Sabtu, 19 Juli 2014

Mozaik


1
Malam Buram


Malam  buram.

           Ini malam terakhirku ada di kota Tasikmalaya. Malam yang akan menggenapi kepedihan untuk aku dan Ibu.   Aku yang tengah termangu duduk di kursi rotan di ruang tamu menatap tas dan kopor yang di simpan di pojok ruang. Dua kopor baju –  satu kopor baju Ibu yang berwarna kelabu, dan satu kopor bajuku berwarna hitam. Lengkap sudah warna baju kopor ini adalah warna perkabungan.  Hitam dan kelabu.

            Cecak mengejar nyamuk di dinding ruangan yang berwarna putih. Aku tak lagi sanggup bernyanyi,  do re mi fa so la si do..“Hap..! lalu ditangkap..”  Laron-laron mengitari lampu. Ah, kiranya mereka sedang tersesat dalam panas dan cahaya di  lima bohlam lampu berkekuatan masing-masing sepuluh watt yang tergantung terkurung dalam lampu hias dengan bentuk seperti kelopak bunga.  Biasanya di bawah cahaya lampu – aku menyimpan baskom berisi air untuk menampung laron-laron yang jatuh.  Mayat-mayat laron mengambang di air, sayap-sayapnya lepas.  Pagi-pagi sebelum aku berangkat ke sekolah, aku bungkus mayat-mayat laron itu, disatukan dalam plastik,

“Hai..Truna! ada oleh-oleh untukmu,”  teriakku  sambil mengacung-acungkan bungkusan kepada anak  tetangga sebelahku,  sekaligus  teman sekelasku juga di kelas 6 sekolah dasar – di pagi hari.  Anak lelaki yang berkulit putih dan bermata sipit – ayahnya  kepala sekolah SMP dan ibunya guru sekolah dasar -  ini langsung menyambar oleh-oleh dariku.  Laron itu untuk makanan burung, katanya.  Ia biasanya menebarkan mayat-mayat laron itu di halaman rumahnya, di siang hari sepulang sekolah. Lalu ia masuk ke dalam rumahnya  sambil diam-diam memerhatikan burung-burung dari balik jendela  mematuki almarhum dan almarhumah laron.

Untuk semua kebaikanku memberi hadiah mayat-mayat laron selama menjadi tetangga baiknya - sore lalu Truna   memberiku sebuah batu yang diambil dari sungai tempat kami  bermain bersama teman-teman, “Jika kau merasa mabuk nanti, pegang erat-erat batu ini. Aku telah membuktikan kemujarabannya sewaktu pergi ke Jakarta.” Ia menyerahkannya padaku seperti upacara sakral pelimpahan benda pusaka.  Konon, katanya ia suka mabuk juga di perjalanan sepertiku, dan batu ini seperti jimat baginya. Aku menerimanya sambil tertawa. Mungkin Truna sudah agak sedikit gila, mana ada batu yang bisa menyembuhkan mabuk. Demi menjaga perasaannya, aku menerimanya walaupun sambil tertawa terbahak.

            Sebenarnya, keluarga Truna ingin mengantar kami ke Cianjur, karena mereka memiliki mobil minibus tua. Truna  begitu bersemangat ketika kukatakan nanti kami akan melewati jembatan Rajamandala. Entahlah, anak itu adalah anak yang aneh, ia selalu mengagumi dan terpukau pada sungai dan jembatan.  Untuk tawaran itu,  Ibu menolaknya dengan halus karena tak ingin merepotkan. Lebih dari itu, ia ingin mengajari anaknya kehidupan. Ibu bilang, kehidupan di angkutan umum itu adalah realitas  di mana anaknya perlu membuka mata, ia ingin melatih anaknya ketegaran dan daya juang. Ketika Ibu berkata kepada suami-istri  pendidik itu,  mereka menatap Ibu dengan haru.

            Sekarang, kubiarkan laron-laron itu bergeletakan di lantai. Sesekali, aku melihat bagaimana tubuh-tubuh itu  melemah,  melayang-layang, terkulai – lalu  jatuh di lantai. Sayap-sayapnya patah. Laron-laron itu, seperti  peri hutan yang dikhianati kekasihnya – kedua sayapnya dipotong untuk dipersembahkan kepada raja. Peri hutan lalu berjalan terseok-seok kehilangan harapan dan menembus kegelapan. Laron-laron tanpa sayap  itu berjalan  di hadapanku tak tentu arah, dan  bersiap-siap menyambut  kematian.

            Aku mendengar Ibu terisak di sudut kamar.  Seperti isak tangis peri  yang terluka.  Aku selalu mendengarnya seusai menyelesaikan sujud terakhir dalam shalatnya, terutama di lima bulan terkahir ini.   Sajadah biru yang terbentang bekas Ibu bersujud selalu basah. Namun setelah menyelesaikan sujud panjangnya – ketika Ibu keluar dari kamarnya, raut wajah Ibu semakin  terlihat sabar dan tabah.

            Aku anak yatim. Ayah meninggal lima bulan lalu karena sakit, dalam usia yang masih muda, 40 tahun. Ibu menjadi janda dalam usia muda, 35 tahun dan hanya menjadi ibu rumah tangga.   Tuhan telah menerapkan dalil kepada kami, untuk menempuh titah-Nya dalam untaian-untaian rencana-Nya. Kami tak bisa mengelak takdir, dan Ayah tak bisa menunda kematiannya – menungguku  hingga dewasa.  Atau, menunggu sampai Ayah tua dan terbungkuk.

            Dulu,  Ibu dan Ayah sering menatap takjub dengan dua pasang mata mereka – ketika ada kakek dan nenek saling menggenggam erat jemari di jalan, dan saling bertatapan mesra,
            “Seperti itu nanti kita, sayang..” kata Ayah sambil merengkuh pundak Ibu, sesaat kemudian membelai rambut Ibu, dan disandarkan ke pundaknya.  Ibu hanya tersenyum. Ibu memang perempuan yang tidak banyak bicara. Sementara Ayah adalah pria yang sungguh romantis. Mungkin karena ia lahir dari keluarga seniman Sunda – kakekku adalah seorang pemain calung yang piawai mengarang lagu Sunda, tetapi terjebak menjadi seorang pengrajin tempe dan oncom karena desakan kebutuhan untuk bertahan hidup.    Tetapi, Ayah tak pernah mampu melawan keinginan Tuhan untuk memanggilnya pulang.  Dan ‘nanti’  itu tidak pernah terjadi…

            Aku tidak tahu, apakah Ibu akan menjadi peri hutan setelah sayap-sayapnya harapannya dipatahkan oleh kematian Ayah – akankah  Ibu  membawaku menuju kegelapan?
            Ibuku, Dewi Sartika – semoga ia bukan perempuan lemah. Sebagaimana Raden Dewi Sartika, nama pahlawan wanita yang berasal dari tanah Pasundan – ia akan menyusun mimpi kembali, dengan sayapnya yang patah.  Sebagaimana peri hutan yang kelak menemukan makna kehidupan, tanpa ciuman kekasih sejati  yang mengkhianati – melainkan oleh ciuman kehidupan.


***

Tirai kubuka. Di langit  bintang berkelip, tak ada yang jenaka.

            Membayangkan di luar jendela sana ada Ayah, seperti di dalam film-film yang muncul tiba-tiba. Ayah berubah menjadi malaikat pelindung dengan lingkaran putih yang terbuat dari cahaya di atasnya.  Hanya desir angin menyentuh dedaunan yang menari-nari berkilat-kilat dipapar cahaya purnama.  Ia membawa setangkai mawar merah untuk Ibu dan sebatang cokelat untukku.

Tak ada Ayah.
            Sunyi  mengembang di batas cakrawala.
            Malam ini aku ingin terjaga bersama  purnama.

Aku membayangkan, Ayah ada di sana. Di atas  langit. Ia berubah menjadi bintang-bintang. Kami ada dalam ruang diametral - dua sosok yang berhadapan, tak dapat  saling  berbicara dan tak mungkin saling menyentuh. Di antara ruang itu, ada kenangan, ada cerita di antara kami bertiga.  Ia, Ayah, akan  bersinar terang di dalam jiwa. 

“Tidurlah, sayang..” tegur Ibu lembut dari balik pintu kamar.
         “Sebentar lagi, Bu..” jawabku berbohong -  hanya untuk menghentikan perintahnya yang akan berulang. Perintah Ibu akan mengentikanku menjaga rencana semula. Aku tak mengantuk.   Akan  menjaga purnama terakhir di Tasikmalaya.
            “Apa yang sedang kau lakukan?”
            “Melihat bulan..”

            Ibu membalikkan tubuhnya ke kamar. Aku tahu Ibu pun tidak bisa tidur.  Terlalu banyak bayangan Ayah di rumah ini. Terlalu banyak kenangan yang bersemayam pada setiap derit pintu menunggu kepulangan dan kedatangan Ayah sepulang berkerja. Terlalu banyak lambaian tangan dan senyuman yang dilempar dari balik jendela ke halaman ketika Ayah berkebun dengan topi petaninya yang lucu. Suara-suara Ayah mengitari seluruh ruangan dan sudut-sudut rumah dari rekaman-rekaman di masa lalu. Tiba-tiba seluruh kerinduan menghela perasaanku, mengaduk-aduk ruang bathinku. Mataku membasah.

            Aku tidak tahu kapan datangnya. Se-jam kemudian Ibu telah berada di sampingku dan membelai rambutku. 
            “Banyak yang kau beratkan di sini, ya?”
Aku mengangguk.
            “Demikian pula Ibu. Tetapi, kita tak banyak pilihan kecuali kembali ke Cianjur,” katanya seakan membaca pikiranku.
Aku hanya diam. Aku tahu, rumah ini bukan milik kami. Ini hanya rumah dinas. Sementara Ibu telah memiliki rumah warisan mendiang kakek dan nenek di Cianjur.  Kini tinggal kami berdua, hanya aku dan Ibu.
            “ Suatu hari kita akan melihat rumah ini lagi, sambil melihat pusara Ayah,” hibur Ibu. Aku tahu, Ibu sebenarnya berduka – bahkan dukanya lebih dalam dibanding dengan diriku.  Kehilangan suami, seperti lenyap separuh jiwanya.  Aku ingat, bagaimana Ibu tak mampu berbicara sampai beberapa hari, kecuali air mata yang menderas mengaliri pipi. Begitulah Ibu, jika dilanda duka cita yang dalam, ia tak banyak berkata-kata, tidak pula histeris.  Ibu seperti air sungai yang dalam, lembut mengalir perlahan namun menyimpan ketegaran.

            Di balik ketegaran Ibu, tetap saja agak gentar menatap masa depan tanpa kepastian dengan tanggungan anak yatim.  Beruntung Ibu memiliki keterampilan menjahit, ia berkata bahwa nanti ia akan menerima jahitan. Pasti ini akan membutuhkan perjuangan,  yang tidak mudah. Karena selama ini ia hanya ibu rumah tangga tanpa kegiatan apa pun yang menghasilan pendapatan. Tetapi, Ibu memang pandai menjahit dan merancang busana – namun tak pernah dijadikan pendapatan pribadinya.

Mungkin Ibu agak sedikit lega, ada uang hak  pensiun Ayah sebagai PNS yang tidak seberapa.  Ibu berharap, dengan berhemat dan ia akan mencoba mencari  penghasilan tambahan - semoga akan cukup untuk menopang hidup kami dan menyekolahkanku  hingga  mencapai perguruan tinggi, sebagaimana Ayah pernah menitipkan mimpi dengan lagu yang sering dilagukannya untukku :

Nelengnengkung, nelengnengkung.
Geura gede, geura jangkung.
Geura sakola di Bandung.
Nyiar elmu anu luhung.

           
Di masa depan, dengan kesendirian Ibu sebagai janda,  semoga Ibu kuat  ketika mendapatkan tekanan-tekanan hidup dari luar sana, dan  tak ada bahu lagi  baginya untuk bersandar - Ia malah harus
menguatkan bahunya untukku. Mudah-mudahan  Ibu akan semakin tegar menghadapi hari-hari ke depan yang kejam dari liarnya tatapan perempuan-perempuan yang bersuami yang wanti-wanti berpesan  agar   menghindar bertemu dan  memberikan senyuman pada Ibu? Bertemu seorang janda  kesepian akan lebih menakutkan dibandingkan bertemu seekor  harimau.

            “Kau masih ingat Mira, kisah nabi Muhammad. Ia yatim, bahkan sebelum Baginda lahir. Allah sangat mengasihi anak yatim, dimuliakan-Nya Muhammad dari lahir hingga kematiannya. Ibu kira, Ibu pun akan setegar Siti  Aminah,” hiburnya untukku dan untuk dirinya.  Aku tidak tahu, kalimatnya sungguh-sungguh,  ataukah ia  sedang meredakan dan memanipulasi perasaannya sendiri ?  Namun Ibu yang dibesarkan dalam kultur religius di masa kecilnya di Cianjur, mudah menerima  takdir dan nasib yang menyambanginya – sebagaimana  matahari yang tak dapat unjuk rasa untuk merubah posisi arah terbit. Agama telah memberikan kepadanya keyakinan, pengharapan sekaligus kepasrahan.

            Aku ingat kisah-kisah para Nabi, mereka tak ada yang hidup dalam ketenangan dan kenyamanan. Siti Maryam membesarkan Isa Almasih seorang diri, demikian pula banyak cerita-cerita tentang orang-orang besar yang menjadi besar karena mengalami kesulitan dan kepahitan dalam hidupnya. Kepedihan itu menjadi energi, bukannya melemahkan. Mungkin Ibu sudah menghayati kemalangan nasib kami hingga ke titik itu.

            “Ibu sangat mencintai Ayah, kehilangan bukan berarti harus larut. Karena hidup harus berlanjut. Kau harus punya masa depan,” jelasnya menguatkan.
            “Tidurlah, agar besok badanmu segar..” lanjutnya. Aku tak ingin membebani perasaan Ibu. Kulangkahkan kakiku menuju kamar. Kubaringkan tubuhku, tetapi mataku tak bisa terpejam. Terlalu banyak serpihan-serpihan  bayangan Ayah dan pusaranya nun jauh di sana di bukit Ardilaya, teman-teman, sawah, gunung Galunggung, sungai, laron dan Truna – silih berganti menari-nari di pikiranku. Mataku tak bisa terpejam.  Dalam sisi ini, aku mewarisi karakter Ayah yang agak melankoli dan butuh waktu untuk  melarutkan perasaan kehilangan dan juga meninggalkan  banyak nostalgi.


***

Untuk hidup. Di mana aku telah merasakan kehilangan – pada jiwa yang sangat kusayang.
Untuk hidup. Di mana aku  akan meninggalkan halte persinggahan di waktu kanak – di mana telah kutanam sejuta kenangan.
Untuk hidup. Yang tak pernah menghentikan waktu barang sejenak untuk meredakan ketakutan tentang masa depan.
Dua orang perempuan menembus misteri.
Ibu dan anak perempuannya – yang sedang mendefinisikan ulang hidup, dalam sangkar takdir.
Tetapi kami harus terus menghela hidup, untuk nafas yang masih  perlu kami bela.
Untuk purnama terakhir di Tasikmalaya, aku akan memeramkan kepedihan di rongga dada.
Selamat tinggal  Ayah di Ardilaya.
Aku akan datang kembali mengunjungi pusaramu, suatu hari.
Kami harus kuat..!


                                                                                 




           


Minggu, 09 Februari 2014

Suatu Pagi di Padang Ilalang



Seandainya, ketika berjalan di padang ilalang ditemani  syair lagu Ebiet G. Ade, maka syair itu bagiku terlalu galau, “Biar kutembus padang ilalang..tak perlu kau berlari mengejar mimpi yang tak pasti, hari ini juga mimpi, maka biarkan ia datang dihatimu…dihatimu…”  Di padang ini, aku tak bermimpi. Karena, aku baru saja bangun tidur dan shalat subuh, lalu pamit kepada suamiku yang tidur lagi setelah shalat, mau pergi ke padang ilalang di tidak terlalu jauh dari  tempat tinggal kami di Kupang.


Aku segera melarikan  mobil. Kupang yang sepi. Di hari Minggu Kupang memang sepi, karena orang-orang sebagian besar bersiap kebaktian di gereja.  Kalau tidak, mereka sedang bersiap-siap ke gereja. Dan toko-toko umumnya tutup. Baru nanti sore mereka akan buka kembali.


Asli ini di Kupang, walau mobilnya plat Jakarta, he..he..he..
Hujan tadi malam masih menyisakan embun.  Aku segera memarkirkan mobil di tepi jalan. Berjalan sendiri di tengah padang ilalang pasti akan terasa ganjil. Untunglah, di Kupang kulihat terlalu banyak orang yang berjalan sendirian. Jadi  kalau aku berjalan sendirian ke mana pun di sini, bukan pemandangan yang aneh, karena Kupang aman. Orang-orang Timor pada umumnya ramah dan berhati lembut.


Melihat padang ilalang dari balik reranting

Pagi yang indah. Ceracau burung kecil di tengah padang seakan menemaniku. Apa yang lebih mewah bagiku selain kenikmatan memandang alam ini?  Aku hidup di kota besar di antara Jakarta dan Bandung, sulit bagiku menikmati wisata belanja dan berkelindan di antara mall dan cafĂ©.  Dan, inilah mall yang sesungguhnya bagiku. Mata lepas memandang, melihat perdu-perdu, pepohonan dan rerumputan juga serangga-serangga yang lucu. 


Aku segera menuruni lembah, lalu kembali melajukan mobilku, lalu berhenti tatkala aku melihat sosok yang lucu di hadapanku. Seorang kakek  rambutnya di cat merah bermain di depan rumahnya, rumah adat Timor. Anjing menggong-gong hampir meruntuhkan kepercayaan diriku. Untunglah lelaki yang tidak bisa  berbahasa Indonesia ini menenangkan peliharaannya.

 
Gaya juga, ya..si Kakek ini...:)

Aku terus berjalan, sampai menemukan hutan.

 
Hutan yang ganteng, he..he..he
Tidak jauh dari sini, aku melihat monyet beriringan.


Lucu, yaa..:)
Sepertinya, dia dan aku sama, deh..sama-sama belum mandi.  Sudah, ah..pulang dulu, cukup sampai di sini  dulu jelajah paginya.  Aku mau menyiapkan sarapan dan teh panas untuk suamiku.


Jumat, 07 Februari 2014

Aku Ingin Bercerita Tentang Pulau Kera


Sisi lain Pulau Kera
Aku telah lama mendengar tentang Pulau Kera, semenjak suamiku bertugas di Nusa Tenggara Timur semenjak tiga tahun yang lalu.  Yang terbayang olehku sebelumnya, di sana banyak binatang sejenis kera.  Pada saat ada kesempatan pergi ke Pulau Kera,  aku tak ingin menyia-nyiakannya. Dalam pikiranku yang  terbayang  keukeuh  banyak kera.


Langit begitu cerah.  Aku  membawa serta  ayahku dan adikku, Rini. Agak khawatir juga membawa ayah yang sudah sepuh  menaiki perahu. Wajahnya terlihat tegang dan pucat. Demikian pula suamiku. Ia memang agak nervous dengan laut, karena tidak bisa berenang.  Syukurlah ada baju pelampung, ini sedikit meredakan ketakutan mereka. Apalagi, ini perjalanan dengan waktu tempuh yang tidak sebentar, sekitar satu jam-an.  Semoga tak terjadi apa-apa.


Perahu sewaan yang membawa kami dari Namosain berayun-ayun. Terkadang serasa akan terbalik. Ayahku, suamiku dan adikku berjongkok dan berpegang erat-erat. Nampak mereka begitu tegang. Mungkin, aku lebih tenang dibanding mereka. Entahlah, aku bahkan sempat memotret suasana semuanya.  Aku menyukai alam. Kuikuti seluruh gerakan dan tariannya. Begitu pun dengan tarian ombak. Bagiku ini nyanyian alam.
 
Pulau Kera sudah terlihat di depan mata

Di tengah laut, kami berganti tumpangan memakai kapal pukat. Dan ketegangan semakin menggila. Yang membuat aku takut, bukan menakutkan diriku sendiri. Tetapi, ayahku, suamiku dan adikku. Ombak pun besar. Kapal berayun-ayun tak  menentu. Gelombang laut naik turun  membuat  mereka duduk terdiam menghayati ketakutan. Sementara, aku berjalan-jalan ke mana pun yang aku suka. Aku melihat burung-burung camar dan juga rajawali. Ini sangat indah. Aku menaiki geladak kapal bagian atas, dan duduk dengan tenang. Wah! Aku melihat pemandangan indah daratan Pulau Timor dan juga Pulau Semau. Sampai akhirnya, suamiku memiliki keberanian untuk mengikutiku.


Tidakkah engkau bisa bercanda dengan ombak, suamiku…?  Ini  indah…”


Lautnya jernih dan bening, pasirnya putih.

Dari kejauhan nampak Pulau Kera. Sungguh aku takjub melihatnya. Pulau Kera ternyata sebuah  pulau mungil, pasirnya putih menyilaukan mata. Di sana ada penghuninya,  suku  Bajo.  Penduduk Pulau Kera tak lebih dari 300 orang. Semua  penduduknya bekerja menjadi nelayan. Mereka adalah nelayan-nelayan yang tangguh. Mereka penakluk gelombang. Aku melihat anak-anak yang masih sangat kecil sudah diajarkan ayahnya berenang di laut.

Horor yaa...

Perempuan-perempuan Bajo juga adalah perempuan yang hebat.  Mereka membantu suaminya  dan pantang bagi mereka berleha-leha.  Dan masyarakat Bajo juga adalah masyarakat yang religius. Ketika aku  memasuki mesjid yang sangat sederhana, pas adzan dzuhur  tiba, anak-anak, lelaki dan perempuan shalat berjama’ah bersama.

Trenyuh melihat kondisi sekolah anak-anak Pulau Kera..

Ada sekolah yang sangat sederhana., hanya ada 3 ruang kelas. Entah siapa yang mengajar. Setahuku, masyarakat di sini tak memiliki KTP, entahlah bagaimana pemerintah NTT bisa memperlakukan mereka seperti itu.

Rumah suku Bajo, ini sangat manis...
Tak ada yang bisa ditanami apa pun di Pulau Kera, kecuali kelapa. Pulau ini seluruhnya hanya pasir dan pasir serta tanaman-tanaman khas pantai. Untuk mencukupi kebutuhannya, masyarakat Pulau Kera berbelanja di pasar Oeba sambil menjual ikan-ikan yang mereka tangkap. Konon tidak sulit menangkap ikan di sekitar Pulau Kera.  Aku  percaya.  NTT lautnya luas, dan nelayan pun tidak sebanyak di Pulau Jawa. Pasti tangkapannya akan banyak.


Aku  berjalan menyusuri  Pulau Kera.  Sampai aku akhirnya menggugurkan bayanganku sendiri. Tak ada kera di sini. Yang ada adalah Pulau Kera  dengan pasir putih yang menghampar  indah.

Kamis, 06 Februari 2014

Aku, Pulau Sumba dan Anak-Anak


 
Aku dan suamiku

Rencana Tuhan seperti apa yang diberikan Tuhan padaku? Atau bahkan sebenarnya aku sendiri yang merancang hidupku? Sungguh ini teka-teki hidup yang tak pernah aku ingin pertanyakan dan  aku tak ingin menjelajah sebuah misteri besar tentang masa depan.  Tetapi, kenyataannya, aku saat ini telah berada di Pulau Sumba. Bagiku, Sumba bukan cerita tentang masa depan. Aku terlempar jauh pada abad-abad terbelakang.


Jauh, sebelum pesawat mendarat dalam penerbangan dari Kupang, suamiku  menunjukkan sesuatu padaku di atas langit setelah pesawat kecil yang kami tumpangi hampir mendekat  Sumba. “Itu padang-pada savanna..”  Aku tersentak. Aku membayangkan di sana ada kambing, sapi dan kuda bergerombol meikmati rumput dan desau angin yang menyentuh reranting serta dedaunan. Atau mungkin derak-derak bebatang pohon kecil  yang melenguh dipaksa menari sang bayu. Entahlah. Aku selalu merindukan kedamaian-kedamaian yang bersahaja itu.


“Jenis pesawat seperti ini kalau mendarat akan  terasa menakutkan untuk Mama..” ujar suamiku  sedikit menakuti. Aku paham, suamiku sempat menjadi seorang aircraft engineer  selama  belasan tahun, ia sangat hafal dengan berbagai tipe jenis pesawat dan karakter masing-masing. Aku sudah bersiap-siap dengan memegang tangan suamiku erat-erat, untuk menenangkan perasaanku.  Benar saja,  pesawat ini mendarat dengan cara yang membuat aku dag dig dug. Suamiku tertawa kecil  demi melihat kegugupanku.


Bandara Tambolaka. Ya, dari sini petualangan akan dimulai.  Begitu keluar dari Bandara yang mungil ini, hawa eksotis sudah mulai terasa. Rumah-rumah sederhana penduduk di antara pohon-pohon jambu mete. Jambu mete adalah buah lokal yang menjadi andalan penduduk pulau ini. Sayangnya, tanah –tanah pertanian di Sumba banyak yang terlantar. 


Dari balik jendela mobil yang menjemput kami, aku melihat lelaki di sini semuanya menyisipkan golok di pinggangnya. Pemandangan yang membuatku takut. Dan, di Sumba,  kematian dan kehidupan seolah tak berjarak, karena semua penduduk di sini menguburkan anggota keluarganya di halaman rumah.

Anak-anak suku Kodi

Ketika mobil semakin masuk ke pedalaman, hawa kesedihan semakin menusuk perasaan. Aku tak tahan melihat anak-anak kecil telanjang, kudisan, kurus dan nyaris tak terurus. Mereka berlari-lari di halaman rumah-rumah yang sederhana. Tak ada sekat yang berarti untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Anak-anak itu cukup mengaduk-aduk perasaan. Para orang tua nampak banyak yang duduk-duduk berleha-leha, tak banyak yang dikerjakan. Entahlah, atau karena aku datang ke sana setelah mereka pulang berladang? Mereka hidup begitu sederhana, jauh dari kelayakan. Teman suamiku mengingatkan,
“Jangan-jangan kitalah yang harus menyedihkan diri sendiri, karena terlalu banyak dijajah oleh keinginan. Mungkin mereka jauh lebih bahagia dibanding kita.”

Pemandangan seperti ini amat lazim di Sumba

 Yang paling mengasyikanku tatkala melihat anak-anak kecil sudah pandai menunggang kuda, dan juga aku melihat di Sumba, seolah peradaban baru saja dimulai. Sekalipun golok-golok ada di pinggang mereka, mereka begitu ramah. Mereka masyarakat yang berhati lembut.

Suku Kodi yang sedang duduk-duduk di depan rumahnya

Aku  cepat akrab dengan anak-anak. Di mana-mana, anak-anak mengelilingiku.  Mereka anak-anak yang lucu, walaupun aku agak tak tahan dengan tubuhnya yang bau karena jarang mandi. Tetapi tawanya itu sudah membuatku melupakan bahwa mereka bau.   Begitu banyak anak-anak kecil di sini, di Kodi Utara. Konon menurut sopir yang sekaligus menjadi guide kami, anak-anak itu bisa dari satu bapak. Karena di Sumba, orang poligami sudah biasa. Bahkan ada yang istrinya sampai 12 orang. Tetapi, mahar untuk perempuan di sini sangat mahal sekali, bisa sampai 100 ekor hewan, antara lain kuda, babi dan sapi. Tergantung kemampuan menawar juga, sih. Tetapi perlahan-lahan adat yang memberatkan ini sudah mulai ditinggalkan.


O’ya..sebagian penduduk Sumba beragama Marapu. Sekalipun agama Kristen sudah masuk dan banyak orang Sumba masuk Kristen, tetapi bukan berarti budayanya ditinggalkan. Budaya bahkan lebih kuat dibanding dengan agama itu sendiri. Karena itu kuburan-kuburan itu masih mengadopsi kuburan adat seperti bangunan  zaman megalitikum, namun sekarang  bangunan makam itu bukan dari batu, melainkan sudah di semen.


Sebuah muara sungai di Kodi Utara

Aku sempat pergi ke makam raja di Kodi Utara, di pinggir pantai yang sangat indah. Sumba memang indah. Sangat indah. Tetapi, berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakatnya.

Anak-anak bermain di dekat perkampungan mereka

Aku sempat berkeliling di perkampungan suku Loli dan suku Kodi. Kedua suku ini memiliki kemiripan  budaya. Tetapi, konon bahasa mereka sedikit berbeda.

  
Untuk memasuki perkampungan ini, kita harus mengisi buku tamu, dan memberikan uang  yang ditentukan. Ketika aku dan suamiku ke sana, kami membayarnya Rp. 50.000,00. O’ya di sini juga terkenal dengan kain tenun. Tenun Sumba.  Harganya variatif, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan. Dan, kita pun harus pandai menawar. Menawar adalah pekerjaan yang paling tidak aku sukai, walaupun harus melakukan itu. Menawar harga bagiku teramat melelahkan, terutama jika yang dihadapi adalah pedagang  kecil  seperti di Sumba. Antara kasihan dan tidak membutuhkan barang tersebut, sungguh mengaduk-aduk perasaanku. Dan membeli karena kasihan ternyata tidaklah sehat. Sama seperti membeli barang yang tidak dibutuhkan, adalah pemubaziran. Tetapi, bagaimana jika tidak membeli, tak ada simpati sama sekali terhadap kehidupan mereka? Sebuah pilihan yang membingungkan. Akhirnya, kuputuskan saja membeli, untuk membeli  harapan pada masa depan mereka.

Aku dan anak-anak suku Loli, lucu-lucu, yaa..:)

Ketika esoknya  aku kembali untuk  terbang menuju  Denpasar, Bali. Bayangan anak-anak Sumba begitu menghentak-hentak jiwa, dan melukai seluruh perasaanku. Sementara aku tak sanggup berbuat apa-apa.


Pasti ini seru dan menyenangkan...:)







Minggu, 02 Februari 2014

Wisata di Sekeliling Kediamanku



Padang rumput di Tenau, Kupang, Nusa Tenggara Timur

Jika saya sedang berada di  kediaman kami di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang ada setiap hari adalah wisata alam. Bagaimana tidak, tempat yang kami tinggali terletak di atas bukit bersisian dengan padang rumput, di mana sapi, babi dan kambing biasa berkeliaran dan merumput. Burung-burung beterbangan di halaman rumah yang menghadap ke laut Timor. Terkadang, saya melihat migrasi kupu-kupu, juga mendengar suara jangkrik yang terdengar merdu.  Banyak "tamu" ke dalam rumah di samping lalat, jika jendela terbuka, yaitu belalang sembah, jangkring, lipan sampai kaki seribu. Di rumah juga ada tokek yang  suaranya lucu di telinga saya. Karenanya, rumah harus selalu bersih dan tertutup celah-celahnya, agar "para tamu" ini tidak rajin menyambangi.

Senja dari halaman rumah
Ketika tirai tersibak, jendela terbuka, saya melihat langit luas yang tak berbatas. Saya menikmati seluruh keindahannya, juga bulan serta bintang gemintang di malam hari.  Perahu nelayan dan kapal-kapal laut melintas dengan kerlip cahaya di malam hari, atau beriringan di siang hari. Saya melihat kehidupan sederhana  dengan kegembiraan, dan juga pengharapan di sini.

Rindang dedaunannya cantik, ya...

Tidak jauh dari kediaman kami  ada Gua Kera. Di sini kera-kera bebas berkeliaran. Kera-kera yang jinak dan lucu. Di bawah  Gua kera ada laut yang sangat jernih.  Saya biasa melihat ikan-ikan berenang dengan mata telanjang. Bahkan di Pelabuhan Tenau sekalipun, laut lumayan jernih. Tidak sulit melihat ikan-ikan berenang beriringan membentuk koloni-koloni.

Memotret di pagi hari, cahayanya kemilau keemasan.

Di dekat tempat saya tinggal juga ada padang ilalang. Ilalang-ilalang  yang tumbuh di musim hujan ini tidak berduri tajam. Ilalang yang halus. Dari kejauhan seperti permadani. Saya selalu mewajibkan diri untuk menngunjungi. Seperti ritual yang harus ditunaikan berulang kali. Tentu saja, saya mewajibkan ke diri sendiri, karena ini menjadi salah satu pusat-pusat keindahan yang membuat bathin saya merasa tenang.  Pada alam raya, saya selalu mendapatkan pelajaran untuk memaknai segala sesuatu. Alam adalah teman saya ‘meditasi’ yang menyelami  ‘hukum-hukumnya’ untuk dicerap ke dalam diri. Dari alam, saya belajar tentang keseimbangan, kelapangan juga keindahan. Alam bagi saya,  dialah guru sejati.
Padang ilalang dengan bunganya yang lembut dan menawan

Di samping padang ilalang, kediaman saya dekat dengan padang rumput yang berbatas langsung dengan laut.  Di sini saya mampu menghabiskan waktu berjam-jam. Rasanya,  waktu terlalu cepat untuk berlalu.  Saya menikmati serangga dan bunga-bunga mungil. Karenanya, sekalipun sering pergi sendiri ke tempat ini, saya tidak pernah merasa sendiri. Bagi saya, alam berbicara. Mereka berbicara selayak sahabat akrab, di dalam jiwa saya sendiri.

 
Indah bukan...?
Mungkin yang paling tidak begitu nyaman jika musim kemarau tiba. Padang-padang ini berubah menjadi padang yang teramat panas dan gersang. Tetapi, sudahlah, lupakan saja. Karena saya sedang ingin menikmati Tenau di pagi hari, ditemani gerimis tipis.  Gerimis tipis sering terasa begitu liris, juga melankolis. Tetapi, di padang-padang  ini, maafkan saya, sungguh saya sulit melankolis. Bahkan saya sudah lupa jika  saya  sedang berduka. Di sini duka   menjadi ilusi.  Karena di tempat ini  keindahan terasa lebih  nyata.


Menyusuri Sunyi di Sumlili, Kupang Barat

 Rumah adat Timor di Sumlili

Sebenarnya, ini kali ke dua saya menyambangi Sumlili, yang terletak di daerah Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur.  Menyusuri daerah ini, yang nampak hanya akan disuguhi suasana khas Pulau Timor. Rumah-rumah asli penduduk dan kegiatan memecah batu, yang merupakan mata pencaharian sebagian penduduknya.

Sebuah pemandangan menuju Pantai Sumlili

Kehidupan yang sederhana dilakoni penduduknya, seperti tak ada ujung. Apakah ada perubahan dalam status sosial ekonomi, ataukah tidak?  Potret-potret nyeri  ini sepertinya sudah tak diselami lagi di kedalaman hati mereka. Karena hidup harus berjalan, tanpa banyak keluhan.

Untuk memasuki Pantai Sumlili mobil harus melintas sungai ini.

Truk-truk pengangkut batu lalu lalang di jalanan terjal. Bila musim kemarau, jalanan berdebu itu melesatkan debu-debu ke udara. Tetapi jika jalanan hujan, jalan tersebut menjadi becek berlumpur.  Untuk sampai di pantai Sumlili, bahkan saya harus mewati sebuah jalan yang telah berubah menjadi sungai.  Beberapa orang nampak mencuci  sepeda motornya di sini.

Saya dan suami di padang rumput di Sumlili, difoto oleh Mumu

Saya membayangkan, seandainya Sumlili ada di Pulau Jawa, kemungkinan besar sudah menjadi salah satu tempat wisata favorit. Hotel dan villa akan bertebaran di sini, juga kedai-kedai, restaurant dan toko-toko yang menjual aneka kerajinan. Sepanjang jalan yang dilalui disuguhi padang-padang rumput tumbuhan khas NTT, dengan sembulan bebatuan yang menghitam. Padang-padang rumput ini membaluti bukit-bukit, di mana sapi-sapi asyik merumput dengan tenang.

Saya dan Mumu di padang rumput  dengan pemandangan laut Sumlili.
difoto oleh suamiku
Tetapi, dalam perjalanan  semakin mendekat ke pantai  Sumlili yang ada hanyalah sunyi.  Desir angin terdengar berderak-derak dalam sibak dedaunan dan reranting.  Hanya itu. Sesekali diselingi deru suara sepeda motor dan truk-truk . Itu pun tidak banyak.Dari perbukitan di kejauhan nampak telihat jelas, laut Sumlili yang berwarna biru dan biru tosca di pagi hari menawarkan kesejukan mata memandang.  Begitu harmoni dengan warna-warna alam di pebukitan.

Berjalan di Pantai Sumlili. Pasir halus bercampur aneka warna-warni bebatuan.
Saya difoto oleh Mumu

Namun begitu senja menjelang, jika matahari akan tenggelam, pantai  dan laut ini seperti lukisan yang memantulkan warna langit dengan pendar-pendar warna yang indah dan cemerlang. Sungguh, senja yang sangat mengagumkan.

Sumlili di senja hari. (difoto: suamiku)

Area pantainya  cukup luas. Entah di pagi hari atau pun sore hari, pantai Sumlili begitu nyaman ditelusuri dengan berjalan kaki.  Ada sebuah sungai yang  dangkal, sekalipun di waktu hujan. Jika kemarau tiba, sungai ini terkadang mongering. Di sinilah para penambang-penambang batu dan pasir mendapatkan penghidupan. Semua sudah disediakan alam. Di Sumlili yang perlu dihujamkan ke dalam diri penduduknya adalah kemauan.

Lembayung senja di Sumlili

Negeri ini sungguh indah. Sayang, kita bukan orang-orang yang pandai mensyukurinya dengan cara memaksimalkan seluruh potensinya.



Rabu, 22 Januari 2014

Berpetualang di Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur


Reranting menatap matahari tenggelam di Pulau Semau

Biasanya, saya melihat Pulau  Semau, salah satu pulau di Kepulauan Nusa Tenggara Timur ini dari jendela pesawat menuju Jakarta.   Pulau Semau juga,  selalu saya  tatap dari halaman kediaman kami bila saya sedang berada di Kupang.   Matahari  terbenam  tepat di balik pulau Semau setiap hari.  Tentu, ini menjadi pemandangan alam yang menakjubkan pada senja hari. Semburat cahaya dengan pendar-pendar warna di sini  menjadi penghiburan liris menjelang malam tiba.  Pemandangan suasana khas Nusa Tenggara adalah pemandangan langka  bagi saya yang sehari-hari berada di Bandung.


Matahari tenggelam di balik Pulau Semau. Memotret di halaman rumah.

Sebenarnya, beberapa kali saya mengajukan permohonan kepada suami  untuk mengizinkan saya mengunjungi pulau ini. Rupanya, ia masih berat hati. Alasannya sangat kuat, karena tak ada tranportasi di Pulau Semau, infrastrukturnya masih buruk.  Tempat   yang dihuni suku Helong ini masih terbelakang,  Untuk mencapai pulau ini,  dalam musim tertentu ombaknya cukup besar, dan arusnya kuat. Beberapa perahu bahkan pernah tenggelam di perairan Semau. 


Akhirnya, hati suami saya luluh juga, ketika saya mengajukan kembali keinginan untuk menjelajah tempat ini.  Saya  sangat maklum, suami saya bukan type  penikmat alam. Namun kali ini ia  berbeda. Ia mau mengikuti keinginan istrinya, sekaligus menemani.   


Sejak malam hari, saya sudah menyiapkan makanan, karena suami saya mendapat informasi bahwa di sana tak ada warung untuk kami makan. Saya tidak ingin merepotkan siapa pun di sana nanti.   Saya siapkan empat bungkus nasi, kue dan air minum. Kami akan pergi berempat, bersama  salah seorang  pegawai kantor suami berasal dari sana, Pak Paulus Pong dan keponakannya. Pak Pong adalah seorang tuan tanah di Pulau Semau. Sementara posisi di kantor suami  sebagai pelayan. Namun di kampungnya, ia orang yang sangat kaya raya untuk ukuran suku Helong. Hebat bukan? Dari beliaulah seluruh informasi tentang pulau ini di dapatkan.


Pagi hari, kami sudah berada di Pelabuhan Tenau.  Beberapa perahu motor berjajar menunggu penumpang  menuju Pulau Semau.  Kami Tidak segera  naik ke perahu, karena harus menunggu penumpang lain. Perahu motor menuju Pulau Semau selayak angkutan pedesaan, yang menunggu penuh dulu sebelum berangkat. Lebih dari tiga puluh menit kami menunggu, setelah itu kami naik dengan membawa serta   dua sepeda motor. Satu sepeda motor dikenakan biaya Rp. 40.000,00.  Sedangkan ongkos per orang, Rp. 20.000,00.   Lucunya, bila bawa satu sepeda motor dengan dua orang penumpang dikenakan ongkos Rp. 40.000,00. Jadi sepeda motor jadinya gratis.


Perahu yang saya tumpangi lumayan bersih, biasanya di dalamnya turut serta binatang-binatang ternak, dan lainnya. Saya satu perahu dengan Pendeta  Martha yang akan memimpin kebaktian di Gereja Imanuel, dan beberapa penumpang lain. Lautan begitu tenang. Burung-burung camar nampak melayang-layang di udara. Yang terasa mengganggu hanyalah deru suara perahu motor yang memekakan telinga.

Dermaga kecil di Pulau Semau. Perahu yang kutumpangi merapat di sini

Akhirnya, sekitar 50 menit kemudian,  kami sampai di dermaga Pulau Semau. Dermaga yang sangat sederhana. Motor-motor digotong satu persatu ke atas.  Sungguh mengenaskan melihat awak kapal begitu susah payah mengangkatnya. Ini bukan pekerjaan yang ringan.  Saya pun turun dari perahu, dan memandang sekeliling, yang ada hanya hutan ilalang yang gersang.  Jalanan kecil terbuat dari tanah berbatu. Kami  menyusurinya.  Saya merasa terlempar pada beberapa abad ke belakang.


Sebuah rumah suku Helong di atas bukit yang gersang

Rumah-rumah sederhana suku Helong dilalu.  Saya menatapnya dengan  takjub. Bagaimana bisa mereka bertahan di Pulau yang seakan jauh dari peradaban ini?  Semakin masuk ke pedalaman, yang ada hanyalah gersang.

Hampir semua jalanan seperti ini

Jalanan berdebu dan panas memanggang, padahal ini masih jam 08-an pagi.  Suami saya tak bisa melajukan motor cepat-cepat. Semakin cepat laju motor, hanya membuat debu-debu jalanan tumpah ruah ke udara.  Sempat berpikir, bagaimana suku Helong ini mencari rezeki. Ini pulau yang teramat tandus.  Apa yang mereka makan?


Pantai Otan. Bersih dan sepi...

Oh, ternyata, di ujung pantai Otan, Pulau Semau, ada budi daya mutiara milik sebuah perusahaan swasta, di sana sebagian penduduk bekerja. Sebagian lainnya, mereka bekerja sebagai petani rumput laut. Yang lainnya, entah apa. Tetapi saya melihat ada pohon asem tumbuh dengan baik, juga pohon mangga.


Pantai Otan. Pantai yang sangat menawan. Lautnya biru bening.  Pasirnya putih bersih, dan tiupan anginnya bagai nyanyian.  Area pantainya  juga lumayan luas. Bisa bermain dan berenang di sini dalam jarak tertentu. Sepi, lagi..


Danau Otan yang mungil

Tak jauh dari pantai Otan, ada danau kecil yang dihuni oleh empat ekor penyu dan ikan-ikan semacam nila yang dikeramatkan.  Ini danau air asin yang terletak di dalam hutan. Jangan berpikir tentang hutan belantara di Pulau Semau. Hutan di sini hanyalah ilalang dan pepohonan yang kebanyakan telah lelah dibakar terik mentari kemarau yang panjang. Namun,  ketika berada di danau Otan,  suasana berubah menjadi sejuk.


Salah satu dari empat ekor penyu di Danau Otan

Kami diajak Pak  Pong mengunjungi keluarganya. Keluarganya amat ramah. Karena waktu itu sedang musim mangga, kami disuguhi mangga yang sangat enak dan manis. Namanya mangga udang. Mungkin karena daging mangganya berwarna kemerahan. Mangga udang menjadi salah satu ciri khas tanaman di Pulau Semau. Saya tak pernah menemukan mangga seperti ini di Pulau Jawa.

"Pucuk jambu mete ini bisa dimakan." kataku ke dua perempuan Helong

Saya  tidak kesulitan berkomunikasi dengan suku Helong, karena banyak yang sudah bicara dalam bahasa Indonesia. Gereja-gereja juga mudah di temui, karena hampir seluruh penduduk di sini menganut ajaran Kristiani.  Hanya saja, adat jauh lebih dijunjung tinggi. Suku Helong terkenal karena kepercayaan pada mistiknya yang amat kental. Mereka masih mempercayai  dan menghormati arwah-arwah yang mungkin bagi orang seperti saya terasa janggal  dan tak masuk akal.

Ini bangunan yang terbagus di Pulau Semau, gereja...

Tak heran, sekalipun ajaran Kristiani memasuki kehidupan mereka, namun bukan berarti serta merta meninggalkan keyakinan lama. Misalnya dalam pernikahan ;  tak menikah di gereja juga sudah sah. Pernikahan itu sangat simpel sekali, kedua orang tua bertemu dan diketahui oleh kepala suku, selesai. Ada mahar yang dinamakan belis, semampu pihak lelaki. Jika mereka berpisah, ya, tak apa-apa, katanya. Itu sudah menjadi resiko kehidupan. Santai sekali.  Karena itu, menikah resmi bisa kapan-kapan saja, bahkan setelah memiliki beberapa anak.


Sisi lain Pulau Semau

Tidak banyak yang bisa saya telusuri dengan kunjungan waktu yang sangat pendek. Karena siang hari ombak di lautan sangat besar, membuat Pak Pong tidak tenang. Ia khawatir akan keselamatan kami semua. Kami harus segera pulang kembali ke Kupang. Sebenarnya, saya masih asyik di sini. Apalagi, keluarga Pak Pong mengajari saya bahasa Helong,  Mereka bilang, ‘Ibu, seandainya sebulan saja bersama kami, Ibu akan bisa berbicara bahasa kami.’ 

Dari jauh terlihat Pulau Timor...

Semoga  suatu hari saya akan kembali, ke  pulau kecil ini.