3
Tembang Cianjuran
Kota kecil –
Cianjur - di masa itu tidak terlalu
sesak. Paling tidak, itulah kesan
pertamaku ketika pertama kali melihat kota Cianjur. Kota Tasikmalaya lebih
besar dan lebih ramai dibandingkan kota
Cianjur. Kota Cianjur berada di sebelah Barat ibu kota
Jawa Barat, Bandung, dan di timur Jakarta. Dalam pembagian wilayah di zaman
Belanda dahulu, kota Cianjur masuk dalam wilayah Keresidenan Bogor, yang
meliputi Sukabumi, Bogor dan Cianjur. Inilah kota yang sering aku dengar
lagunya dari radio :
Kan kuingat, di dalam hatiku
betapa indah semalam di Cianjur.
Di hampir
setiap ujung jalan kota, becak mangkal. Tukang becak duduk-duduk di jok
becaknya. Ada yang duduk bersama teman-temannya, menunggu penumpang sembari
bermain kartu gapleh. Terkadang ada diantara
mereka bermain uang taruhan, semacam judi kecil-kecilan untuk memperoleh
uang kejutan dalam permainan ini. Di beberapa jalan yang lebih lebar dan di
keramaian mudah ditemukan delman sebagai sarana transportasi lain. Beberapa kusir
delman duduk terkantuk-kantuk dibelakang
pantat kuda yang berdiri tenang sambil sesekali mengeluarkan kotorannya. Kusir
delman tak peduli. Karena, bila kuda itu sudah tak mengeluarkan kotoran yang
mengotori jalanan kota artinya hewan tempat bergantung hidupnya artinya sudah
mati.
Biasanya yang
menggunakan delman adalah orang yang pulang dari pasar, atau anak-anak sekolah
yang patungan uang beramai-ramai – karena delman di Cianjur dibayar borongan,
per kali kepergian, bukan membayar seperti angkutan kota. Tarif membayar delman lebih mahal dibandingkan dengan becak –
tentu saja, di samping kusir dan keluarganya harus makan, kuda yang menarik
pedatinya juga harus makan.
Pletak-pletuk
suara sepatu kuda,
“Shhrr…shhrr…!
Ckk…..ckk…hush..!” suara mulut tukang delman di jalan. Sesekali ia mengayunkan
cemetinya agar kuda yang loyo lebih cepat berlari. Kasihan sekali. Coba kalau kuda dan kusir itu bertukar nasib,
apa mau kusir dicambuk cemeti berulangkali? Mungkin bukan cuma meninggalkan perih
di sekujur tubuh, pasti akan nyeri juga
di hati.
Aku suka
melihat kuda yang berlari-lari di padang rumput, seperti di televisi – bukan di
jalanan dengan sejumlah beban - apalagi dengan cambuk cemeti. Aku tidak terlalu
tertarik pada pedati yang ditarik kuda, yang aku pikirkan adalah mengapa
kuda-kuda itu berkaca mata?
“Ini kuda
jantan, Neng..dia dikasih kaca mata, biar matanya tidak jelalatan mencari
betina, hahahaha..” jelas kusir sambil
tertawa ketika aku naik delman pertama kali di Cianjur.
“Ini kuda playboy…!” lanjutnya cepat. Ibu hanya
mesem. Ibu memang jarang tertawa terbahak. Hanya senyum.
“Benarkah..?”
selidikku dengan muka serius. Aku sendiri tak mengerti apa arti kata playboy ketika itu.
Kusir delman
malah tertawa. Ibu akhirnya menukas,
“Ia hanya
bercanda..”
Kusir delman
yang masih muda, berbadan gendut dan bermuka bulat itu memang nampak periang
dan humoris. Akhirnya, ia tak tega juga untuk memberi penjelasan padaku,
mengapa kuda berkaca mata.
“Kuda diberi
kacamata agar melihat lurus ke depan. Kalau tidak dikasih kacamata nanti susah
dikendalikan. Kacamata ini gunanya agar dia selalu terarah.” Kali ini mukanya
agak serius. Angin sepoi-sepoi menyentuh
wajahku. Memang naik delman ini mengasyikan seperti sedang diayun-ayun, dininabobokan.
Lalu aku membayangkan tentang orang jika memakai kaca mata kuda, ia akan
kehilangan melihat peluang dan
kemungkinan. Sedikit sekali yang akan mereka ketahui, hanya ada satu pemandangan - di hadapan.
Becak,
delman, angkutan kota hilir mudik di jalanan yang tidak terlalu padat – namanya
juga kota kecil. Orang-orang berjalan berlalu lalang dengan tenang di trotoar.
Pada masa itu, tidak banyak pedagang kaki lima yang merusak tata kota. Dari jalan Mangunsarkoro hingga jalan
Cokroaminoto hanya berjajar toko-toko
yang sebagian besar dimiliki oleh etnis Tionghoa.
Di lampu merah jalanan di kota nyaris tak ada
antrian. Polisi lalu-lintas bisa duduk atau berdiri di perempatan jalan tanpa harus
repot-repot meniupkan peluit, atau tangannya begitu sibuk memberi aba-aba - kendaraan mana yang harus terlebih dahulu
jalan, dan mana yang mestinya berhenti.
Cianjur kota
yang tenang. Tepatnya, lebih cocok untuk menjadi kota pensiunan atau kota para manula.
Udara yang sejuk dengan tanah yang
subur, di mana para petani dengan gembira bercocok tanam, tanpa dipusingkan
oleh permusuhan dengan iklim. Sebagian
besar penduduk Cianjur bekerja di sektor pertanian. Sayur mayur dan buah-buahan berlimpah di sini
dengan pesawahan yang menghampar luas. Sawah-sawah dapat ditanami varitas padi yang hanya tumbuh di beberapa tempat di Cianjur, dengan aroma yang
wangi dan pulen. Orang menyebutnya beras Cianjur atau Pandanwangi. Di
sini, asal mau mengayunkan cangkulnya di sawah dan ladang, para petani di Cianjur tak akan pernah kelaparan. Ternak-ternak tak akan pernah
kekurangan rumput. Cipanas menjadi salah satu kecamatan utama di Cianjur
menjadi salah satu andalan penyangga pangan untuk Cianjur kota hingga ke
Jakarta.
Nun di sana, ada gunung yang menarik
perhatianku, seperti gunung Galunggung di Tasikmalaya – gunung Gede. Terbayang
olehku, gerangan seperti apa satwa-satwa yang menghuninya, serta tetumbuhan dan
pohon-pohon, perdu dan bunga-bunga liar yang menutupinya. Atau, mata air yang
keluar dari balik bebatuan seperti yang sering kulihat di gambar-gambar. Sementara, di Cianjur bagian Selatan, yang berbatasan
langsung dengan Samudera Hindia, masyarakatnya sebagian kecil bekerja sebagai
nelayan. Suatu hari aku ingin ke sana, melihat ombak bergulung-gulung, desiran
angin dari laut dan melihat perahu nelayan timbul dan tenggelam dari kejauhan.
Aku ingin membayangkan kisah perjalanan matahari di langit lalu tenggelam di
lautan.
Agaknya, lingkungan fisik , maksudku letak
geografis bumi, seperti lanskap, musim, cuaca, suhu udara Cianjur cukup memengaruhi perilaku secara
umum penduduknya, termasuk di dalamnya pada bagaimana mereka
berkomunikasi. Orang-orang Cianjur
pegunungan memiliki umumnya memiliki gaya tutur bicara dengan tempo yang lambat,
dan juga gerakan tubuh yang tenang, ramah dan murah hati. Itulah sebabnya mungkin, perdagangan besar
dikuasai oleh para pendatang yang lebih ngotot pada kehidupan dan lebih pandai berkalkulasi bisnis. Sedangkan penduduk dari daerah Cianjur Selatan berbicara lebih lugas
dengan tempo lebih cepat.
Kau
tahu? Cianjur juga terkenal dengan kota yang sangat agamis. Sejak dahulu, kota ini terkenal dengan
banyaknya ulama. Mereka adalah
pejuang-pejuang Islam dalam keheningan. Tak ada yang lebih didamba, kecuali ingin mengabdi pada Tuhan-nya. Ulama-ulama
inilah yang menjadi peneguh-peneguh para pejuang kemerdekaan. Kata-kata ulama
demikian didengar, tak
heran pada setiap acara pengajian orang datang berduyun-duyun menghadirinya.
Pesantren-pesantren bertebaran hingga pelosok-pelosok kampung, juga mesjid-mesjid
dan surau. Karena itu suara azan bisa koor berbarengan yang
menyeruakan lantunan azan untuk kemudian
berimpitan di udara. Tentu,
karena banyak mesjid saling berdekatan.
Sayangnya,
kehidupan keagamaan itu mulai terkikis ketika orang mulai memuja kebendaan.
Benteng pertahanan budaya – wilayah
Cipanas - dari arah Jakarta mengikis, menghempas keheningan orang-orang
Cianjur yang dahulu begitu tenang dan
bersahaja bersalin rupa –
perlahan memuja dunia. Di sisi lain,
media massa berkembang seperti
pisau bermata dua – membuka cakrawala
berpikir sekaligus menawarkan gaya hidup yang menjauhkan dari kearifan
budaya.
Karena
itu – sekarang - bila waktu shalat tiba, sekalipun udara masih tetap meriah, oleh latunan
azan, tetapi yang mengikuti shalat berjamaah tidak sampai
memenuhi mesjid. Dua shaf saja sudah
sangat hebat. TEGUH BERIMAN…! Apalagi pada saat shalat subuh, hanya tertinggal
beberapa orang yang sudah tua, sisanya adalah udara dingin serta angin yang
masuk melalui pintu dan jendela mesjid.
***
Mesjid Agung Cianjur – di sanalah
patokannya jika kau ingin berkunjung ke rumah kami dan atau menjahit
baju kepada Ibuku. Mesjid itu ada di tengah-tengah kota yang menghadap ke
alun-alun. Di seberang jalan sebelah kiri ada pasar induk – dan di sebelah kanannya
adalah kantor pemerintahan kabupaten. Di belakang kantor kabupaten itu ada
rumah dinas bupati. Kantor pemerintahan kota bersisian dengan kantor pos yang
ber-arsitektur art de co, peninggalan
zaman Belanda. Jendela-jendela yang lebar dan tinggi berwarna cokelat akan
selalu terbuka di siang hari, kau akan melihat orang-orang berjubel di sana –mengantarkan
surat kepada kerabat atau para kekasih, dan sahabat pena. Di sana ada orang
yang mencairkan wesel pos, kiriman uang. Para penerima wajahnya sumringah dan
hatinya berbunga-bunga.
Aku
senantiasa terpukau dengan jendela besar dan terbuka, seperti gedung kantor
pos. Sepertinya, jika aku punya rumah seperti
itu akan hangat oleh cahaya. Tetapi rumahku jendelanya hanya terbuat dari kaca
nako. Rumahku bercat warna merah muda, paling
mungil di seantero jalan, tetapi pekarangan rumah kami agak luas dibandingkan
dengan para tetangga. Cukuplah rumah
sebesar itu untuk tempat tinggal kami berdua, tiga kamar tidur, satu dapur dan
dua kamar mandi. Ada ruang tamu, ruang keluarga dan paviliun. Di paviliun itu
Ibu menerima jahitan. Dan di depan rumah
terpampang plang :
ESTETIKA TAILOR
MENERIMA JAHITAN BAJU ANAK DAN WANITA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar