekerja keras dan memosisikan diri untuk menjadi  pejuang-pejuang dalam kehidupan.  Sayangnya, ia terlalu  mementingkan diri sendiri.

Tak lama,  bis pun mulai penuh – orang berdiri - sampai ke lorong-lorong. Penumpang berjejal  seperti ikan pindang dalam dandang. Bau parfum murahan menyeruak tertiup angin bersatu dengan bau ketek orang yang jarang mandi, asap rokok,  serta bau minyak angin PPO terhisap di hidung. Bis ini  sungguh berjuta rasanya.

Kondektur pun tersenyum. Ia sudah menghitung keuntungan di depan mata.
Semua kepala dikali dengan rupiah. Oh, ya..soal nyawa, sopir dan kondektur sudah lupa masuk dalam daftar perjalanan. Kenyamanan? Persetan dengan kenyamanan.  Ini masyarakat kelas tiga, Bung! Jangan belagu  sok orang kaya. Nyaman dan tidak nyaman itu soal perasaan.  Siapa yang memuja kenyamanan dan tenggelam di dalam kemewahan  dikehidupan, ketika menghadapi kesulitan ia  tak akan mampu bertahan. Menumpang bis ini  salah satu latihannya.  O lala…!

Sopir bis dan kondektur ini  mirip sekali  dengan oknum  politikus dan pemimpin negeri yang menghitung kepala manusia sebagai jembatan yang memuluskannya mencapai kekuasaan dan keuntungan pribadi. Mereka adalah para pengemudi dan pengawal yang memberi arah pada negara. Dan penumpang yang ada di dalam bis ini adalah rakyat kebanyakan, yang biasanya dijadikan sasaran pencarian suara dukungan.  Tokh,  di negeri ini harga suara yang tidak berpikir dan berpikir itu sama saja. Membeli suara juga hal yang sangat biasa.  Kata Machiavelli, politik itu kotor. Dan untuk mencapai tujuan politik dihalalkan menggunakan cara apa pun. Boleh jadi, banyak calon politisi dan politisi yang mengadopsi paham Machiavelli – termasuk diantaranya sang kondektur. Tetapi, apakah dia pernah mengenal Machiavelli? Kalau dia mendalami Machiavelli ia akan jadi politisi, bukan jadi kondektur.

Nu alit dipangkon..nu alit dipangkon..![1] kata kondektur sambil mendelik ke arah Ibu. Ibu paham, itu artinya sama dengan – agar aku digendong, dan berbagi tempat duduk untuk penumpang lain.

“Di hitung dua..” tegas Ibu.  


Maaf, kami bukan ikan pindang..!


Seorang perempuan muda dengan gincu merah dan baju merah menyala yang  berdiri di lorong tepat di samping duduk kami    berkata pada Ibu,

“ Saya yang gendong putri Ibu, agar saya bisa duduk. Ibu juga akan untung bisa bayar satu,” rajuknya.  Ia sudah melihat kemungkinan – tak akan  tahan akan berdiri begitu lama. Ia akan pergi ke Bandung

Ibu tersenyum.

“Terima kasih. Mohon maaf, Dik..anak saya sering mabuk dalam perjalanan. Ini akan sangat merepotkan,” jawab Ibu sopan.  Ibu nampak benar-benar ingin melindungiku, seperti induk ayam yang akan marah jika anak-anaknya diganggu.

Sontak perempuan itu segera bermuka kecut. Ia tak akan mengambil resiko sebesar itu, mengambil tanggung jawab pada anak perempuan pemabuk. Eh..! maksudku suka muntah dalam perjalanan.

Untuk sementara, aku masih baik-baik saja. Sebagian  penumpang mulai membuka perbekalannya dari rumah, leupeut,  rempeyek dan telor rebus. Ada di antaranya yang  berbekal ayam goreng. Mungkin menyembelih ayam dari kandang di rumahnya kemarin sebagai bekal perjalanan pergi ke tempat yang jauh untuk menghemat uang, agar tidak jajan.  Maklum, di setiap perhentian, bis ini akan diserbu oleh pedagang asongan. Atau, ketika awak bis ini berhenti untuk makan, jika tidak membawa bekal dari rumah akan tergoda untuk ikut makan di rumah makan tersebut.  Mereka orang-orang yang hemat, teteh, akang..!

Sebenarnya, Tasikmalaya-Jakarta tidak terlalu jauh, apalagi ke Cianjur, tidak sampai dua ratus kilometer.  Hanya medan jalannya saja diantara Tasikmalaya- batas Bandung menanjak, berkelok-kelok  dengan lebar jalan yang sempit dan cukup sulit mengendarai mobil di sini. Mereka yang mengendarai mobil di sini haruslah orang yang sudah sangat pengalaman dan trampil.

Aku mulai oleng, ketika bis mencapai tanjakan Gentong. Beberapa penumpang mabuk. Aku tak tahan. Aku muntah.  Boleh jadi, muntah adalah   semacam sugesti  menular akibat menghirup udara yang bersenyawa dengan keluarnya isi perut juga asap dari rokok kretek dan bau berjuta rasa itu.  Lelaki-lelaki semakin banyak yang merokok tanpa belas kasihan kepada penumpang lainnya. Sungguh mereka adalah lelaki-lelaki penyembah egonya sendiri yang tega mendzalimi orang-orang dengan asapnya yang menyesakkan dada. Beberapa orang terbatuk-batuk mengisap asap, tetapi para perokok itu tak peduli.  Jendela  bis dan pintu yang terbuka menyediakan jalan untuk angin dan  membantuku untuk menepis asap rokok.  Tetapi itu membuatku masuk angin dan menyumbang penderitaan yang lainnya.   Aku benci rokok.  Aku  benci asap rokok.  Tetapi aku harus bertahan.  

Mabuk, itulah yang paling aku malas melakukan perjalanan. Karenanya, sekalipun Ibu terkadang pulang ke kampung halamannya di Cianjur – aku hampir tidak ingin ikut serta, kalau tidak terpaksa. Sepanjang hidup, sampai usiaku sekarang dua belas – aku baru empat kali datang ke rumah mendiang kakek dan nenekku, semasa mereka hidup. Itu pun dengan biaya cukup tinggi jika harus menyertakan aku, karena Ayah harus menyewa mobil. Sekarang, kami harus berhemat. Tak boleh ada pengeluaran besar, kecuali mendesak.  Kehidupan kami telah jauh berubah.

Sebenarnya,  sebelum naik bis, Ibu telah memberiku obat anti mabuk. Pemandangan bukit  dan sawah-sawah di sisi kanan-kiri jalan sudah tak lagi memberiku hiburan untuk mengalihkan perhatian agar aku lupa dari rasa mual yang menyergap dan keinginan muntah. Hanya minyak kayu putih yang diusap-usapkan Ibu ke tubuhku yang cukup meredakan penderitaan.

Beberapa kali sopir mengucapkan sumpah serapah mengabsen nama-nama binatang yang amat dikenal  karena motor nyalip seenaknya, atau tiba-tiba diperempatan jalan  mobil nyelonong  tanpa lihat kiri-kanan. Belok tanpa lampu signs.  Kadang keluar juga umpatan khas orang Ciamis atau Tasikmalaya,

Kehed siah..bebel..!”

            “Sabar, ya, nanti sebentar lagi sampai..,” kata Ibu menyemangati.

            Yang disebut sebentar lagi itu begitu lama. Ibu hanya memberiku penghiburan serta harapan yang sebenarnya masih jauh akan sampai.   Bis  tua itu  terseok dan seakan tanpa tenaga  menanjak di tanjakan  Nagreg yang tanjakannya ekstrim dan turunnya curam.  Ini tanjakan yang paling berbahaya di  jalur selatan, jalan protokol Jawa Barat yang menghubungkan Bandung dengan daerah Priangan Timur.

 Hari itu kendaraan cukup padat. Mungkin karena musim libur. Kami memang sengaja menunda ke Cianjur sampai ijazah sekolah dasar  terbit. Segerombolan anak-anak  terlihat membawa kayu pengganjal di tanjakan Nagreg. Terdengar aneh, bukan? Tetapi, untuk mobil yang rem tangannya tidak bekerja optimal, dan muatan berat di tanjakan ini mobil bisa-bisa  meluncur mundur tak terkendali dan menabrak kendaraan lain di belakangnya.

Kondektur bis berteriak-teriak memanggil anak-anak.  Dengan sigap anak-anak itu mengganjal ban saat bis tiba-tiba harus berhenti di tengah tanjakan. Mereka benar-benar piawai membaca gerakan bis, kapan harus diganjal dan kapan harus dilepas, sampai bis nanti mencapai ujung tanjakan dan meluncur bebas tanpa kendala yang berarti. Setelah aman, kondektur  memberikan sejumlah uang kepada para anak-anak itu.

Mobil berhenti sejenak seusai tanjakan Nagreg. Mesin mobil sepertinya sudah panas, sepanas suhu udara yang ada di dalam mobil. Kami seperti ikan dalam akuarium yang kehabisan oksigen dan air yang sudah mengeruh. Sejumlah penumpang membuka jendelanya lebar-lebar dan melongokkan kepala keluar jendela mencari udara.  Ada yang mengipasi tubuhnya dengan kipas kertas kerajinan Rajapolah, Tasikmalaya.  Sejumlah penumpang tak henti menyusut keringatnya dengan sapu tangan atau handuk yang sudah tak terlihat kekuningan.

“Borondong..borondong…dodol…dodol…!” Sejumlah pedagang asong menawarkan dagangannya dari balik jendela. Beberapa diantaranya mencoba masuk, tepatnya memaksa masuk.   Oh, masih di Garut.  Aku hafal, karena borondong dan dodol adalah makanan khas kabupaten Garut.  Aku tak memerhatikan situasinya. Aku pusing…

Kepalaku  terasa semakin berat, perutku  mual kembali. Sepertinya, aku akan mengeluarkan isi perut lagi.  Tiba-tiba, aku teringat sesuatu – batu pusaka dari Truna.Lalu aku mencari-cari batu itu di tasku. Batu hitam sebesar kelereng berbentuk bulat   kugenggam erat-erat.  Sambil tetap menggenggam batu,  kubayangkan ikan-ikan kecil di sungai yang berenang-renang mengikuti aliran air. Ketika aku mual, aku membayangkan sekuntum bunga yang hanyut, sambil mencoba membayangkan, di mana dia akan tersangkut.  Aku seraya berdo’a, semoga ia dapat melalui muara, agar kelak bunga itu mencapai  samudera. Setelah itu, ternyata berhasil.

 Dimulai dari batu kecil hitam itu  aku belajar,  ketika sedang menderita dan menyedihkan, kenanglah yang indah-indah, atau yang membuat tersenyum…


When you change your thoughts, you change your world…


Cicalengka, Rancaekek, dan Bandung telah di lewati. Perjalanan telah sampai ke Tagog Apu. Asap- asap dari pabrik batu kapur memuntahkan jelaga ke udara di antara bukit-bukit kapur yang berdiri tegak menatap langit.  Inilah  artefak-artefak  geologi peninggalan danau Bandung purba.  Bukit-bukit kapur dan marmer ini membuktikan sebuah perjalanan panjang geologis selama ribuan  bahkan jutaan tahun yang lalu. 

Kecepatan bis melambat ketika akan mencapai terminal Muka.  Matahari jam dua belas  memantul di kaca menyilaukan mata. Pedagang-pedagang asongan berlompatan naik ke pintu bis seperti belalang, lalu berteriak-teriak keras  menjajakan dagangan memanfaatkan perjalanan para penumpang. Mesti orang pergi membawa uang. Mungkin ada di antara mereka yang akan membawa oleh-oleh atau sekedar membeli camilan untuk membunuh kebosanan dalam perjalanan. Ya, barangkali saja.  Semoga para penumpang yang super hemat setengah mati sudah turun semua, dan berganti penumpang-penumpang yang merelakan uangnya agar bisa memutar roda ekonomi.

 “Tauco..tauco..!Moci kacang.. moci kacang..! rarokona..rokok..rokooooookkkkk..!!” 
Kerumunan pedagang tak tahu sopan santun mendesak-desak penumpang-penumpang yang akan turun dan yang sedang menyiapkan barang bawaannya. Pedagang-pedagang itu berjuang dengan kegigihan  yang luar biasa.  Pengemis perempuan  setengah baya tak ketinggalan masuk ke bis memasang wajah memelas,

“Kasihan..Neng, Bapak, Ibu…sedekahnya…sedekahnyaa…”

 Dan ini, apa lagi..! Seorang lelaki muda memakai topi haji dan bersarung pengedar kotak amal,
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Innalhamdulillah, nahmaduhuu wa nasta’iinuhuu wa nastaghfiruhu wa na’udzubillahaahi min syuruuri ‘anfusinaa wa min syayyi-aati a’maalinaa man yahdillaahu falaa mudhillalahu wa man yudhlilhu falaa haadiyalahu.”
Setelah itu ia mengucapkan dua kalimat syahadat, dan melanjutkan kalimatnya :
“Kami dari panitia pembangunan mesjid Al Ittihad, yang beralamat di Rangkasbitung, datang mengetuk hati para penumpang  bis yang budiman, untuk menyisihkan infaq dan shadaqohnya, ber-amal jariah. Barangsiapa yang membangun mesjid-mesjid Allah, maka kelak Allah akan memberi pahala dengan membangunkan istana di Surga.!”

            Entahlah, pengedar kotak amal benar-benar panitia pembangunan mesjid atau bukan? Terlalu banyak pedagang agama di negeri ini.

Seekor ayam jantan yang  kedua kakinya yang diikat tali rafia kepalanya terkulai lemas di ketiak seorang lelaki  tua berbaju putih kusam dengan jenggot dan kumis yang tak terurus, dan hampir menutup seluruh bibirnya. Rambutnya sudah keriting, acak-acakkan pula. Entah berapa lama rambut itu tak bersentuhan dengan sisir.  Sepertinya, lelaki  tua itu menduga, ayam jagonya lemas   tersiksa karena kakinya diikat.  Lelaki itu duduk kembali sejenak di kursi, dan membuka ikatan di kaki ayam.

Benar saja, sontak ketika ikatan itu terbuka, ayam jago seolah memiliki kekuatan hebat. Ia lepas dari tangan si lelaki tua itu, melompat-lompat di antara kursi dan kepala para penumpang, masuk dan berlari-lari  di kolong-kolong kursi. Semua orang di bis itu menjadi gaduh dan ribut lalu mengumpat-umpat ayam. Ketika lelaki tua itu mencoba mengejar ayam,  beberapa orang terjatuh. Anak kecil menangis karena kakinya terinjak. Lelaki tua itu rubuh ketika kepalanya membentur keranjang pedagang asongan.

“Bruuuk…!”

Ia lalu  terjatuh.

Sesungguhnya, hiruk pikuk di dalam bis, dan lalu lintas di jalanan, menyembulkan realitas kehidupan masyarakat di negeri ini.  Inilah potret perangai mental  dan kehidupan orang Indonesia yang asli. Konon,   jika ingin menatap budaya  sebuah negeri, cukuplah, lihat bagaimana tingkah laku para pengguna jalan raya. Jika ingin melihat salah satu  gambaran  salah urus negeri ini, cukuplah melihat infrastruktur jalan dan angkutan umum. Di sanalah wajah   Indonesia. Ibu benar, aku sekarang telah melihat  salah satu serpihan refleksi kehidupan di tanah air kita.

  Aku tak tahu, bagaimana kejadian selanjutnya. Ayam pergi ke mana? Sudah tertangkap atau belum? Dan bagaimana nasib lelaki tua itu?  Kami telah turun. Tentu saja, kami lekas turun, karena duduk dekat pintu, dan tak membawa banyak barang. Hanya baju yang lekat di badan  dan tas saja. Itulah sebabnya, kami tak terlalu berpayah-payah keluar dari himpitan penumpang yang akan turun dan  naik , yang berebut keluar-masuk di pintu, kalau perlu saling menyikut. Kami agak melenggang, karena barang-barang dari rumah di Tasikmalaya akan datang minggu depan, diangkut dengan  menggunakan truk.

Tangan ibu menggenggamku keluar dari terminal. Kami berjalan berdua menyeruak di antara lalu lalang orang. Aku tertabrak seorang pedagang asongan. Batu hitam kecilku jatuh, lalu ketendang seseorang. Aku menghentikan langkah dengan perasaan gelisah.

“Ada apa?” tanya Ibu.
“Batu yang dibawa dari sungai jatuh..”
“Lupakan saja, di sini pasti ada batu lainnya yang serupa,” hibur Ibu enteng.
Ringannya kalimat Ibu yang menggampangkan keterkaitan emosiku pada batu itu membuatku  marah. Mungkin aku capek, membuatku mudah meletup emosi.
              “Aku mau batu dari sungai  itu, bukan batu yang ada di sini..!” mataku mulai memerah.
Ibu menghentikan langkahnya, dan melepaskan pegangan tangannya di jemariku.
              “Mira, please jangan mengada-ada. Jangan membiasakan dirimu terikat pada benda.”

              Aku tak mau mendengar kata-kata Ibu. Aku melepaskan diriku dan menjauh dari Ibu sambil mataku mencari, dan terus mencari batu itu. Ibu berdiri mematung sambil geleng-geleng kepala. Ibu yang kelelahan dalam perjalanan dan terik matahari Cianjur yang mulai membakar  kepala bisa saja membuat kemarahannya meledak. Tetapi, ia tidak melakukannya. Ia hanya berdiri dan melihatku dari kejauhan.    Ibu selalu berkata lembut dan memaparkan alasan yang mungkin bagi kebanyakan orang yang sudah dewasa terasa bijak, matang dan dalam, tetapi ditelingaku  terdengar kurang berani, dan kurang gigih meraih kemungkinan menang dan mendapatkan sesuatu. Termasuk ketika sekarang aku kehilangan batu itu.  Aku harus menemukannya…!

             Kusikapkan sampah plastik, koran bekas bungkusan  makanan yang berceceran di pelataran terminal tempat aku mengira-ngira jatuh. Terminal ini memang kotor, banyak sampah berserakan. Aku melihat langkah-langkah kaki orang, barangkali saja ada terinjak atau tertutupi oleh kakinya.  Aku mencari dan terus mencari berkeliling, diantara orang-orang yang tidak peduli.  Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit. Aku tak akan menyerah. Ibu menatapku dan mulai gelisah. Ia menghampiriku dan aku sudah tahu apa yang akan dikatakannya, pasti kembali pada kalimat pertama tadi yang telah diucapkannya, “Lupakan saja, di sini pasti ada batu yang lainnya yang serupa.”

              “Apa yang kau cari, Nak?” tanya seorang lelaki menjelang setengah baya berbaju batik cokelat dengan lembut. Aku mendongakkan kepala. Lelaki itu berperawakan sedang, berkulit sawo matang dengan rambut lurus yang disisir rapi. Tatapan matanya teduh, raut wajah yang sabar.

              Orang Amerika selalu mengajarkan dan mengingatkan anak-anaknya, “Jangan berbicara dengan orang asing.” Tetapi Ibuku selalu berkata, bersikap sopanlah pada orang asing dan  banyaklah mendengarkan.   Biarkan orang asing lebih banyak berbicara, dengan begitu  kita akan  mengetahui maksud dan siapa  mereka.   Keterampilan mendengarkan jauh lebih penting daripada kepandaian berbicara.  Berbicaralah seperlunya, dan jawablah secukupnya. Banyaklah tersenyum.

              Tapi aku tak bisa tersenyum kali ini,  aku terlalu cemas tak menemukan batu hitam kecilku. Mataku berlinang.  Aku hanya bisa menjawab secukupnya,
              “Aku mencari batu hitam yang jatuh tadi.”
              “Di mana tadi jatuhnya?”
              “ Di sekitar sini.”
              “Sebesar apa batunya?”
              “Sebesar kelereng, berbentuk bulat.”

              Lelaki itu tak banyak bertanya lagi. Ia  sibuk membantuku mencari batu. Ibuku yang sudah mendekat menampakkan wajah yang rikuh dan malu atas bantuan bapak itu. Ibuku malu, karena lelaki itu menunjukkan empatinya yang penuh kepada anaknya.
              “Mohon maaf, jadi ikut  repot..” kata Ibuku sopan  sambil mendekat.
Lelaki itu tersenyum,
              “Tak apa…”
Lelaki itu mencari dengan mata setajam elang, dan gerakan tubuh yang tenang, setenang aliran sungai yang dalam. Ia melangkah perlahan di sekeliling, terkadang tubuhnya membungkuk dan menyibakkan sampah dengan perlahan. Sampah yang tersibak di sekitar dirinya  ia pungut, lalu  dikumpulkan dan kemudian dibuang ke tempat sampah.

              Ibu jadi ikut mencari.  Mungkin malu kepada lelaki itu yang lebih empati, padahal ini anaknya sendiri. Beberapa orang bertanya pada Ibu, apa yang ia cari?  Ketika Ibu menjawab sebuah batu kecil hitam bulat, mereka tertawa. Ada orang yang menyangka Ibu seorang dukun, dan jimatnya hilang.  Ibu hanya tertawa, dan berkata bahwa itu batu milik anaknya sambil menunjuk padaku.  Tetapi, ia melihat Ibu dengan tatap tak percaya. Bisa dimengerti, bagaimana kita bisa mempercayai orang yang bertemu selewat saja. Moralitas seseorang dapat diketahui setelah waktu yang panjang hidup bersama. Seperti ketabahan seseorang dapat dilihat ketika kemalangan menimpanya. Juga, kebijaksanaan seseorang dapat diketahui melalui rentang percakapan yang lama, dan semua itu dibangun bertahun-tahun lamanya melalui interaksi langsung dan mengamatinya dari dekat. Jadi kalau orang selewat mengembangkan prasangka, ya, dimaklumi saja. Apa yang bisa dipercaya pada orang selewat, apalagi untuk alasan pencarian batu pusaka.

              “Ini bukan?”
Lelaki itu memperlihatkan batu di tangannya. Aku terlonjak..! Mataku yang mulai membasah segera kuseka. Ia lelaki yang hebat. Bagai seseorang yang bisa menemukan jarum di tengah tumpukan jerami. Entah dengan mata dan kekuatan apa yang membuatnya bisa menemukan batu yang tidak pernah dilihat sebelumnya.

              “Benar..! Terima kasih.”  Mataku berbinar. Aku bahagia. Aku merasa tak penting lagi ia menemukan di mana? Yang paling penting bagiku batu itu sudah ada di tanganku. Mungkin kelak batu itu akan menjadi penyelamatku saat-saat berat di perjalanan selanjutnya  seandainya aku mabuk. Kukira, mulai saat ini,  ia memang telah berubah jadi jimat.

              Ibuku  membungkukkan badannya untuk menunjukkan rasa terima kasih yang dalam, seraya memohon maaf telah merepotkannya. Perasaan, ini sudah kedua kalinya Ibu mengucapkan kalimat yang sama pada lelaki itu.  Inilah kalimat yang diajarkan Ibu sejak aku balita sampai sekarang, mengucapkan dua kalimat sopan santun dan etika paling mendasar  dalam hubungan antar manusia, menyegerakan menyampaikan ucapan terima kasih bila diberi kebaikan, dan segera meminta maaf jika telah melakukan kesalahan.  Orang yang lidahnya kelu mengatakan dua kalimat ini, hatinya telah kotor dan membatu.

              Lelaki itu menyambut kalimat Ibu dengan senyuman dan berlalu.  Ternyata pria asing ini bahkan lebih hemat kata-katanya dibanding dengan Ibu.  Ia  bertindak untuk menyelesaikan – mencari dan menemukan -  soal batu itu, dan meredakan kesedihanku dengan aksi dan kegigihan, bukan sekedar kata-kata penghiburan.

              Mungkin kau pernah mendengar, barang siapa yang mencari akan menemukan. Walaupun entah tangan siapa yang  akan menemukan, belum tentu diri kita sendiri.   Jika kau tak dapat menemukannya juga setelah keras upaya pencarian, setidaknya kau akan menemukan makna di ujung batas kekuatan manusiawi.

              Ibu menggamit lenganku dan mengingatkan  agar aku menyimpan batu itu di dalam tas agar tak hilang. Tak ada gerutuan yang keluar dari mulutnya. Ibu memang jarang marah, juga jarang menggerutu.  Kami  terus berjalan keluar terminal mencari angkutan umum untuk mencapai rumah.


Ah, Ibu memang selalu begitu. Menarik dan mengulurku dalam mengajari segala sesuatu di  kehidupan ini seperti bermain layang-layang.  Kadang aku diproteksi sekuat hati, kadang aku dilepas sambil diamati. Esok lusa, aku ingin  menjelajah  dalam kehidupan ini, bukan sebagai layang-layang Ibu, aku ingin menjadi burung elang..!










[1] Artinya, yang kecil digendong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar