Sabtu, 19 Juli 2014

Mozaik

                                    2

                     Menyusun Puzzle

 Bis   yang membawa kami melaju meninggalkan batas kota.    Jalan yang berkelok-kelok, menikung, menanjak dan menurun menyambut perjalanan ini. Bis jurusan Ciamis – Jakarta ini sarat muatan. Penumpang dengan hampir seluruh usia ada di sini -  mulai anak kecil  hingga kakek-nenek, tak terkecuali.  Kami duduk di bangku dekat pintu.   Rambutku yang panjang dan lurus dikepang dua. Aku memakai baju berwarna merah muda, bertali pinggang  dengan sepatu berwarna hitam.  Ibu memakai baju dengan motif bunga-bunga, rambutnya yang panjang disanggulkan.  Begitu anggun. Ia duduk  di sampingku, terkadang ia mengelus-elus kepalaku penuh kasih  ketika kusandarkan tubuhku padanya sambil memerhatikan lalu lalang penumpang dihadapan, dan membaca suasana dengan pikirannya.

“Kita akan melihat dan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya, Mira,” katanya sambil tersenyum lembut tetapi  tersirat   kesedihan dari raut mukanya.  Namun kalimatnya yang tercekat dan bergetar membuatku tahu, sesungguhnya Ibu masih  menyimpan kepedihan di ruang jiwanya yang maha dalam.   Ucapan yang terlontar untukku  hanya kalimat peneguhan, juga menguatkan hatinya sendiri. Aku sudah sangat mengenal Ibu.

Baris bangku dekat pintu  tengah bukan tempat yang strategis, karena pintu sering terbuka untuk naik dan turun penumpang dan angin  telalu besar di sini. Tetapi kami tak banyak pilihan, karena kami bukan penumpang yang pertama kali naik saat kursi kosong masih begitu banyak tersedia. Ada beberapa bangku di belakang, tetapi Ibu sudah memperhitungkan, pasti duduk di bangku baris belakang guncangan bis akan terasa lebih kuat dan akan terasa lebih melelahkan untuk perjalanan yang relatif cukup panjang.

 Bis yang kutumpangi berwarna putih biru, dengan tirai dari kain berwarna merah  cabe mengkilat  yang dapat ditutup dan dibuka kapan saja - ketika penumpang mulai terganggu oleh sengatan cahaya matahari.  Sebenarnya, tirai  warna merah cabe  mengkilat  tak cocok  sebagai tirai dengan paparan cahaya matahari yang kuat nanti di siang hari. Warna merah cabe mengkilat  di terik matahari yang menembus kaca akan menambah  ketajaman cahaya. Aura warna ini akan semakin meletihkan perjalanan. Mungkin pemilik bis ini tidak sempat menimbang psikologi warna, dan  pengaruhnya untuk penumpang.

Aku membuka tirai itu sepanjang perjalanan. Aku tak suka  tirai tertutup, kecuali malam hari. Aku senang melihat aneka pemandangan dari balik jendela, karena  aku senang melihat kehidupan.  Di sepanjang perjalanan, pohon-pohon di kiri dan kanan seakan berlarian. Seakan berkejaran. Sementara matahari pagi  tak henti  terus mengikuti dari balik kaca jendela, cahayanya berkelebat membentuk bentuk-bentuk siluet abstrak yang berubah-rubah, tergantung kepada benda yang menghalangi di sepanjang perjalanan diantara aku dan matahari.

Kondektur  yang berbadan ceking, berambut lurus dan berumur sekitar tiga puluhan,  berdiri di pintu dan mengacung-acungkan tangannya di jalanan ketika  bis sedang melaju. Kadang ia turun di pertigaan atau perempatan jalan untuk menyelidik situasi, barangkali ada calon penumpang yang akan pergi.

“Jakarta…Jakarta…Bandung…Cianjur…Bogor…”
Ya, bis ini memang menuju Jakarta via Puncak.
Terkadang kondektur  berlari-lari kecil  ketika sopir bis menekan gas mobil pelan-pelan,
“Hayuuu..tariik Piir…!”  sambil meloncat. Maksudnya, jalan  lagi Sopir..

 Wajah kondektur itu  menyemu menghitam karena terlalu sering ditabrak angin kencang jalanan dari laju bis yang menyeruak menghantam udara,  dan panas matahari karena acapkali berdiri di pintu bis.   Bayangkan, dari Ciamis sampai Jakarta pulang-pergi. Hampir begitu setiap hari.  Seandainya wajah itu dioles susu pembersih wajah dan diusap kapas putih, mungkin akan terlihat dikapas  wajahnya ternyata penuh dengan debu-debu hitam selayak jelaga. Entah seberapa banyak dan  seberapa dalam komedo yang membenam di wajahnya.  Untunglah, ia bukan lelaki metroseksual. Lelaki-lelaki metroseksual tak akan ada yang sanggup melakukan pekerjaan semacam kondektur atau sopir bis.  Penghasilan sopir bis dan kondektur dan jenis pekerjaan ini tak akan cukup untuk membiayai gaya hidup lelaki tukang gaya.

Perjalanan terasa begitu lambat karena bis sering berhenti menaik dan menurunkan penumpang. Terkadang sesekali sopir yang tak begitu kuperhatikan dengan cermat raut wajahnya menghentikan laju mobil, menyuruh kondektur membelikan rokok ke warung pinggir jalan.

Beberapa penumpang mulai menggerutu dan mengutuki   kerakusan kondektur bis  memasukkan muatan. Sebagian pasrah saja, dan membiarkannya seolah semua hal yang wajar adanya. Di sisi lain, bolehkah aku memuji?  Ia sungguh   kondektur yang gigih. Sejatinya seperti itulah seorang lelaki sejati -  pekerja keras dan memosisikan diri untuk menjadi  pejuang-pejuang dalam kehidupan.  Sayangnya, ia terlalu  mementingkan diri sendiri.

Tak lama,  bis pun mulai penuh – orang berdiri - sampai ke lorong-lorong. Penumpang berjejal  seperti ikan pindang dalam dandang. Bau parfum murahan menyeruak tertiup angin bersatu dengan bau ketek orang yang jarang mandi, asap rokok,  serta bau minyak angin PPO terhisap di hidung. Bis ini  sungguh berjuta rasanya.

Kondektur pun tersenyum. Ia sudah menghitung keuntungan di depan mata.
Semua kepala dikali dengan rupiah. Oh, ya..soal nyawa, sopir dan kondektur sudah lupa masuk dalam daftar perjalanan. Kenyamanan? Persetan dengan kenyamanan.  Ini masyarakat kelas tiga, Bung! Jangan belagu  sok orang kaya. Nyaman dan tidak nyaman itu soal perasaan.  Siapa yang memuja kenyamanan dan tenggelam di dalam kemewahan  dikehidupan, ketika menghadapi kesulitan ia  tak akan mampu bertahan. Menumpang bis ini  salah satu latihannya.  O lala…!

Sopir bis dan kondektur ini  mirip sekali  dengan oknum  politikus dan pemimpin negeri yang menghitung kepala manusia sebagai jembatan yang memuluskannya mencapai kekuasaan dan keuntungan pribadi. Mereka adalah para pengemudi dan pengawal yang memberi arah pada negara. Dan penumpang yang ada di dalam bis ini adalah rakyat kebanyakan, yang biasanya dijadikan sasaran pencarian suara dukungan.  Tokh,  di negeri ini harga suara yang tidak berpikir dan berpikir itu sama saja. Membeli suara juga hal yang sangat biasa.  Kata Machiavelli, politik itu kotor. Dan untuk mencapai tujuan politik dihalalkan menggunakan cara apa pun. Boleh jadi, banyak calon politisi dan politisi yang mengadopsi paham Machiavelli – termasuk diantaranya sang kondektur. Tetapi, apakah dia pernah mengenal Machiavelli? Kalau dia mendalami Machiavelli ia akan jadi politisi, bukan jadi kondektur.

Nu alit dipangkon..nu alit dipangkon..![1] kata kondektur sambil mendelik ke arah Ibu. Ibu paham, itu artinya sama dengan – agar aku digendong, dan berbagi tempat duduk untuk penumpang lain.

“Di hitung dua..” tegas Ibu.  


Maaf, kami bukan ikan pindang..!


Seorang perempuan muda dengan gincu merah dan baju merah menyala yang  berdiri di lorong tepat di samping duduk kami    berkata pada Ibu,

“ Saya yang gendong putri Ibu, agar saya bisa duduk. Ibu juga akan untung bisa bayar satu,” rajuknya.  Ia sudah melihat kemungkinan – tak akan  tahan akan berdiri begitu lama. Ia akan pergi ke Bandung

Ibu tersenyum.

“Terima kasih. Mohon maaf, Dik..anak saya sering mabuk dalam perjalanan. Ini akan sangat merepotkan,” jawab Ibu sopan.  Ibu nampak benar-benar ingin melindungiku, seperti induk ayam yang akan marah jika anak-anaknya diganggu.

Sontak perempuan itu segera bermuka kecut. Ia tak akan mengambil resiko sebesar itu, mengambil tanggung jawab pada anak perempuan pemabuk. Eh..! maksudku suka muntah dalam perjalanan.

Untuk sementara, aku masih baik-baik saja. Sebagian  penumpang mulai membuka perbekalannya dari rumah, leupeut,  rempeyek dan telor rebus. Ada di antaranya yang  berbekal ayam goreng. Mungkin menyembelih ayam dari kandang di rumahnya kemarin sebagai bekal perjalanan pergi ke tempat yang jauh untuk menghemat uang, agar tidak jajan.  Maklum, di setiap perhentian, bis ini akan diserbu oleh pedagang asongan. Atau, ketika awak bis ini berhenti untuk makan, jika tidak membawa bekal dari rumah akan tergoda untuk ikut makan di rumah makan tersebut.  Mereka orang-orang yang hemat, teteh, akang..!

Sebenarnya, Tasikmalaya-Jakarta tidak terlalu jauh, apalagi ke Cianjur, tidak sampai dua ratus kilometer.  Hanya medan jalannya saja diantara Tasikmalaya- batas Bandung menanjak, berkelok-kelok  dengan lebar jalan yang sempit dan cukup sulit mengendarai mobil di sini. Mereka yang mengendarai mobil di sini haruslah orang yang sudah sangat pengalaman dan trampil.

Aku mulai oleng, ketika bis mencapai tanjakan Gentong. Beberapa penumpang mabuk. Aku tak tahan. Aku muntah.  Boleh jadi, muntah adalah   semacam sugesti  menular akibat menghirup udara yang bersenyawa dengan keluarnya isi perut juga asap dari rokok kretek dan bau berjuta rasa itu.  Lelaki-lelaki semakin banyak yang merokok tanpa belas kasihan kepada penumpang lainnya. Sungguh mereka adalah lelaki-lelaki penyembah egonya sendiri yang tega mendzalimi orang-orang dengan asapnya yang menyesakkan dada. Beberapa orang terbatuk-batuk mengisap asap, tetapi para perokok itu tak peduli.  Jendela  bis dan pintu yang terbuka menyediakan jalan untuk angin dan  membantuku untuk menepis asap rokok.  Tetapi itu membuatku masuk angin dan menyumbang penderitaan yang lainnya.   Aku benci rokok.  Aku  benci asap rokok.  Tetapi aku harus bertahan.  

Mabuk, itulah yang paling aku malas melakukan perjalanan. Karenanya, sekalipun Ibu terkadang pulang ke kampung halamannya di Cianjur – aku hampir tidak ingin ikut serta, kalau tidak terpaksa. Sepanjang hidup, sampai usiaku sekarang dua belas – aku baru empat kali datang ke rumah mendiang kakek dan nenekku, semasa mereka hidup. Itu pun dengan biaya cukup tinggi jika harus menyertakan aku, karena Ayah harus menyewa mobil. Sekarang, kami harus berhemat. Tak boleh ada pengeluaran besar, kecuali mendesak.  Kehidupan kami telah jauh berubah.

Sebenarnya,  sebelum naik bis, Ibu telah memberiku obat anti mabuk. Pemandangan bukit  dan sawah-sawah di sisi kanan-kiri jalan sudah tak lagi memberiku hiburan untuk mengalihkan perhatian agar aku lupa dari rasa mual yang menyergap dan keinginan muntah. Hanya minyak kayu putih yang diusap-usapkan Ibu ke tubuhku yang cukup meredakan penderitaan.

Beberapa kali sopir mengucapkan sumpah serapah mengabsen nama-nama binatang yang amat dikenal  karena motor nyalip seenaknya, atau tiba-tiba diperempatan jalan  mobil nyelonong  tanpa lihat kiri-kanan. Belok tanpa lampu signs.  Kadang keluar juga umpatan khas orang Ciamis atau Tasikmalaya,

Kehed siah..bebel..!”

            “Sabar, ya, nanti sebentar lagi sampai..,” kata Ibu menyemangati.

            Yang disebut sebentar lagi itu begitu lama. Ibu hanya memberiku penghiburan serta harapan yang sebenarnya masih jauh akan sampai.   Bis  tua itu  terseok dan seakan tanpa tenaga  menanjak di tanjakan  Nagreg yang tanjakannya ekstrim dan turunnya curam.  Ini tanjakan yang paling berbahaya di  jalur selatan, jalan protokol Jawa Barat yang menghubungkan Bandung dengan daerah Priangan Timur.

 Hari itu kendaraan cukup padat. Mungkin karena musim libur. Kami memang sengaja menunda ke Cianjur sampai ijazah sekolah dasar  terbit. Segerombolan anak-anak  terlihat membawa kayu pengganjal di tanjakan Nagreg. Terdengar aneh, bukan? Tetapi, untuk mobil yang rem tangannya tidak bekerja optimal, dan muatan berat di tanjakan ini mobil bisa-bisa  meluncur mundur tak terkendali dan menabrak kendaraan lain di belakangnya.

Kondektur bis berteriak-teriak memanggil anak-anak.  Dengan sigap anak-anak itu mengganjal ban saat bis tiba-tiba harus berhenti di tengah tanjakan. Mereka benar-benar piawai membaca gerakan bis, kapan harus diganjal dan kapan harus dilepas, sampai bis nanti mencapai ujung tanjakan dan meluncur bebas tanpa kendala yang berarti. Setelah aman, kondektur  memberikan sejumlah uang kepada para anak-anak itu.

Mobil berhenti sejenak seusai tanjakan Nagreg. Mesin mobil sepertinya sudah panas, sepanas suhu udara yang ada di dalam mobil. Kami seperti ikan dalam akuarium yang kehabisan oksigen dan air yang sudah mengeruh. Sejumlah penumpang membuka jendelanya lebar-lebar dan melongokkan kepala keluar jendela mencari udara.  Ada yang mengipasi tubuhnya dengan kipas kertas kerajinan Rajapolah, Tasikmalaya.  Sejumlah penumpang tak henti menyusut keringatnya dengan sapu tangan atau handuk yang sudah tak terlihat kekuningan.

“Borondong..borondong…dodol…dodol…!” Sejumlah pedagang asong menawarkan dagangannya dari balik jendela. Beberapa diantaranya mencoba masuk, tepatnya memaksa masuk.   Oh, masih di Garut.  Aku hafal, karena borondong dan dodol adalah makanan khas kabupaten Garut.  Aku tak memerhatikan situasinya. Aku pusing…

Kepalaku  terasa semakin berat, perutku  mual kembali. Sepertinya, aku akan mengeluarkan isi perut lagi.  Tiba-tiba, aku teringat sesuatu – batu pusaka dari Truna.Lalu aku mencari-cari batu itu di tasku. Batu hitam sebesar kelereng berbentuk bulat   kugenggam erat-erat.  Sambil tetap menggenggam batu,  kubayangkan ikan-ikan kecil di sungai yang berenang-renang mengikuti aliran air. Ketika aku mual, aku membayangkan sekuntum bunga yang hanyut, sambil mencoba membayangkan, di mana dia akan tersangkut.  Aku seraya berdo’a, semoga ia dapat melalui muara, agar kelak bunga itu mencapai  samudera. Setelah itu, ternyata berhasil.

 Dimulai dari batu kecil hitam itu  aku belajar,  ketika sedang menderita dan menyedihkan, kenanglah yang indah-indah, atau yang membuat tersenyum…


When you change your thoughts, you change your world…


Cicalengka, Rancaekek, dan Bandung telah di lewati. Perjalanan telah sampai ke Tagog Apu. Asap- asap dari pabrik batu kapur memuntahkan jelaga ke udara di antara bukit-bukit kapur yang berdiri tegak menatap langit.  Inilah  artefak-artefak  geologi peninggalan danau Bandung purba.  Bukit-bukit kapur dan marmer ini membuktikan sebuah perjalanan panjang geologis selama ribuan  bahkan jutaan tahun yang lalu. 

Kecepatan bis melambat ketika akan mencapai terminal Muka.  Matahari jam dua belas  memantul di kaca menyilaukan mata. Pedagang-pedagang asongan berlompatan naik ke pintu bis seperti belalang, lalu berteriak-teriak keras  menjajakan dagangan memanfaatkan perjalanan para penumpang. Mesti orang pergi membawa uang. Mungkin ada di antara mereka yang akan membawa oleh-oleh atau sekedar membeli camilan untuk membunuh kebosanan dalam perjalanan. Ya, barangkali saja.  Semoga para penumpang yang super hemat setengah mati sudah turun semua, dan berganti penumpang-penumpang yang merelakan uangnya agar bisa memutar roda ekonomi.

 “Tauco..tauco..!Moci kacang.. moci kacang..! rarokona..rokok..rokooooookkkkk..!!” 
Kerumunan pedagang tak tahu sopan santun mendesak-desak penumpang-penumpang yang akan turun dan yang sedang menyiapkan barang bawaannya. Pedagang-pedagang itu berjuang dengan kegigihan  yang luar biasa.  Pengemis perempuan  setengah baya tak ketinggalan masuk ke bis memasang wajah memelas,

“Kasihan..Neng, Bapak, Ibu…sedekahnya…sedekahnyaa…”

 Dan ini, apa lagi..! Seorang lelaki muda memakai topi haji dan bersarung pengedar kotak amal,
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Innalhamdulillah, nahmaduhuu wa nasta’iinuhuu wa nastaghfiruhu wa na’udzubillahaahi min syuruuri ‘anfusinaa wa min syayyi-aati a’maalinaa man yahdillaahu falaa mudhillalahu wa man yudhlilhu falaa haadiyalahu.”
Setelah itu ia mengucapkan dua kalimat syahadat, dan melanjutkan kalimatnya :
“Kami dari panitia pembangunan mesjid Al Ittihad, yang beralamat di Rangkasbitung, datang mengetuk hati para penumpang  bis yang budiman, untuk menyisihkan infaq dan shadaqohnya, ber-amal jariah. Barangsiapa yang membangun mesjid-mesjid Allah, maka kelak Allah akan memberi pahala dengan membangunkan istana di Surga.!”

            Entahlah, pengedar kotak amal benar-benar panitia pembangunan mesjid atau bukan? Terlalu banyak pedagang agama di negeri ini.

Seekor ayam jantan yang  kedua kakinya yang diikat tali rafia kepalanya terkulai lemas di ketiak seorang lelaki  tua berbaju putih kusam dengan jenggot dan kumis yang tak terurus, dan hampir menutup seluruh bibirnya. Rambutnya sudah keriting, acak-acakkan pula. Entah berapa lama rambut itu tak bersentuhan dengan sisir.  Sepertinya, lelaki  tua itu menduga, ayam jagonya lemas   tersiksa karena kakinya diikat.  Lelaki itu duduk kembali sejenak di kursi, dan membuka ikatan di kaki ayam.

Benar saja, sontak ketika ikatan itu terbuka, ayam jago seolah memiliki kekuatan hebat. Ia lepas dari tangan si lelaki tua itu, melompat-lompat di antara kursi dan kepala para penumpang, masuk dan berlari-lari  di kolong-kolong kursi. Semua orang di bis itu menjadi gaduh dan ribut lalu mengumpat-umpat ayam. Ketika lelaki tua itu mencoba mengejar ayam,  beberapa orang terjatuh. Anak kecil menangis karena kakinya terinjak. Lelaki tua itu rubuh ketika kepalanya membentur keranjang pedagang asongan.

“Bruuuk…!”

Ia lalu  terjatuh.

Sesungguhnya, hiruk pikuk di dalam bis, dan lalu lintas di jalanan, menyembulkan realitas kehidupan masyarakat di negeri ini.  Inilah potret perangai mental  dan kehidupan orang Indonesia yang asli. Konon,   jika ingin menatap budaya  sebuah negeri, cukuplah, lihat bagaimana tingkah laku para pengguna jalan raya. Jika ingin melihat salah satu  gambaran  salah urus negeri ini, cukuplah melihat infrastruktur jalan dan angkutan umum. Di sanalah wajah   Indonesia. Ibu benar, aku sekarang telah melihat  salah satu serpihan refleksi kehidupan di tanah air kita.

  Aku tak tahu, bagaimana kejadian selanjutnya. Ayam pergi ke mana? Sudah tertangkap atau belum? Dan bagaimana nasib lelaki tua itu?  Kami telah turun. Tentu saja, kami lekas turun, karena duduk dekat pintu, dan tak membawa banyak barang. Hanya baju yang lekat di badan  dan tas saja. Itulah sebabnya, kami tak terlalu berpayah-payah keluar dari himpitan penumpang yang akan turun dan  naik , yang berebut keluar-masuk di pintu, kalau perlu saling menyikut. Kami agak melenggang, karena barang-barang dari rumah di Tasikmalaya akan datang minggu depan, diangkut dengan  menggunakan truk.

Tangan ibu menggenggamku keluar dari terminal. Kami berjalan berdua menyeruak di antara lalu lalang orang. Aku tertabrak seorang pedagang asongan. Batu hitam kecilku jatuh, lalu ketendang seseorang. Aku menghentikan langkah dengan perasaan gelisah.

“Ada apa?” tanya Ibu.
“Batu yang dibawa dari sungai jatuh..”
“Lupakan saja, di sini pasti ada batu lainnya yang serupa,” hibur Ibu enteng.
Ringannya kalimat Ibu yang menggampangkan keterkaitan emosiku pada batu itu membuatku  marah. Mungkin aku capek, membuatku mudah meletup emosi.
              “Aku mau batu dari sungai  itu, bukan batu yang ada di sini..!” mataku mulai memerah.
Ibu menghentikan langkahnya, dan melepaskan pegangan tangannya di jemariku.
              “Mira, please jangan mengada-ada. Jangan membiasakan dirimu terikat pada benda.”

              Aku tak mau mendengar kata-kata Ibu. Aku melepaskan diriku dan menjauh dari Ibu sambil mataku mencari, dan terus mencari batu itu. Ibu berdiri mematung sambil geleng-geleng kepala. Ibu yang kelelahan dalam perjalanan dan terik matahari Cianjur yang mulai membakar  kepala bisa saja membuat kemarahannya meledak. Tetapi, ia tidak melakukannya. Ia hanya berdiri dan melihatku dari kejauhan.    Ibu selalu berkata lembut dan memaparkan alasan yang mungkin bagi kebanyakan orang yang sudah dewasa terasa bijak, matang dan dalam, tetapi ditelingaku  terdengar kurang berani, dan kurang gigih meraih kemungkinan menang dan mendapatkan sesuatu. Termasuk ketika sekarang aku kehilangan batu itu.  Aku harus menemukannya…!

             Kusikapkan sampah plastik, koran bekas bungkusan  makanan yang berceceran di pelataran terminal tempat aku mengira-ngira jatuh. Terminal ini memang kotor, banyak sampah berserakan. Aku melihat langkah-langkah kaki orang, barangkali saja ada terinjak atau tertutupi oleh kakinya.  Aku mencari dan terus mencari berkeliling, diantara orang-orang yang tidak peduli.  Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit. Aku tak akan menyerah. Ibu menatapku dan mulai gelisah. Ia menghampiriku dan aku sudah tahu apa yang akan dikatakannya, pasti kembali pada kalimat pertama tadi yang telah diucapkannya, “Lupakan saja, di sini pasti ada batu yang lainnya yang serupa.”

              “Apa yang kau cari, Nak?” tanya seorang lelaki menjelang setengah baya berbaju batik cokelat dengan lembut. Aku mendongakkan kepala. Lelaki itu berperawakan sedang, berkulit sawo matang dengan rambut lurus yang disisir rapi. Tatapan matanya teduh, raut wajah yang sabar.

              Orang Amerika selalu mengajarkan dan mengingatkan anak-anaknya, “Jangan berbicara dengan orang asing.” Tetapi Ibuku selalu berkata, bersikap sopanlah pada orang asing dan  banyaklah mendengarkan.   Biarkan orang asing lebih banyak berbicara, dengan begitu  kita akan  mengetahui maksud dan siapa  mereka.   Keterampilan mendengarkan jauh lebih penting daripada kepandaian berbicara.  Berbicaralah seperlunya, dan jawablah secukupnya. Banyaklah tersenyum.

              Tapi aku tak bisa tersenyum kali ini,  aku terlalu cemas tak menemukan batu hitam kecilku. Mataku berlinang.  Aku hanya bisa menjawab secukupnya,
              “Aku mencari batu hitam yang jatuh tadi.”
              “Di mana tadi jatuhnya?”
              “ Di sekitar sini.”
              “Sebesar apa batunya?”
              “Sebesar kelereng, berbentuk bulat.”

              Lelaki itu tak banyak bertanya lagi. Ia  sibuk membantuku mencari batu. Ibuku yang sudah mendekat menampakkan wajah yang rikuh dan malu atas bantuan bapak itu. Ibuku malu, karena lelaki itu menunjukkan empatinya yang penuh kepada anaknya.
              “Mohon maaf, jadi ikut  repot..” kata Ibuku sopan  sambil mendekat.
Lelaki itu tersenyum,
              “Tak apa…”
Lelaki itu mencari dengan mata setajam elang, dan gerakan tubuh yang tenang, setenang aliran sungai yang dalam. Ia melangkah perlahan di sekeliling, terkadang tubuhnya membungkuk dan menyibakkan sampah dengan perlahan. Sampah yang tersibak di sekitar dirinya  ia pungut, lalu  dikumpulkan dan kemudian dibuang ke tempat sampah.

              Ibu jadi ikut mencari.  Mungkin malu kepada lelaki itu yang lebih empati, padahal ini anaknya sendiri. Beberapa orang bertanya pada Ibu, apa yang ia cari?  Ketika Ibu menjawab sebuah batu kecil hitam bulat, mereka tertawa. Ada orang yang menyangka Ibu seorang dukun, dan jimatnya hilang.  Ibu hanya tertawa, dan berkata bahwa itu batu milik anaknya sambil menunjuk padaku.  Tetapi, ia melihat Ibu dengan tatap tak percaya. Bisa dimengerti, bagaimana kita bisa mempercayai orang yang bertemu selewat saja. Moralitas seseorang dapat diketahui setelah waktu yang panjang hidup bersama. Seperti ketabahan seseorang dapat dilihat ketika kemalangan menimpanya. Juga, kebijaksanaan seseorang dapat diketahui melalui rentang percakapan yang lama, dan semua itu dibangun bertahun-tahun lamanya melalui interaksi langsung dan mengamatinya dari dekat. Jadi kalau orang selewat mengembangkan prasangka, ya, dimaklumi saja. Apa yang bisa dipercaya pada orang selewat, apalagi untuk alasan pencarian batu pusaka.

              “Ini bukan?”
Lelaki itu memperlihatkan batu di tangannya. Aku terlonjak..! Mataku yang mulai membasah segera kuseka. Ia lelaki yang hebat. Bagai seseorang yang bisa menemukan jarum di tengah tumpukan jerami. Entah dengan mata dan kekuatan apa yang membuatnya bisa menemukan batu yang tidak pernah dilihat sebelumnya.

              “Benar..! Terima kasih.”  Mataku berbinar. Aku bahagia. Aku merasa tak penting lagi ia menemukan di mana? Yang paling penting bagiku batu itu sudah ada di tanganku. Mungkin kelak batu itu akan menjadi penyelamatku saat-saat berat di perjalanan selanjutnya  seandainya aku mabuk. Kukira, mulai saat ini,  ia memang telah berubah jadi jimat.

              Ibuku  membungkukkan badannya untuk menunjukkan rasa terima kasih yang dalam, seraya memohon maaf telah merepotkannya. Perasaan, ini sudah kedua kalinya Ibu mengucapkan kalimat yang sama pada lelaki itu.  Inilah kalimat yang diajarkan Ibu sejak aku balita sampai sekarang, mengucapkan dua kalimat sopan santun dan etika paling mendasar  dalam hubungan antar manusia, menyegerakan menyampaikan ucapan terima kasih bila diberi kebaikan, dan segera meminta maaf jika telah melakukan kesalahan.  Orang yang lidahnya kelu mengatakan dua kalimat ini, hatinya telah kotor dan membatu.

              Lelaki itu menyambut kalimat Ibu dengan senyuman dan berlalu.  Ternyata pria asing ini bahkan lebih hemat kata-katanya dibanding dengan Ibu.  Ia  bertindak untuk menyelesaikan – mencari dan menemukan -  soal batu itu, dan meredakan kesedihanku dengan aksi dan kegigihan, bukan sekedar kata-kata penghiburan.

              Mungkin kau pernah mendengar, barang siapa yang mencari akan menemukan. Walaupun entah tangan siapa yang  akan menemukan, belum tentu diri kita sendiri.   Jika kau tak dapat menemukannya juga setelah keras upaya pencarian, setidaknya kau akan menemukan makna di ujung batas kekuatan manusiawi.

              Ibu menggamit lenganku dan mengingatkan  agar aku menyimpan batu itu di dalam tas agar tak hilang. Tak ada gerutuan yang keluar dari mulutnya. Ibu memang jarang marah, juga jarang menggerutu.  Kami  terus berjalan keluar terminal mencari angkutan umum untuk mencapai rumah.


Ah, Ibu memang selalu begitu. Menarik dan mengulurku dalam mengajari segala sesuatu di  kehidupan ini seperti bermain layang-layang.  Kadang aku diproteksi sekuat hati, kadang aku dilepas sambil diamati. Esok lusa, aku ingin  menjelajah  dalam kehidupan ini, bukan sebagai layang-layang Ibu, aku ingin menjadi burung elang..!










[1] Artinya, yang kecil digendong.

Mozaik


1
Malam Buram


Malam  buram.

           Ini malam terakhirku ada di kota Tasikmalaya. Malam yang akan menggenapi kepedihan untuk aku dan Ibu.   Aku yang tengah termangu duduk di kursi rotan di ruang tamu menatap tas dan kopor yang di simpan di pojok ruang. Dua kopor baju –  satu kopor baju Ibu yang berwarna kelabu, dan satu kopor bajuku berwarna hitam. Lengkap sudah warna baju kopor ini adalah warna perkabungan.  Hitam dan kelabu.

            Cecak mengejar nyamuk di dinding ruangan yang berwarna putih. Aku tak lagi sanggup bernyanyi,  do re mi fa so la si do..“Hap..! lalu ditangkap..”  Laron-laron mengitari lampu. Ah, kiranya mereka sedang tersesat dalam panas dan cahaya di  lima bohlam lampu berkekuatan masing-masing sepuluh watt yang tergantung terkurung dalam lampu hias dengan bentuk seperti kelopak bunga.  Biasanya di bawah cahaya lampu – aku menyimpan baskom berisi air untuk menampung laron-laron yang jatuh.  Mayat-mayat laron mengambang di air, sayap-sayapnya lepas.  Pagi-pagi sebelum aku berangkat ke sekolah, aku bungkus mayat-mayat laron itu, disatukan dalam plastik,

“Hai..Truna! ada oleh-oleh untukmu,”  teriakku  sambil mengacung-acungkan bungkusan kepada anak  tetangga sebelahku,  sekaligus  teman sekelasku juga di kelas 6 sekolah dasar – di pagi hari.  Anak lelaki yang berkulit putih dan bermata sipit – ayahnya  kepala sekolah SMP dan ibunya guru sekolah dasar -  ini langsung menyambar oleh-oleh dariku.  Laron itu untuk makanan burung, katanya.  Ia biasanya menebarkan mayat-mayat laron itu di halaman rumahnya, di siang hari sepulang sekolah. Lalu ia masuk ke dalam rumahnya  sambil diam-diam memerhatikan burung-burung dari balik jendela  mematuki almarhum dan almarhumah laron.

Untuk semua kebaikanku memberi hadiah mayat-mayat laron selama menjadi tetangga baiknya - sore lalu Truna   memberiku sebuah batu yang diambil dari sungai tempat kami  bermain bersama teman-teman, “Jika kau merasa mabuk nanti, pegang erat-erat batu ini. Aku telah membuktikan kemujarabannya sewaktu pergi ke Jakarta.” Ia menyerahkannya padaku seperti upacara sakral pelimpahan benda pusaka.  Konon, katanya ia suka mabuk juga di perjalanan sepertiku, dan batu ini seperti jimat baginya. Aku menerimanya sambil tertawa. Mungkin Truna sudah agak sedikit gila, mana ada batu yang bisa menyembuhkan mabuk. Demi menjaga perasaannya, aku menerimanya walaupun sambil tertawa terbahak.

            Sebenarnya, keluarga Truna ingin mengantar kami ke Cianjur, karena mereka memiliki mobil minibus tua. Truna  begitu bersemangat ketika kukatakan nanti kami akan melewati jembatan Rajamandala. Entahlah, anak itu adalah anak yang aneh, ia selalu mengagumi dan terpukau pada sungai dan jembatan.  Untuk tawaran itu,  Ibu menolaknya dengan halus karena tak ingin merepotkan. Lebih dari itu, ia ingin mengajari anaknya kehidupan. Ibu bilang, kehidupan di angkutan umum itu adalah realitas  di mana anaknya perlu membuka mata, ia ingin melatih anaknya ketegaran dan daya juang. Ketika Ibu berkata kepada suami-istri  pendidik itu,  mereka menatap Ibu dengan haru.

            Sekarang, kubiarkan laron-laron itu bergeletakan di lantai. Sesekali, aku melihat bagaimana tubuh-tubuh itu  melemah,  melayang-layang, terkulai – lalu  jatuh di lantai. Sayap-sayapnya patah. Laron-laron itu, seperti  peri hutan yang dikhianati kekasihnya – kedua sayapnya dipotong untuk dipersembahkan kepada raja. Peri hutan lalu berjalan terseok-seok kehilangan harapan dan menembus kegelapan. Laron-laron tanpa sayap  itu berjalan  di hadapanku tak tentu arah, dan  bersiap-siap menyambut  kematian.

            Aku mendengar Ibu terisak di sudut kamar.  Seperti isak tangis peri  yang terluka.  Aku selalu mendengarnya seusai menyelesaikan sujud terakhir dalam shalatnya, terutama di lima bulan terkahir ini.   Sajadah biru yang terbentang bekas Ibu bersujud selalu basah. Namun setelah menyelesaikan sujud panjangnya – ketika Ibu keluar dari kamarnya, raut wajah Ibu semakin  terlihat sabar dan tabah.

            Aku anak yatim. Ayah meninggal lima bulan lalu karena sakit, dalam usia yang masih muda, 40 tahun. Ibu menjadi janda dalam usia muda, 35 tahun dan hanya menjadi ibu rumah tangga.   Tuhan telah menerapkan dalil kepada kami, untuk menempuh titah-Nya dalam untaian-untaian rencana-Nya. Kami tak bisa mengelak takdir, dan Ayah tak bisa menunda kematiannya – menungguku  hingga dewasa.  Atau, menunggu sampai Ayah tua dan terbungkuk.

            Dulu,  Ibu dan Ayah sering menatap takjub dengan dua pasang mata mereka – ketika ada kakek dan nenek saling menggenggam erat jemari di jalan, dan saling bertatapan mesra,
            “Seperti itu nanti kita, sayang..” kata Ayah sambil merengkuh pundak Ibu, sesaat kemudian membelai rambut Ibu, dan disandarkan ke pundaknya.  Ibu hanya tersenyum. Ibu memang perempuan yang tidak banyak bicara. Sementara Ayah adalah pria yang sungguh romantis. Mungkin karena ia lahir dari keluarga seniman Sunda – kakekku adalah seorang pemain calung yang piawai mengarang lagu Sunda, tetapi terjebak menjadi seorang pengrajin tempe dan oncom karena desakan kebutuhan untuk bertahan hidup.    Tetapi, Ayah tak pernah mampu melawan keinginan Tuhan untuk memanggilnya pulang.  Dan ‘nanti’  itu tidak pernah terjadi…

            Aku tidak tahu, apakah Ibu akan menjadi peri hutan setelah sayap-sayapnya harapannya dipatahkan oleh kematian Ayah – akankah  Ibu  membawaku menuju kegelapan?
            Ibuku, Dewi Sartika – semoga ia bukan perempuan lemah. Sebagaimana Raden Dewi Sartika, nama pahlawan wanita yang berasal dari tanah Pasundan – ia akan menyusun mimpi kembali, dengan sayapnya yang patah.  Sebagaimana peri hutan yang kelak menemukan makna kehidupan, tanpa ciuman kekasih sejati  yang mengkhianati – melainkan oleh ciuman kehidupan.


***

Tirai kubuka. Di langit  bintang berkelip, tak ada yang jenaka.

            Membayangkan di luar jendela sana ada Ayah, seperti di dalam film-film yang muncul tiba-tiba. Ayah berubah menjadi malaikat pelindung dengan lingkaran putih yang terbuat dari cahaya di atasnya.  Hanya desir angin menyentuh dedaunan yang menari-nari berkilat-kilat dipapar cahaya purnama.  Ia membawa setangkai mawar merah untuk Ibu dan sebatang cokelat untukku.

Tak ada Ayah.
            Sunyi  mengembang di batas cakrawala.
            Malam ini aku ingin terjaga bersama  purnama.

Aku membayangkan, Ayah ada di sana. Di atas  langit. Ia berubah menjadi bintang-bintang. Kami ada dalam ruang diametral - dua sosok yang berhadapan, tak dapat  saling  berbicara dan tak mungkin saling menyentuh. Di antara ruang itu, ada kenangan, ada cerita di antara kami bertiga.  Ia, Ayah, akan  bersinar terang di dalam jiwa. 

“Tidurlah, sayang..” tegur Ibu lembut dari balik pintu kamar.
         “Sebentar lagi, Bu..” jawabku berbohong -  hanya untuk menghentikan perintahnya yang akan berulang. Perintah Ibu akan mengentikanku menjaga rencana semula. Aku tak mengantuk.   Akan  menjaga purnama terakhir di Tasikmalaya.
            “Apa yang sedang kau lakukan?”
            “Melihat bulan..”

            Ibu membalikkan tubuhnya ke kamar. Aku tahu Ibu pun tidak bisa tidur.  Terlalu banyak bayangan Ayah di rumah ini. Terlalu banyak kenangan yang bersemayam pada setiap derit pintu menunggu kepulangan dan kedatangan Ayah sepulang berkerja. Terlalu banyak lambaian tangan dan senyuman yang dilempar dari balik jendela ke halaman ketika Ayah berkebun dengan topi petaninya yang lucu. Suara-suara Ayah mengitari seluruh ruangan dan sudut-sudut rumah dari rekaman-rekaman di masa lalu. Tiba-tiba seluruh kerinduan menghela perasaanku, mengaduk-aduk ruang bathinku. Mataku membasah.

            Aku tidak tahu kapan datangnya. Se-jam kemudian Ibu telah berada di sampingku dan membelai rambutku. 
            “Banyak yang kau beratkan di sini, ya?”
Aku mengangguk.
            “Demikian pula Ibu. Tetapi, kita tak banyak pilihan kecuali kembali ke Cianjur,” katanya seakan membaca pikiranku.
Aku hanya diam. Aku tahu, rumah ini bukan milik kami. Ini hanya rumah dinas. Sementara Ibu telah memiliki rumah warisan mendiang kakek dan nenek di Cianjur.  Kini tinggal kami berdua, hanya aku dan Ibu.
            “ Suatu hari kita akan melihat rumah ini lagi, sambil melihat pusara Ayah,” hibur Ibu. Aku tahu, Ibu sebenarnya berduka – bahkan dukanya lebih dalam dibanding dengan diriku.  Kehilangan suami, seperti lenyap separuh jiwanya.  Aku ingat, bagaimana Ibu tak mampu berbicara sampai beberapa hari, kecuali air mata yang menderas mengaliri pipi. Begitulah Ibu, jika dilanda duka cita yang dalam, ia tak banyak berkata-kata, tidak pula histeris.  Ibu seperti air sungai yang dalam, lembut mengalir perlahan namun menyimpan ketegaran.

            Di balik ketegaran Ibu, tetap saja agak gentar menatap masa depan tanpa kepastian dengan tanggungan anak yatim.  Beruntung Ibu memiliki keterampilan menjahit, ia berkata bahwa nanti ia akan menerima jahitan. Pasti ini akan membutuhkan perjuangan,  yang tidak mudah. Karena selama ini ia hanya ibu rumah tangga tanpa kegiatan apa pun yang menghasilan pendapatan. Tetapi, Ibu memang pandai menjahit dan merancang busana – namun tak pernah dijadikan pendapatan pribadinya.

Mungkin Ibu agak sedikit lega, ada uang hak  pensiun Ayah sebagai PNS yang tidak seberapa.  Ibu berharap, dengan berhemat dan ia akan mencoba mencari  penghasilan tambahan - semoga akan cukup untuk menopang hidup kami dan menyekolahkanku  hingga  mencapai perguruan tinggi, sebagaimana Ayah pernah menitipkan mimpi dengan lagu yang sering dilagukannya untukku :

Nelengnengkung, nelengnengkung.
Geura gede, geura jangkung.
Geura sakola di Bandung.
Nyiar elmu anu luhung.

           
Di masa depan, dengan kesendirian Ibu sebagai janda,  semoga Ibu kuat  ketika mendapatkan tekanan-tekanan hidup dari luar sana, dan  tak ada bahu lagi  baginya untuk bersandar - Ia malah harus
menguatkan bahunya untukku. Mudah-mudahan  Ibu akan semakin tegar menghadapi hari-hari ke depan yang kejam dari liarnya tatapan perempuan-perempuan yang bersuami yang wanti-wanti berpesan  agar   menghindar bertemu dan  memberikan senyuman pada Ibu? Bertemu seorang janda  kesepian akan lebih menakutkan dibandingkan bertemu seekor  harimau.

            “Kau masih ingat Mira, kisah nabi Muhammad. Ia yatim, bahkan sebelum Baginda lahir. Allah sangat mengasihi anak yatim, dimuliakan-Nya Muhammad dari lahir hingga kematiannya. Ibu kira, Ibu pun akan setegar Siti  Aminah,” hiburnya untukku dan untuk dirinya.  Aku tidak tahu, kalimatnya sungguh-sungguh,  ataukah ia  sedang meredakan dan memanipulasi perasaannya sendiri ?  Namun Ibu yang dibesarkan dalam kultur religius di masa kecilnya di Cianjur, mudah menerima  takdir dan nasib yang menyambanginya – sebagaimana  matahari yang tak dapat unjuk rasa untuk merubah posisi arah terbit. Agama telah memberikan kepadanya keyakinan, pengharapan sekaligus kepasrahan.

            Aku ingat kisah-kisah para Nabi, mereka tak ada yang hidup dalam ketenangan dan kenyamanan. Siti Maryam membesarkan Isa Almasih seorang diri, demikian pula banyak cerita-cerita tentang orang-orang besar yang menjadi besar karena mengalami kesulitan dan kepahitan dalam hidupnya. Kepedihan itu menjadi energi, bukannya melemahkan. Mungkin Ibu sudah menghayati kemalangan nasib kami hingga ke titik itu.

            “Ibu sangat mencintai Ayah, kehilangan bukan berarti harus larut. Karena hidup harus berlanjut. Kau harus punya masa depan,” jelasnya menguatkan.
            “Tidurlah, agar besok badanmu segar..” lanjutnya. Aku tak ingin membebani perasaan Ibu. Kulangkahkan kakiku menuju kamar. Kubaringkan tubuhku, tetapi mataku tak bisa terpejam. Terlalu banyak serpihan-serpihan  bayangan Ayah dan pusaranya nun jauh di sana di bukit Ardilaya, teman-teman, sawah, gunung Galunggung, sungai, laron dan Truna – silih berganti menari-nari di pikiranku. Mataku tak bisa terpejam.  Dalam sisi ini, aku mewarisi karakter Ayah yang agak melankoli dan butuh waktu untuk  melarutkan perasaan kehilangan dan juga meninggalkan  banyak nostalgi.


***

Untuk hidup. Di mana aku telah merasakan kehilangan – pada jiwa yang sangat kusayang.
Untuk hidup. Di mana aku  akan meninggalkan halte persinggahan di waktu kanak – di mana telah kutanam sejuta kenangan.
Untuk hidup. Yang tak pernah menghentikan waktu barang sejenak untuk meredakan ketakutan tentang masa depan.
Dua orang perempuan menembus misteri.
Ibu dan anak perempuannya – yang sedang mendefinisikan ulang hidup, dalam sangkar takdir.
Tetapi kami harus terus menghela hidup, untuk nafas yang masih  perlu kami bela.
Untuk purnama terakhir di Tasikmalaya, aku akan memeramkan kepedihan di rongga dada.
Selamat tinggal  Ayah di Ardilaya.
Aku akan datang kembali mengunjungi pusaramu, suatu hari.
Kami harus kuat..!


                                                                                 




           


Minggu, 09 Februari 2014

Suatu Pagi di Padang Ilalang



Seandainya, ketika berjalan di padang ilalang ditemani  syair lagu Ebiet G. Ade, maka syair itu bagiku terlalu galau, “Biar kutembus padang ilalang..tak perlu kau berlari mengejar mimpi yang tak pasti, hari ini juga mimpi, maka biarkan ia datang dihatimu…dihatimu…”  Di padang ini, aku tak bermimpi. Karena, aku baru saja bangun tidur dan shalat subuh, lalu pamit kepada suamiku yang tidur lagi setelah shalat, mau pergi ke padang ilalang di tidak terlalu jauh dari  tempat tinggal kami di Kupang.


Aku segera melarikan  mobil. Kupang yang sepi. Di hari Minggu Kupang memang sepi, karena orang-orang sebagian besar bersiap kebaktian di gereja.  Kalau tidak, mereka sedang bersiap-siap ke gereja. Dan toko-toko umumnya tutup. Baru nanti sore mereka akan buka kembali.


Asli ini di Kupang, walau mobilnya plat Jakarta, he..he..he..
Hujan tadi malam masih menyisakan embun.  Aku segera memarkirkan mobil di tepi jalan. Berjalan sendiri di tengah padang ilalang pasti akan terasa ganjil. Untunglah, di Kupang kulihat terlalu banyak orang yang berjalan sendirian. Jadi  kalau aku berjalan sendirian ke mana pun di sini, bukan pemandangan yang aneh, karena Kupang aman. Orang-orang Timor pada umumnya ramah dan berhati lembut.


Melihat padang ilalang dari balik reranting

Pagi yang indah. Ceracau burung kecil di tengah padang seakan menemaniku. Apa yang lebih mewah bagiku selain kenikmatan memandang alam ini?  Aku hidup di kota besar di antara Jakarta dan Bandung, sulit bagiku menikmati wisata belanja dan berkelindan di antara mall dan café.  Dan, inilah mall yang sesungguhnya bagiku. Mata lepas memandang, melihat perdu-perdu, pepohonan dan rerumputan juga serangga-serangga yang lucu. 


Aku segera menuruni lembah, lalu kembali melajukan mobilku, lalu berhenti tatkala aku melihat sosok yang lucu di hadapanku. Seorang kakek  rambutnya di cat merah bermain di depan rumahnya, rumah adat Timor. Anjing menggong-gong hampir meruntuhkan kepercayaan diriku. Untunglah lelaki yang tidak bisa  berbahasa Indonesia ini menenangkan peliharaannya.

 
Gaya juga, ya..si Kakek ini...:)

Aku terus berjalan, sampai menemukan hutan.

 
Hutan yang ganteng, he..he..he
Tidak jauh dari sini, aku melihat monyet beriringan.


Lucu, yaa..:)
Sepertinya, dia dan aku sama, deh..sama-sama belum mandi.  Sudah, ah..pulang dulu, cukup sampai di sini  dulu jelajah paginya.  Aku mau menyiapkan sarapan dan teh panas untuk suamiku.


Jumat, 07 Februari 2014

Aku Ingin Bercerita Tentang Pulau Kera


Sisi lain Pulau Kera
Aku telah lama mendengar tentang Pulau Kera, semenjak suamiku bertugas di Nusa Tenggara Timur semenjak tiga tahun yang lalu.  Yang terbayang olehku sebelumnya, di sana banyak binatang sejenis kera.  Pada saat ada kesempatan pergi ke Pulau Kera,  aku tak ingin menyia-nyiakannya. Dalam pikiranku yang  terbayang  keukeuh  banyak kera.


Langit begitu cerah.  Aku  membawa serta  ayahku dan adikku, Rini. Agak khawatir juga membawa ayah yang sudah sepuh  menaiki perahu. Wajahnya terlihat tegang dan pucat. Demikian pula suamiku. Ia memang agak nervous dengan laut, karena tidak bisa berenang.  Syukurlah ada baju pelampung, ini sedikit meredakan ketakutan mereka. Apalagi, ini perjalanan dengan waktu tempuh yang tidak sebentar, sekitar satu jam-an.  Semoga tak terjadi apa-apa.


Perahu sewaan yang membawa kami dari Namosain berayun-ayun. Terkadang serasa akan terbalik. Ayahku, suamiku dan adikku berjongkok dan berpegang erat-erat. Nampak mereka begitu tegang. Mungkin, aku lebih tenang dibanding mereka. Entahlah, aku bahkan sempat memotret suasana semuanya.  Aku menyukai alam. Kuikuti seluruh gerakan dan tariannya. Begitu pun dengan tarian ombak. Bagiku ini nyanyian alam.
 
Pulau Kera sudah terlihat di depan mata

Di tengah laut, kami berganti tumpangan memakai kapal pukat. Dan ketegangan semakin menggila. Yang membuat aku takut, bukan menakutkan diriku sendiri. Tetapi, ayahku, suamiku dan adikku. Ombak pun besar. Kapal berayun-ayun tak  menentu. Gelombang laut naik turun  membuat  mereka duduk terdiam menghayati ketakutan. Sementara, aku berjalan-jalan ke mana pun yang aku suka. Aku melihat burung-burung camar dan juga rajawali. Ini sangat indah. Aku menaiki geladak kapal bagian atas, dan duduk dengan tenang. Wah! Aku melihat pemandangan indah daratan Pulau Timor dan juga Pulau Semau. Sampai akhirnya, suamiku memiliki keberanian untuk mengikutiku.


Tidakkah engkau bisa bercanda dengan ombak, suamiku…?  Ini  indah…”


Lautnya jernih dan bening, pasirnya putih.

Dari kejauhan nampak Pulau Kera. Sungguh aku takjub melihatnya. Pulau Kera ternyata sebuah  pulau mungil, pasirnya putih menyilaukan mata. Di sana ada penghuninya,  suku  Bajo.  Penduduk Pulau Kera tak lebih dari 300 orang. Semua  penduduknya bekerja menjadi nelayan. Mereka adalah nelayan-nelayan yang tangguh. Mereka penakluk gelombang. Aku melihat anak-anak yang masih sangat kecil sudah diajarkan ayahnya berenang di laut.

Horor yaa...

Perempuan-perempuan Bajo juga adalah perempuan yang hebat.  Mereka membantu suaminya  dan pantang bagi mereka berleha-leha.  Dan masyarakat Bajo juga adalah masyarakat yang religius. Ketika aku  memasuki mesjid yang sangat sederhana, pas adzan dzuhur  tiba, anak-anak, lelaki dan perempuan shalat berjama’ah bersama.

Trenyuh melihat kondisi sekolah anak-anak Pulau Kera..

Ada sekolah yang sangat sederhana., hanya ada 3 ruang kelas. Entah siapa yang mengajar. Setahuku, masyarakat di sini tak memiliki KTP, entahlah bagaimana pemerintah NTT bisa memperlakukan mereka seperti itu.

Rumah suku Bajo, ini sangat manis...
Tak ada yang bisa ditanami apa pun di Pulau Kera, kecuali kelapa. Pulau ini seluruhnya hanya pasir dan pasir serta tanaman-tanaman khas pantai. Untuk mencukupi kebutuhannya, masyarakat Pulau Kera berbelanja di pasar Oeba sambil menjual ikan-ikan yang mereka tangkap. Konon tidak sulit menangkap ikan di sekitar Pulau Kera.  Aku  percaya.  NTT lautnya luas, dan nelayan pun tidak sebanyak di Pulau Jawa. Pasti tangkapannya akan banyak.


Aku  berjalan menyusuri  Pulau Kera.  Sampai aku akhirnya menggugurkan bayanganku sendiri. Tak ada kera di sini. Yang ada adalah Pulau Kera  dengan pasir putih yang menghampar  indah.

Kamis, 06 Februari 2014

Aku, Pulau Sumba dan Anak-Anak


 
Aku dan suamiku

Rencana Tuhan seperti apa yang diberikan Tuhan padaku? Atau bahkan sebenarnya aku sendiri yang merancang hidupku? Sungguh ini teka-teki hidup yang tak pernah aku ingin pertanyakan dan  aku tak ingin menjelajah sebuah misteri besar tentang masa depan.  Tetapi, kenyataannya, aku saat ini telah berada di Pulau Sumba. Bagiku, Sumba bukan cerita tentang masa depan. Aku terlempar jauh pada abad-abad terbelakang.


Jauh, sebelum pesawat mendarat dalam penerbangan dari Kupang, suamiku  menunjukkan sesuatu padaku di atas langit setelah pesawat kecil yang kami tumpangi hampir mendekat  Sumba. “Itu padang-pada savanna..”  Aku tersentak. Aku membayangkan di sana ada kambing, sapi dan kuda bergerombol meikmati rumput dan desau angin yang menyentuh reranting serta dedaunan. Atau mungkin derak-derak bebatang pohon kecil  yang melenguh dipaksa menari sang bayu. Entahlah. Aku selalu merindukan kedamaian-kedamaian yang bersahaja itu.


“Jenis pesawat seperti ini kalau mendarat akan  terasa menakutkan untuk Mama..” ujar suamiku  sedikit menakuti. Aku paham, suamiku sempat menjadi seorang aircraft engineer  selama  belasan tahun, ia sangat hafal dengan berbagai tipe jenis pesawat dan karakter masing-masing. Aku sudah bersiap-siap dengan memegang tangan suamiku erat-erat, untuk menenangkan perasaanku.  Benar saja,  pesawat ini mendarat dengan cara yang membuat aku dag dig dug. Suamiku tertawa kecil  demi melihat kegugupanku.


Bandara Tambolaka. Ya, dari sini petualangan akan dimulai.  Begitu keluar dari Bandara yang mungil ini, hawa eksotis sudah mulai terasa. Rumah-rumah sederhana penduduk di antara pohon-pohon jambu mete. Jambu mete adalah buah lokal yang menjadi andalan penduduk pulau ini. Sayangnya, tanah –tanah pertanian di Sumba banyak yang terlantar. 


Dari balik jendela mobil yang menjemput kami, aku melihat lelaki di sini semuanya menyisipkan golok di pinggangnya. Pemandangan yang membuatku takut. Dan, di Sumba,  kematian dan kehidupan seolah tak berjarak, karena semua penduduk di sini menguburkan anggota keluarganya di halaman rumah.

Anak-anak suku Kodi

Ketika mobil semakin masuk ke pedalaman, hawa kesedihan semakin menusuk perasaan. Aku tak tahan melihat anak-anak kecil telanjang, kudisan, kurus dan nyaris tak terurus. Mereka berlari-lari di halaman rumah-rumah yang sederhana. Tak ada sekat yang berarti untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Anak-anak itu cukup mengaduk-aduk perasaan. Para orang tua nampak banyak yang duduk-duduk berleha-leha, tak banyak yang dikerjakan. Entahlah, atau karena aku datang ke sana setelah mereka pulang berladang? Mereka hidup begitu sederhana, jauh dari kelayakan. Teman suamiku mengingatkan,
“Jangan-jangan kitalah yang harus menyedihkan diri sendiri, karena terlalu banyak dijajah oleh keinginan. Mungkin mereka jauh lebih bahagia dibanding kita.”

Pemandangan seperti ini amat lazim di Sumba

 Yang paling mengasyikanku tatkala melihat anak-anak kecil sudah pandai menunggang kuda, dan juga aku melihat di Sumba, seolah peradaban baru saja dimulai. Sekalipun golok-golok ada di pinggang mereka, mereka begitu ramah. Mereka masyarakat yang berhati lembut.

Suku Kodi yang sedang duduk-duduk di depan rumahnya

Aku  cepat akrab dengan anak-anak. Di mana-mana, anak-anak mengelilingiku.  Mereka anak-anak yang lucu, walaupun aku agak tak tahan dengan tubuhnya yang bau karena jarang mandi. Tetapi tawanya itu sudah membuatku melupakan bahwa mereka bau.   Begitu banyak anak-anak kecil di sini, di Kodi Utara. Konon menurut sopir yang sekaligus menjadi guide kami, anak-anak itu bisa dari satu bapak. Karena di Sumba, orang poligami sudah biasa. Bahkan ada yang istrinya sampai 12 orang. Tetapi, mahar untuk perempuan di sini sangat mahal sekali, bisa sampai 100 ekor hewan, antara lain kuda, babi dan sapi. Tergantung kemampuan menawar juga, sih. Tetapi perlahan-lahan adat yang memberatkan ini sudah mulai ditinggalkan.


O’ya..sebagian penduduk Sumba beragama Marapu. Sekalipun agama Kristen sudah masuk dan banyak orang Sumba masuk Kristen, tetapi bukan berarti budayanya ditinggalkan. Budaya bahkan lebih kuat dibanding dengan agama itu sendiri. Karena itu kuburan-kuburan itu masih mengadopsi kuburan adat seperti bangunan  zaman megalitikum, namun sekarang  bangunan makam itu bukan dari batu, melainkan sudah di semen.


Sebuah muara sungai di Kodi Utara

Aku sempat pergi ke makam raja di Kodi Utara, di pinggir pantai yang sangat indah. Sumba memang indah. Sangat indah. Tetapi, berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakatnya.

Anak-anak bermain di dekat perkampungan mereka

Aku sempat berkeliling di perkampungan suku Loli dan suku Kodi. Kedua suku ini memiliki kemiripan  budaya. Tetapi, konon bahasa mereka sedikit berbeda.

  
Untuk memasuki perkampungan ini, kita harus mengisi buku tamu, dan memberikan uang  yang ditentukan. Ketika aku dan suamiku ke sana, kami membayarnya Rp. 50.000,00. O’ya di sini juga terkenal dengan kain tenun. Tenun Sumba.  Harganya variatif, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan. Dan, kita pun harus pandai menawar. Menawar adalah pekerjaan yang paling tidak aku sukai, walaupun harus melakukan itu. Menawar harga bagiku teramat melelahkan, terutama jika yang dihadapi adalah pedagang  kecil  seperti di Sumba. Antara kasihan dan tidak membutuhkan barang tersebut, sungguh mengaduk-aduk perasaanku. Dan membeli karena kasihan ternyata tidaklah sehat. Sama seperti membeli barang yang tidak dibutuhkan, adalah pemubaziran. Tetapi, bagaimana jika tidak membeli, tak ada simpati sama sekali terhadap kehidupan mereka? Sebuah pilihan yang membingungkan. Akhirnya, kuputuskan saja membeli, untuk membeli  harapan pada masa depan mereka.

Aku dan anak-anak suku Loli, lucu-lucu, yaa..:)

Ketika esoknya  aku kembali untuk  terbang menuju  Denpasar, Bali. Bayangan anak-anak Sumba begitu menghentak-hentak jiwa, dan melukai seluruh perasaanku. Sementara aku tak sanggup berbuat apa-apa.


Pasti ini seru dan menyenangkan...:)