Sabtu, 19 Juli 2014

Mozaik


3

Tembang Cianjuran

Kota kecil – Cianjur -  di masa itu tidak terlalu sesak.  Paling tidak, itulah kesan pertamaku ketika pertama kali melihat kota Cianjur. Kota Tasikmalaya lebih besar dan lebih ramai  dibandingkan kota Cianjur.   Kota Cianjur berada di sebelah Barat ibu kota Jawa Barat, Bandung, dan di timur Jakarta. Dalam pembagian wilayah di zaman Belanda dahulu, kota Cianjur masuk dalam wilayah Keresidenan Bogor, yang meliputi Sukabumi, Bogor dan Cianjur.  Inilah kota yang sering  aku dengar   lagunya dari radio :


Kan kuingat, di dalam hatiku
betapa indah semalam di Cianjur.


Di hampir setiap ujung jalan kota, becak mangkal. Tukang becak duduk-duduk di jok becaknya. Ada yang duduk bersama teman-temannya, menunggu penumpang sembari bermain kartu gapleh. Terkadang ada diantara  mereka bermain uang taruhan, semacam judi kecil-kecilan untuk memperoleh uang kejutan dalam permainan ini. Di beberapa jalan yang lebih lebar dan di keramaian mudah ditemukan delman sebagai sarana transportasi lain. Beberapa kusir  delman duduk terkantuk-kantuk dibelakang pantat kuda yang berdiri tenang sambil sesekali mengeluarkan kotorannya. Kusir delman tak peduli. Karena, bila kuda itu sudah tak mengeluarkan kotoran yang mengotori jalanan kota artinya hewan tempat bergantung hidupnya artinya sudah mati.

Biasanya yang menggunakan delman adalah orang yang pulang dari pasar, atau anak-anak sekolah yang patungan uang beramai-ramai – karena delman di Cianjur dibayar borongan, per kali kepergian, bukan membayar seperti angkutan kota. Tarif membayar  delman lebih mahal dibandingkan dengan becak – tentu saja, di samping kusir dan keluarganya harus makan, kuda yang menarik pedatinya juga harus makan.

Pletak-pletuk suara sepatu kuda,
“Shhrr…shhrr…! Ckk…..ckk…hush..!” suara mulut tukang delman di jalan. Sesekali ia mengayunkan cemetinya agar kuda yang loyo lebih cepat berlari. Kasihan sekali.  Coba kalau kuda dan kusir itu bertukar nasib, apa mau kusir dicambuk cemeti berulangkali? Mungkin bukan cuma meninggalkan perih di sekujur  tubuh, pasti akan nyeri juga di hati.

Aku suka melihat kuda yang berlari-lari di padang rumput, seperti di televisi – bukan di jalanan dengan sejumlah beban - apalagi dengan cambuk cemeti. Aku tidak terlalu tertarik pada pedati yang ditarik kuda, yang aku pikirkan adalah mengapa kuda-kuda itu berkaca mata?

“Ini kuda jantan, Neng..dia dikasih kaca mata, biar matanya tidak jelalatan mencari betina, hahahaha..” jelas kusir  sambil tertawa ketika aku naik delman pertama kali di Cianjur.
“Ini kuda playboy…!” lanjutnya cepat. Ibu hanya mesem. Ibu memang jarang tertawa terbahak. Hanya senyum.
“Benarkah..?” selidikku dengan muka serius. Aku sendiri tak mengerti apa arti kata playboy  ketika itu.
Kusir delman malah tertawa. Ibu akhirnya menukas,
“Ia hanya bercanda..”
Kusir delman yang masih muda, berbadan gendut dan bermuka bulat itu memang nampak periang dan humoris. Akhirnya, ia tak tega juga untuk memberi penjelasan padaku, mengapa kuda berkaca mata.
“Kuda diberi kacamata agar melihat lurus ke depan. Kalau tidak dikasih kacamata nanti susah dikendalikan. Kacamata ini gunanya agar dia selalu terarah.” Kali ini mukanya agak serius.  Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahku. Memang naik delman ini mengasyikan seperti sedang diayun-ayun, dininabobokan. Lalu aku membayangkan tentang orang jika memakai kaca mata kuda, ia akan kehilangan melihat  peluang dan kemungkinan. Sedikit sekali yang akan mereka ketahui, hanya ada satu  pemandangan -  di hadapan.

Becak, delman, angkutan kota hilir mudik di jalanan yang tidak terlalu padat – namanya juga kota kecil. Orang-orang berjalan berlalu lalang dengan tenang di trotoar. Pada masa itu, tidak banyak pedagang kaki lima yang merusak tata kota.  Dari jalan Mangunsarkoro hingga jalan Cokroaminoto  hanya berjajar toko-toko yang sebagian besar dimiliki oleh etnis Tionghoa.

 Di lampu merah jalanan di kota nyaris tak ada antrian. Polisi lalu-lintas bisa duduk  atau berdiri di perempatan jalan tanpa harus repot-repot meniupkan peluit, atau tangannya begitu sibuk memberi aba-aba -  kendaraan mana yang harus terlebih dahulu jalan, dan mana yang mestinya berhenti.

Cianjur kota yang tenang.  Tepatnya,  lebih cocok untuk  menjadi kota pensiunan atau kota para manula. Udara yang sejuk  dengan tanah yang subur, di mana para petani dengan gembira bercocok tanam, tanpa dipusingkan oleh permusuhan dengan iklim.  Sebagian besar penduduk Cianjur bekerja di sektor pertanian.  Sayur mayur dan buah-buahan berlimpah di sini dengan pesawahan yang menghampar luas. Sawah-sawah dapat ditanami  varitas padi yang hanya tumbuh di  beberapa tempat di Cianjur, dengan aroma yang wangi dan pulen. Orang menyebutnya beras Cianjur atau Pandanwangi.   Di sini, asal mau mengayunkan cangkulnya di sawah dan ladang, para petani di  Cianjur  tak akan pernah  kelaparan. Ternak-ternak tak akan pernah kekurangan rumput. Cipanas menjadi salah satu kecamatan utama di Cianjur menjadi salah satu andalan penyangga pangan untuk Cianjur kota hingga ke Jakarta.

 Nun di sana, ada gunung yang menarik perhatianku, seperti gunung Galunggung di Tasikmalaya – gunung Gede. Terbayang olehku, gerangan seperti apa satwa-satwa yang menghuninya, serta tetumbuhan dan pohon-pohon, perdu dan bunga-bunga liar yang menutupinya. Atau, mata air yang keluar dari balik bebatuan seperti yang sering kulihat di gambar-gambar.  Sementara, di  Cianjur bagian Selatan, yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, masyarakatnya sebagian kecil bekerja sebagai nelayan. Suatu hari aku ingin ke sana, melihat ombak bergulung-gulung, desiran angin dari laut dan melihat perahu nelayan timbul dan tenggelam dari kejauhan. Aku ingin membayangkan kisah perjalanan matahari di langit lalu tenggelam di lautan.

 Agaknya, lingkungan fisik , maksudku letak geografis bumi, seperti lanskap, musim, cuaca, suhu udara  Cianjur cukup memengaruhi perilaku secara umum penduduknya, termasuk di dalamnya pada bagaimana mereka berkomunikasi.  Orang-orang Cianjur pegunungan memiliki umumnya memiliki gaya tutur bicara dengan tempo yang lambat, dan juga gerakan tubuh yang tenang, ramah dan murah hati.  Itulah sebabnya mungkin, perdagangan besar dikuasai oleh para pendatang yang lebih ngotot pada kehidupan dan lebih pandai berkalkulasi bisnis.  Sedangkan penduduk dari  daerah Cianjur Selatan berbicara lebih lugas dengan tempo lebih cepat.

            Kau tahu? Cianjur juga terkenal dengan kota yang sangat agamis.  Sejak dahulu, kota ini terkenal dengan banyaknya ulama.  Mereka adalah pejuang-pejuang Islam dalam keheningan. Tak ada yang lebih didamba, kecuali  ingin mengabdi pada Tuhan-nya. Ulama-ulama inilah yang menjadi peneguh-peneguh para pejuang kemerdekaan. Kata-kata ulama demikian didengar,    tak heran pada setiap acara pengajian orang datang berduyun-duyun menghadirinya. Pesantren-pesantren bertebaran hingga pelosok-pelosok kampung, juga mesjid-mesjid dan surau. Karena itu suara azan bisa koor berbarengan   yang menyeruakan lantunan azan untuk kemudian  berimpitan di udara.  Tentu, karena banyak mesjid saling berdekatan.

Sayangnya, kehidupan keagamaan itu mulai terkikis ketika orang mulai memuja  kebendaan.   Benteng pertahanan budaya  – wilayah Cipanas -    dari arah Jakarta  mengikis, menghempas keheningan orang-orang Cianjur yang dahulu begitu tenang dan  bersahaja  bersalin rupa – perlahan memuja dunia. Di sisi lain,  media massa berkembang  seperti pisau bermata dua – membuka cakrawala  berpikir sekaligus menawarkan gaya hidup yang menjauhkan dari kearifan budaya.

  Karena itu – sekarang - bila waktu shalat tiba, sekalipun  udara masih tetap meriah, oleh latunan azan,  tetapi  yang mengikuti shalat berjamaah tidak sampai memenuhi mesjid. Dua shaf saja sudah sangat hebat. TEGUH BERIMAN…!  Apalagi  pada saat shalat subuh, hanya tertinggal beberapa orang yang sudah tua, sisanya adalah udara dingin serta angin yang masuk melalui pintu dan jendela mesjid.


***


Mesjid Agung Cianjur – di sanalah patokannya  jika kau  ingin berkunjung ke rumah kami dan atau menjahit baju kepada Ibuku. Mesjid itu ada di tengah-tengah kota yang menghadap ke alun-alun. Di seberang jalan sebelah  kiri ada pasar induk – dan di sebelah kanannya adalah kantor pemerintahan kabupaten. Di belakang kantor kabupaten itu ada rumah dinas bupati. Kantor pemerintahan kota bersisian dengan kantor pos yang ber-arsitektur art de co, peninggalan zaman Belanda. Jendela-jendela yang lebar dan tinggi berwarna cokelat akan selalu terbuka di siang hari, kau akan melihat orang-orang berjubel di sana –mengantarkan surat kepada kerabat atau para kekasih, dan sahabat pena. Di sana ada orang yang mencairkan wesel pos, kiriman uang. Para penerima wajahnya sumringah dan hatinya berbunga-bunga.

            Aku senantiasa terpukau dengan jendela besar dan terbuka, seperti gedung kantor pos.  Sepertinya, jika aku punya rumah seperti itu akan hangat oleh cahaya. Tetapi rumahku jendelanya hanya terbuat dari kaca nako. Rumahku bercat warna merah muda,  paling mungil di seantero jalan, tetapi pekarangan rumah kami agak luas dibandingkan dengan para tetangga.  Cukuplah rumah sebesar itu untuk tempat tinggal kami berdua, tiga kamar tidur, satu dapur dan dua kamar mandi. Ada ruang tamu, ruang keluarga dan paviliun. Di paviliun itu Ibu  menerima jahitan. Dan di depan rumah terpampang plang :





ESTETIKA TAILOR
MENERIMA JAHITAN BAJU ANAK DAN WANITA





           






Tidak ada komentar:

Posting Komentar